Belanja Online Makin Dinamis: Konsumen Beralih ke Video & Omnichannel di 2025
02 May 2025 |
06:39 WIB
Belanja online di Indonesia ternyata bukan hanya soal klik dan bayar. Tahun 2024, kebiasaan konsumen digital mengalami pergeseran menarik, dari waktu favorit berbelanja yang pindah ke jam istirahat siang, hingga makin populernya konten video sebagai alat bantu belanja.
SIRCLO, perusahaan penyedia solusi e-commerce merangkum sejumlah temuan penting dari lanskap e-commerce Indonesia selama 2024 sekaligus meramal arah tren di 2025.
Baca juga: Waspada Social Commerce Palsu, Begini 8 Cara Aman Belanja Online
Berdasarkan data internal SIRCLO, transaksi online sepanjang 2024 meningkat rata-rata 4,95 persen jumlah konsumen naik 6,8%. Angka ini sejalan dengan laporan e-Conomy SEA 2024 (Google, Temasek, dan Bain & Company) yang memprediksi ekonomi digital Indonesia bakal tembus US$90 miliar atau sekitar Rp1.430 triliun tahun ini dengan e-commerce sebagai kontributor utama.
Berikut tren dan lanskap ecommerce di Indonesia:
Gaya hidup digital tampaknya benar-benar memengaruhi pilihan belanja masyarakat. Tiga kategori produk yang paling diminati adalah barang kebutuhan harian (FMCG), produk kecantikan dan perawatan diri, serta produk ibu dan anak.
FMCG menjadi juara dengan lonjakan transaksi 90,45% dibanding tahun sebelumnya. Disusul kategori Beauty & Personal Care (62,07%) yang banyak didorong tren perawatan kulit alias skinnification dan influencer kecantikan, serta kategori Ibu & Anak yang tumbuh 35,52%.
Selain itu, festival belanja bertema tanggal kembar seperti 10.10 dan 11.11 masih jadi magnet utama. Transaksi selama momen ini melonjak hingga 71 persen dari tahun ke tahun. Promo gila-gilaan seperti diskon, cashback, hingga gratis ongkir menjadi jurus ampuh untuk menarik pembeli.
Jika dulu orang senang belanja online di malam hari, kini jam istirahat siang (sekitar pukul 12.00 WIB) dan selepas pulang kerja (sekitar pukul 19.00 WIB) jadi waktu favorit. Rupanya, fleksibilitas belanja lewat ponsel membuat aktivitas ini cocok jadi “teman” di sela makan siang atau santai sepulang kantor.
Transaksi non-tunai kini mendominasi: e-wallet (34%), transfer virtual account (10%), dan layanan paylater (8%). Meski begitu, COD masih digunakan di 37% transaksi. Ini menunjukkan bahwa meskipun digital payment makin digemari, metode pembayaran konvensional tetap punya tempat.
Melihat perkembangan saat ini, SIRCLO memprediksi dua hal akan jadi penentu pertumbuhan e-commerce pada 2025 yakni video commerce dan omnichannel.
Konten video, baik lewat live streaming, video pendek, hingga ulasan dari kreator diprediksi jadi senjata utama brand untuk memperkenalkan produk dan menarik pembeli. Platform seperti TikTok bahkan menyumbang hampir separuh GMV dari video commerce.
Di sisi lain, strategi omnichannel yang menggabungkan pengalaman belanja online dan offline menjadi penting untuk memperluas pasar, khususnya di luar Pulau Jawa. Wilayah ini mencatat pertumbuhan transaksi sebesar 80?lam empat tahun terakhir, meski tantangan logistik dan distribusi masih menjadi PR besar.
“Tren e-commerce 2025 membuka peluang inovasi besar. Konsumen tak cuma mencari kenyamanan, tapi juga pengalaman yang personal dan efisien,” ujar Brian Marshal, Founder dan CEO SIRCLO.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
SIRCLO, perusahaan penyedia solusi e-commerce merangkum sejumlah temuan penting dari lanskap e-commerce Indonesia selama 2024 sekaligus meramal arah tren di 2025.
Baca juga: Waspada Social Commerce Palsu, Begini 8 Cara Aman Belanja Online
Berdasarkan data internal SIRCLO, transaksi online sepanjang 2024 meningkat rata-rata 4,95 persen jumlah konsumen naik 6,8%. Angka ini sejalan dengan laporan e-Conomy SEA 2024 (Google, Temasek, dan Bain & Company) yang memprediksi ekonomi digital Indonesia bakal tembus US$90 miliar atau sekitar Rp1.430 triliun tahun ini dengan e-commerce sebagai kontributor utama.
Berikut tren dan lanskap ecommerce di Indonesia:
1. Tiga Kategori Favorit Konsumen Digital
Gaya hidup digital tampaknya benar-benar memengaruhi pilihan belanja masyarakat. Tiga kategori produk yang paling diminati adalah barang kebutuhan harian (FMCG), produk kecantikan dan perawatan diri, serta produk ibu dan anak. FMCG menjadi juara dengan lonjakan transaksi 90,45% dibanding tahun sebelumnya. Disusul kategori Beauty & Personal Care (62,07%) yang banyak didorong tren perawatan kulit alias skinnification dan influencer kecantikan, serta kategori Ibu & Anak yang tumbuh 35,52%.
2. Tanggal Kembar Masih Jadi Andalan
Selain itu, festival belanja bertema tanggal kembar seperti 10.10 dan 11.11 masih jadi magnet utama. Transaksi selama momen ini melonjak hingga 71 persen dari tahun ke tahun. Promo gila-gilaan seperti diskon, cashback, hingga gratis ongkir menjadi jurus ampuh untuk menarik pembeli.
3. Pergeseran Jam Belanja
Jika dulu orang senang belanja online di malam hari, kini jam istirahat siang (sekitar pukul 12.00 WIB) dan selepas pulang kerja (sekitar pukul 19.00 WIB) jadi waktu favorit. Rupanya, fleksibilitas belanja lewat ponsel membuat aktivitas ini cocok jadi “teman” di sela makan siang atau santai sepulang kantor.
4. Pembayaran Digital Makin Dominan
Transaksi non-tunai kini mendominasi: e-wallet (34%), transfer virtual account (10%), dan layanan paylater (8%). Meski begitu, COD masih digunakan di 37% transaksi. Ini menunjukkan bahwa meskipun digital payment makin digemari, metode pembayaran konvensional tetap punya tempat.
Tren eCommerce 2025: Tahun Video Commerce dan Strategi Omnichannel
Melihat perkembangan saat ini, SIRCLO memprediksi dua hal akan jadi penentu pertumbuhan e-commerce pada 2025 yakni video commerce dan omnichannel.Konten video, baik lewat live streaming, video pendek, hingga ulasan dari kreator diprediksi jadi senjata utama brand untuk memperkenalkan produk dan menarik pembeli. Platform seperti TikTok bahkan menyumbang hampir separuh GMV dari video commerce.
Di sisi lain, strategi omnichannel yang menggabungkan pengalaman belanja online dan offline menjadi penting untuk memperluas pasar, khususnya di luar Pulau Jawa. Wilayah ini mencatat pertumbuhan transaksi sebesar 80?lam empat tahun terakhir, meski tantangan logistik dan distribusi masih menjadi PR besar.
“Tren e-commerce 2025 membuka peluang inovasi besar. Konsumen tak cuma mencari kenyamanan, tapi juga pengalaman yang personal dan efisien,” ujar Brian Marshal, Founder dan CEO SIRCLO.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.