Perempuan di SAR, Perjuangan dan Ketangguhan Rida di Balik Misi Penyelamatan
21 April 2025 |
21:00 WIB
Dunia Search and Rescue (SAR) kini tidak lagi menjadi ranah eksklusif laki-laki. Perempuan pun mulai mengambil peran penting dalam medan yang penuh risiko dan tantangan ekstrem ini. Di antara mereka adalah Rida Robiatul Adawiyah, sosok tangguh yang kini bertugas sebagai anggota BASARNAS di Pos SAR Tasikmalaya, Jawa Barat.
Rida bukan hanya hadir sebagai simbol keberagaman gender dalam dunia SAR, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa perempuan mampu berdiri di garis depan dalam misi-misi penyelamatan yang mengandalkan ketangguhan fisik dan mental. Dengan dedikasi tinggi, ia telah terlibat dalam berbagai operasi evakuasi, dari kecelakaan hingga bencana alam yang membutuhkan respon cepat dan terkoordinasi.
Baca juga: Kartini di Jalanan Ibu Kota, Ketika Perempuan Mengambil Alih Kemudi
Perjalanan Rida di BASARNAS dimulai pada 2015. Saat itu, niat awalnya cukup sederhana, ia hanya ingin mencari pekerjaan melalui jalur Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Namun tak disangka, langkahnya justru membawanya ke jalur yang jauh lebih menantang dari bayangannya semula.
Ia menemukan formasi yang cocok dengan latar belakang pendidikannya di bidang olahraga, dan dari situlah petualangan kariernya di dunia SAR bermula. Rida pun menjalani berbagai pelatihan keras dan disiplin tinggi, membekali dirinya untuk siap menghadapi medan-medan ekstrem yang menjadi bagian dari tugas sehari-hari.
Dengan semangat dan fisik yang kuat, Rida yang ketika itu menjadi seorang atlet basket, mengikuti serangkaian tes berat, mulai dari tes renang hingga ketahanan fisik. Saat diterima, barulah dia menyadari bahwa pekerjaannya jauh lebih luas dari sekadar mencari orang hilang.
“Awalnya saya pikir BASARNAS hanya bertugas mencari korban kecelakaan pesawat atau bencana alam. Tapi setelah masuk, saya baru tahu bahwa kami juga menangani pencarian di gunung, laut, sungai, dan berbagai situasi ekstrem lainnya,” kenang wanita kelahiran 1 Juli 1994.
Menjadi perempuan dalam profesi yang mayoritas diisi laki-laki tentu bukan hal mudah. Di awal bertugas, Rida kerap merasakan perbedaan, terutama dalam hal daya tahan fisik. Namun, dia tidak ingin dipandang lemah.
“Di BASARNAS, tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan itu sama. Kami semua harus turun ke lapangan, menghadapi situasi sulit, dan menyelesaikan misi penyelamatan tanpa pengecualian,” ujarnya.
Tantangan mental pun tak kalah berat. Rida mengaku, sebagai perempuan, dia lebih mudah terbawa perasaan saat menghadapi keluarga korban. Sementara rekan-rekan laki-lakinya bisa bersikap lebih tegas dalam menuntaskan tugas, Rida sering kali harus mengendalikan emosinya agar tetap profesional.
Bekerja sebagai penyelamat di BASARNAS juga tidak hanya soal keberanian, tetapi juga kesiapan menghadapi berbagai situasi berbahaya. Salah satu pengalaman yang paling mendebarkan bagi Rida saat dia bertugas di Gunung Sawal, sebuah wilayah konservasi yang masih dihuni oleh macan kumbang dan macan tutul.
Kala itu, tim BASARNAS mendapat laporan tentang seorang pendaki yang hilang di kawasan hutan gunung tersebut. Bersama masyarakat lokal, Rida ikut serta dalam operasi pencarian. "Kami tahu bahwa wilayah itu adalah habitat alami hewan buas. Tapi, bagaimanapun juga, orang hilang harus dicari," kenangnya.
Berada di tengah hutan belantara dengan ancaman hewan buas bukanlah situasi yang bisa dianggap sepele. Namun, bagi Rida, ketakutan bukan alasan untuk mundur. Sebagai satu-satunya perempuan dalam tim pencarian saat itu, dia tetap melangkah maju, menembus medan sulit, hingga tanpa sadar memasuki area pelepasliaran satwa liar.
"Untung saya bisa balik. Kalau enggak, mungkin ceritanya akan berbeda," kenangnya.
Tak hanya tantangan alam, Rida juga pernah mengalami pengalaman unik saat bertugas. Suatu ketika, dalam operasi pencarian anak yang tenggelam di Karawang, seorang "orang pintar" menuduh keberadaannya di perahu sebagai penyebab korban belum ditemukan.
“Kata mereka, karena ada perempuan di atas perahu, mayatnya enggak akan muncul. Komandan saya sampai bilang, ‘Rida, besok enggak usah naik perahu dulu ya.’ Saya ketawa saja, karena saya tahu tugas saya di sini bukan soal mitos, tapi soal kerja nyata,” katanya sambil tertawa.
Kini, Rida telah menikah, tetapi tugasnya di BASARNAS tetap menjadi bagian penting dalam hidupnya. Keluarga, tentu khawatir dengan risiko pekerjaannya tetapi mereka tetap mendukung jalan yang telah diambil olehnya.
“Risiko di BASARNAS itu nyawa, jadi saya harus ekstra hati-hati. Tapi saya sudah memilih jalan ini, dan saya menjalaninya dengan penuh tanggung jawab,” katanya.
Bagi Rida, bekerja di BASARNAS bukan hanya soal mencari nafkah, tetapi juga tentang panggilan hati. Setiap kali berhasil menyelamatkan seseorang, dia merasa mendapatkan hadiah yang tidak bisa diukur dengan materi.
“Di satu sisi saya bekerja untuk mencari nafkah, tapi di sisi lain saya juga mendapat kepuasan batin karena bisa membantu orang lain,” ujarnya.
Baca juga: Lebih Dekat dengan Nadia Aisza, Sosok 'Kartini' Penjaga Kedaulatan Negeri
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Rida bukan hanya hadir sebagai simbol keberagaman gender dalam dunia SAR, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa perempuan mampu berdiri di garis depan dalam misi-misi penyelamatan yang mengandalkan ketangguhan fisik dan mental. Dengan dedikasi tinggi, ia telah terlibat dalam berbagai operasi evakuasi, dari kecelakaan hingga bencana alam yang membutuhkan respon cepat dan terkoordinasi.
Baca juga: Kartini di Jalanan Ibu Kota, Ketika Perempuan Mengambil Alih Kemudi
Perjalanan Rida di BASARNAS dimulai pada 2015. Saat itu, niat awalnya cukup sederhana, ia hanya ingin mencari pekerjaan melalui jalur Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Namun tak disangka, langkahnya justru membawanya ke jalur yang jauh lebih menantang dari bayangannya semula.
Ia menemukan formasi yang cocok dengan latar belakang pendidikannya di bidang olahraga, dan dari situlah petualangan kariernya di dunia SAR bermula. Rida pun menjalani berbagai pelatihan keras dan disiplin tinggi, membekali dirinya untuk siap menghadapi medan-medan ekstrem yang menjadi bagian dari tugas sehari-hari.
Dengan semangat dan fisik yang kuat, Rida yang ketika itu menjadi seorang atlet basket, mengikuti serangkaian tes berat, mulai dari tes renang hingga ketahanan fisik. Saat diterima, barulah dia menyadari bahwa pekerjaannya jauh lebih luas dari sekadar mencari orang hilang.
“Awalnya saya pikir BASARNAS hanya bertugas mencari korban kecelakaan pesawat atau bencana alam. Tapi setelah masuk, saya baru tahu bahwa kami juga menangani pencarian di gunung, laut, sungai, dan berbagai situasi ekstrem lainnya,” kenang wanita kelahiran 1 Juli 1994.
Menjadi perempuan dalam profesi yang mayoritas diisi laki-laki tentu bukan hal mudah. Di awal bertugas, Rida kerap merasakan perbedaan, terutama dalam hal daya tahan fisik. Namun, dia tidak ingin dipandang lemah.
“Di BASARNAS, tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan itu sama. Kami semua harus turun ke lapangan, menghadapi situasi sulit, dan menyelesaikan misi penyelamatan tanpa pengecualian,” ujarnya.
Tantangan mental pun tak kalah berat. Rida mengaku, sebagai perempuan, dia lebih mudah terbawa perasaan saat menghadapi keluarga korban. Sementara rekan-rekan laki-lakinya bisa bersikap lebih tegas dalam menuntaskan tugas, Rida sering kali harus mengendalikan emosinya agar tetap profesional.
Bekerja sebagai penyelamat di BASARNAS juga tidak hanya soal keberanian, tetapi juga kesiapan menghadapi berbagai situasi berbahaya. Salah satu pengalaman yang paling mendebarkan bagi Rida saat dia bertugas di Gunung Sawal, sebuah wilayah konservasi yang masih dihuni oleh macan kumbang dan macan tutul.
Kala itu, tim BASARNAS mendapat laporan tentang seorang pendaki yang hilang di kawasan hutan gunung tersebut. Bersama masyarakat lokal, Rida ikut serta dalam operasi pencarian. "Kami tahu bahwa wilayah itu adalah habitat alami hewan buas. Tapi, bagaimanapun juga, orang hilang harus dicari," kenangnya.
Berada di tengah hutan belantara dengan ancaman hewan buas bukanlah situasi yang bisa dianggap sepele. Namun, bagi Rida, ketakutan bukan alasan untuk mundur. Sebagai satu-satunya perempuan dalam tim pencarian saat itu, dia tetap melangkah maju, menembus medan sulit, hingga tanpa sadar memasuki area pelepasliaran satwa liar.
"Untung saya bisa balik. Kalau enggak, mungkin ceritanya akan berbeda," kenangnya.
Tak hanya tantangan alam, Rida juga pernah mengalami pengalaman unik saat bertugas. Suatu ketika, dalam operasi pencarian anak yang tenggelam di Karawang, seorang "orang pintar" menuduh keberadaannya di perahu sebagai penyebab korban belum ditemukan.
“Kata mereka, karena ada perempuan di atas perahu, mayatnya enggak akan muncul. Komandan saya sampai bilang, ‘Rida, besok enggak usah naik perahu dulu ya.’ Saya ketawa saja, karena saya tahu tugas saya di sini bukan soal mitos, tapi soal kerja nyata,” katanya sambil tertawa.
Kini, Rida telah menikah, tetapi tugasnya di BASARNAS tetap menjadi bagian penting dalam hidupnya. Keluarga, tentu khawatir dengan risiko pekerjaannya tetapi mereka tetap mendukung jalan yang telah diambil olehnya.
“Risiko di BASARNAS itu nyawa, jadi saya harus ekstra hati-hati. Tapi saya sudah memilih jalan ini, dan saya menjalaninya dengan penuh tanggung jawab,” katanya.
Bagi Rida, bekerja di BASARNAS bukan hanya soal mencari nafkah, tetapi juga tentang panggilan hati. Setiap kali berhasil menyelamatkan seseorang, dia merasa mendapatkan hadiah yang tidak bisa diukur dengan materi.
“Di satu sisi saya bekerja untuk mencari nafkah, tapi di sisi lain saya juga mendapat kepuasan batin karena bisa membantu orang lain,” ujarnya.
Baca juga: Lebih Dekat dengan Nadia Aisza, Sosok 'Kartini' Penjaga Kedaulatan Negeri
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.