Singapura Jadi Magnet Pekerja Indonesia di Asia Tenggara, Kok Bisa?
15 April 2025 |
12:15 WIB
Di antara banyak negara di Asia Tenggara, Singapura masih jadi pilihan favorit bagi orang Indonesia yang ingin merantau untuk bekerja terutama di sektor formal. Berdasarkan survei Populix terhadap 1.000 responden, sekitar 82% mereka menyebut Singapura sebagai tujuan utama. Negara tetangga lain seperti Malaysia, Brunei, dan Thailand juga cukup menarik minat, meskipun angkanya jauh lebih kecil.
CEO & Co-Founder Populix Timothy Astandu menjelaskan bahwa kebanyakan pekerja formal Indonesia yang ingin mencoba peruntungan di luar negeri cenderung memilih negara-negara Asia. Survei menunjukkan bahwa 67% responden tertarik pada kawasan Asia, diikuti oleh Eropa (52%), Australia dan wilayah Oseania (32%), serta Timur Tengah (16%).
Baca juga: Hypereport: Bekerja di Luar Negeri, Persiapan Matang & Bekal Diri Jadi Kunci
Alasan utamanya adalah harapan untuk mendapat gaji lebih tinggi (79%), kesempatan untuk berkembang secara profesional (58%), serta keamanan dan kestabilan negara tujuan (55%). Khusus di Asia Tenggara, Singapura masih unggul jauh. Sebanyak 8 dari 10 responden mempertimbangkan negara ini, diikuti oleh Malaysia (32%), Brunei (26%), dan Thailand (16%).
Menurut Timothy, tidak mengherankan jika Singapura menjadi magnet bagi pekerja Indonesia karena negara tersebut dikenal memiliki ekonomi yang kuat serta standar gaji yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Indonesia dan negara tetangga lainnya. “Apabila dibandingkan, minat kerja ke Singapura dengan negara tetangga lainnya, terpaut sangat jauh. Bahkan hingga kurang dari setengahnya,” tegas Timothy.
Survei ini juga menunjukkan bahwa banyak orang Indonesia memandang kerja di luar negeri sebagai cara untuk meningkatkan kualitas hidup baik dari sisi finansial, karier, maupun kenyamanan hidup. Tapi tentu saja, prosesnya tidak mudah. Tantangan seperti perbedaan budaya, bahasa, biaya hidup yang tinggi, serta sistem kerja yang berbeda menjadi kekhawatiran tersendiri. Meski begitu, sektor formal seperti pekerjaan kantoran, pemasaran, penjualan, dan layanan pelanggan tetap jadi incaran utama.
Sementara itu, sektor teknologi juga tak luput dari sorotan. Beberapa tahun terakhir, tren tech winter atau penurunan drastis di industri teknologi berdampak besar di Indonesia. Banyak perusahaan IT mengurangi jumlah karyawan yang membuat talenta digital lokal mencari peluang baru termasuk di luar negeri.
Singapura kembali muncul sebagai destinasi utama. Dari kalangan profesional IT yang disurvei, sekitar 91% menyebut Singapura sebagai pilihan pertama. Gaji tinggi dan stabilitas kerja menjadi motivasi utama, sementara keahlian yang ditawarkan mencakup coding, data analysis, AI, dan machine learning.
Baca juga: Hypereport: 10 Pekerjaan dengan Gaji Tertinggi di Indonesia Tahun 2025
Pemerintah Singapura juga mendukung perkembangan sektor ini lewat program seperti New Enterprise Compute Initiative yang menyediakan dana besar untuk mendorong adopsi AI di dunia bisnis. Ditambah lagi, adanya kerja sama Tech:X antara Indonesia dan Singapura memungkinkan tenaga kerja digital dari kedua negara untuk bekerja lintas batas selama satu tahun.
Di sisi lain, meningkatnya jumlah pekerja migran juga berdampak pada peningkatan perpindahan kewarganegaraan. Data menunjukkan ribuan WNI berpindah menjadi warga negara Singapura di mana sebagian besarnya berusia produktif.
“Layaknya dua sisi mata uang, di satu sisi para pekerja migran bisa mendatangkan devisa sambil meningkatkan kesejahteraan keluarganya. Namun, di sisi lain Indonesia dapat kehilangan banyak talenta lokal berpotensi dan berkualitas,” kata Timothy.
CEO & Co-Founder Populix Timothy Astandu menjelaskan bahwa kebanyakan pekerja formal Indonesia yang ingin mencoba peruntungan di luar negeri cenderung memilih negara-negara Asia. Survei menunjukkan bahwa 67% responden tertarik pada kawasan Asia, diikuti oleh Eropa (52%), Australia dan wilayah Oseania (32%), serta Timur Tengah (16%).
Baca juga: Hypereport: Bekerja di Luar Negeri, Persiapan Matang & Bekal Diri Jadi Kunci
Alasan utamanya adalah harapan untuk mendapat gaji lebih tinggi (79%), kesempatan untuk berkembang secara profesional (58%), serta keamanan dan kestabilan negara tujuan (55%). Khusus di Asia Tenggara, Singapura masih unggul jauh. Sebanyak 8 dari 10 responden mempertimbangkan negara ini, diikuti oleh Malaysia (32%), Brunei (26%), dan Thailand (16%).
Menurut Timothy, tidak mengherankan jika Singapura menjadi magnet bagi pekerja Indonesia karena negara tersebut dikenal memiliki ekonomi yang kuat serta standar gaji yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Indonesia dan negara tetangga lainnya. “Apabila dibandingkan, minat kerja ke Singapura dengan negara tetangga lainnya, terpaut sangat jauh. Bahkan hingga kurang dari setengahnya,” tegas Timothy.
Survei ini juga menunjukkan bahwa banyak orang Indonesia memandang kerja di luar negeri sebagai cara untuk meningkatkan kualitas hidup baik dari sisi finansial, karier, maupun kenyamanan hidup. Tapi tentu saja, prosesnya tidak mudah. Tantangan seperti perbedaan budaya, bahasa, biaya hidup yang tinggi, serta sistem kerja yang berbeda menjadi kekhawatiran tersendiri. Meski begitu, sektor formal seperti pekerjaan kantoran, pemasaran, penjualan, dan layanan pelanggan tetap jadi incaran utama.
Sementara itu, sektor teknologi juga tak luput dari sorotan. Beberapa tahun terakhir, tren tech winter atau penurunan drastis di industri teknologi berdampak besar di Indonesia. Banyak perusahaan IT mengurangi jumlah karyawan yang membuat talenta digital lokal mencari peluang baru termasuk di luar negeri.
Singapura kembali muncul sebagai destinasi utama. Dari kalangan profesional IT yang disurvei, sekitar 91% menyebut Singapura sebagai pilihan pertama. Gaji tinggi dan stabilitas kerja menjadi motivasi utama, sementara keahlian yang ditawarkan mencakup coding, data analysis, AI, dan machine learning.
Baca juga: Hypereport: 10 Pekerjaan dengan Gaji Tertinggi di Indonesia Tahun 2025
Pemerintah Singapura juga mendukung perkembangan sektor ini lewat program seperti New Enterprise Compute Initiative yang menyediakan dana besar untuk mendorong adopsi AI di dunia bisnis. Ditambah lagi, adanya kerja sama Tech:X antara Indonesia dan Singapura memungkinkan tenaga kerja digital dari kedua negara untuk bekerja lintas batas selama satu tahun.
Di sisi lain, meningkatnya jumlah pekerja migran juga berdampak pada peningkatan perpindahan kewarganegaraan. Data menunjukkan ribuan WNI berpindah menjadi warga negara Singapura di mana sebagian besarnya berusia produktif.
“Layaknya dua sisi mata uang, di satu sisi para pekerja migran bisa mendatangkan devisa sambil meningkatkan kesejahteraan keluarganya. Namun, di sisi lain Indonesia dapat kehilangan banyak talenta lokal berpotensi dan berkualitas,” kata Timothy.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.