Kisah Diaspora pada Suatu Masa Jadi Refleksi Tren #KaburAjaDulu
05 March 2025 |
18:51 WIB
Tagar #KaburAjaDulu belakangan ini viral di linimasa media sosial Indonesia. Bentuk protes masyarakat terhadap kebijakan pemerintahan baru yang dianggap mengecewakan itu, adalah sebuah ajakan untuk mencari peluang hidup yang lebih baik di luar negeri alias menjadi diaspora.
Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang akhirnya menjadi diaspora. Faktor ekonomi biasanya menjadi alasan utama. Namun, bencana alam, kisruh politik, hingga konflik juga bisa menjadi penyebab seseorang melakukan migrasi.
Baca juga: Tren #KaburAjaDulu, Pelajar Indonesia di Eropa Ini Pilih Ikuti Langkah B.J. Habibie
Seniman Amin Taasha (29) adalah salah satunya. Amin adalah perupa asal Bamiyan, Afghanistan, yang kini menetap di Yogyakarta. Di tempat kelahirannya, pada suatu masa merupakan lokasi situs warisan dunia berupa patung Buddha gigantik yang masyhur.
Namun, pada 2001 dinamit menghancurkannya tanpa sisa. Taliban, disebut-sebut sebagai biang kehancuran situs ini. Negeri surga itu, beberapa dekade terakhir memang koyak oleh perang, dan Amin besar di tengah gejolak tersebut.
Syahdan, keberuntungan berpihak padanya. Pada 2013, di tengah konflik yang tak berkesudahan, Amin mendapat beasiswa ke Indonesia. Sebagai mahasiswa internasional, dia mempelajari budaya dan bahasa di Universitas Negeri Semarang, dan melanjutkan pendidikan seni di ISI Yogyakarta.
Arkian, dia juga meneruskan izin tinggal dan menetap di kota Gudeg. Momen ini juga semakin lengkap setelah mendapat istri orang Indonesia. Sebagai seniman diaspora, Amin pun mengaku betah tinggal di Indonesia. Terlebih setelah dia dikaruniai anak.
Amin, hanyalah segelintir orang yang 'terpaksa' menjadi diaspora. Di Indonesia, para diaspora, pengungsi, dan pencari suaka lain, biasanya hanya menjadikan negeri ini sebagai tempat transit. Namun, tak jarang juga yang memilih menetap lalu menjadi WNI.
"Sesuai aturan Undang-undang, anak saya saat ini memiliki dua kewarganegaraan [Afganistan dan Indonesia] sampai umur 18 nanti dia bisa memilih sendiri untuk memilih jadi warga negara mana," katanya.
Cerita lain tentang fenomena ini juga datang dari Katharina Stogmuller (27). Kathi, begitu bisa dia dipanggil, adalah anak hasil perkawinan campur dari ibu Indonesia dan ayah Austria. Dia menjadi WNI pada 2018 saat berusia 20 tahun.
Ihwal kewarganegaraan Indonesia dipilih untuk memudahkannya menempuh pendidikan di bangku kuliah. Selain itu, keputusan untuk menjadi WNI ini dilakukan agar dia tidak bolak-balik ke kedutaan untuk mengurus izin tinggalnya di Yogyakarta.
"Sebenarnya aku sudah dianggap [warga negara] Indonesia oleh Austria. Aku punya dua kewarganegaraan. Tapi aku merasa mendapat perlakuan kayak masih seperti WNA. Padahal aku sudah tinggal lama di Indonesia," katanya.
Kathi memang lahir di Austria pada 1997. Namun, saat berusia 4 tahun, dia diboyong kedua orang tuanya ke Yogyakarta pada 2001. Di kota Gudeg inilah, Kathi kemudian tumbuh dan besar di lingkungan yang kosmopolit, meski bahasa sehari-hari yang digunakan adalah Jawa.
Sebagai anak yang lahir dari kewarganegaraan campur, Kathi juga sempat mengalami gegar budaya. Fisiknya yang bule juga membuatnya dipandang beda oleh teman, atau masyarakat di sekitar tempatnya tinggal. Dia mendapat perlakuan beda sebagai liyan.
Momen inilah yang akhirnya dituangkan ke dalam buku bertajuk Ich Komme aus Sewon (2021), atau Aku dari Sewon. Kathi misalnya, saat kecil dianggap bodoh karena tidak bisa berbahasa Inggris. Sebab, orang di sekitarnya berasumsi, setiap bule pasti jago berbahasa Inggris.
Namun, yang terang ayah Kathi yang orang Austria justru lebih sering mengajaknya berbicara dalam bahasa Indonesia. Begitu pula ibunya yang orang Yogyakarta, yang memilih untuk mengajarkan Bahasa Indonesia dan Jawa sebagai bahasa percakapan sehari-hari.
Kisah lainnya juga dituang Kathi dalam podcast Serat Katharina. Di sini dia banyak menuangkan keresahan sebagai anak perkawinan campur berdasarkan stereotip umum masyarakat. Termasuk juga saat bagaimana mereka mengurus administrasi untuk menjadi WNI.
Baca juga: Update Terbaru! Ini 76 Negara Bebas Visa Buat Genhype yang Mau #KaburAjaDulu
Belum lama ini, Kathi juga ikut membantu pengurusan naturalisasi adiknya yang ingin pindah menjadi WNI. Berbeda dari zamannya, saat ini prosedurnya papar Kathi, justru lebih rumit dari awal pengajuan hingga diterima oleh keimigrasian karena ada berbagai persyaratan yang berubah.
"Kalau yang pas pengurusan zaman saya tidak begitu rumit seperti sekarang. Dulu dari kedutaan Austria mintanya hanya surat legalisir, tapi sekarang di-apostille. Pengalaman saya saat itu kurang lebih membutuhkan waktu 3 bulan untuk naturalisasi," katanya.
Editor: Fajar Sidik
Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang akhirnya menjadi diaspora. Faktor ekonomi biasanya menjadi alasan utama. Namun, bencana alam, kisruh politik, hingga konflik juga bisa menjadi penyebab seseorang melakukan migrasi.
Baca juga: Tren #KaburAjaDulu, Pelajar Indonesia di Eropa Ini Pilih Ikuti Langkah B.J. Habibie
Seniman Amin Taasha (29) adalah salah satunya. Amin adalah perupa asal Bamiyan, Afghanistan, yang kini menetap di Yogyakarta. Di tempat kelahirannya, pada suatu masa merupakan lokasi situs warisan dunia berupa patung Buddha gigantik yang masyhur.
Namun, pada 2001 dinamit menghancurkannya tanpa sisa. Taliban, disebut-sebut sebagai biang kehancuran situs ini. Negeri surga itu, beberapa dekade terakhir memang koyak oleh perang, dan Amin besar di tengah gejolak tersebut.

Seniman Amin Taasha berpose seusai wawancara dengan Hypeabis.id di Jakarta, Rabu (15/11/2023). (sumber gambar: Hypeabis.id/Abdurachman)
Syahdan, keberuntungan berpihak padanya. Pada 2013, di tengah konflik yang tak berkesudahan, Amin mendapat beasiswa ke Indonesia. Sebagai mahasiswa internasional, dia mempelajari budaya dan bahasa di Universitas Negeri Semarang, dan melanjutkan pendidikan seni di ISI Yogyakarta.
Arkian, dia juga meneruskan izin tinggal dan menetap di kota Gudeg. Momen ini juga semakin lengkap setelah mendapat istri orang Indonesia. Sebagai seniman diaspora, Amin pun mengaku betah tinggal di Indonesia. Terlebih setelah dia dikaruniai anak.
Amin, hanyalah segelintir orang yang 'terpaksa' menjadi diaspora. Di Indonesia, para diaspora, pengungsi, dan pencari suaka lain, biasanya hanya menjadikan negeri ini sebagai tempat transit. Namun, tak jarang juga yang memilih menetap lalu menjadi WNI.
"Sesuai aturan Undang-undang, anak saya saat ini memiliki dua kewarganegaraan [Afganistan dan Indonesia] sampai umur 18 nanti dia bisa memilih sendiri untuk memilih jadi warga negara mana," katanya.
Menentang Stereotip
Cerita lain tentang fenomena ini juga datang dari Katharina Stogmuller (27). Kathi, begitu bisa dia dipanggil, adalah anak hasil perkawinan campur dari ibu Indonesia dan ayah Austria. Dia menjadi WNI pada 2018 saat berusia 20 tahun.Ihwal kewarganegaraan Indonesia dipilih untuk memudahkannya menempuh pendidikan di bangku kuliah. Selain itu, keputusan untuk menjadi WNI ini dilakukan agar dia tidak bolak-balik ke kedutaan untuk mengurus izin tinggalnya di Yogyakarta.
"Sebenarnya aku sudah dianggap [warga negara] Indonesia oleh Austria. Aku punya dua kewarganegaraan. Tapi aku merasa mendapat perlakuan kayak masih seperti WNA. Padahal aku sudah tinggal lama di Indonesia," katanya.
Kathi memang lahir di Austria pada 1997. Namun, saat berusia 4 tahun, dia diboyong kedua orang tuanya ke Yogyakarta pada 2001. Di kota Gudeg inilah, Kathi kemudian tumbuh dan besar di lingkungan yang kosmopolit, meski bahasa sehari-hari yang digunakan adalah Jawa.
Sebagai anak yang lahir dari kewarganegaraan campur, Kathi juga sempat mengalami gegar budaya. Fisiknya yang bule juga membuatnya dipandang beda oleh teman, atau masyarakat di sekitar tempatnya tinggal. Dia mendapat perlakuan beda sebagai liyan.
Momen inilah yang akhirnya dituangkan ke dalam buku bertajuk Ich Komme aus Sewon (2021), atau Aku dari Sewon. Kathi misalnya, saat kecil dianggap bodoh karena tidak bisa berbahasa Inggris. Sebab, orang di sekitarnya berasumsi, setiap bule pasti jago berbahasa Inggris.
Namun, yang terang ayah Kathi yang orang Austria justru lebih sering mengajaknya berbicara dalam bahasa Indonesia. Begitu pula ibunya yang orang Yogyakarta, yang memilih untuk mengajarkan Bahasa Indonesia dan Jawa sebagai bahasa percakapan sehari-hari.
Kisah lainnya juga dituang Kathi dalam podcast Serat Katharina. Di sini dia banyak menuangkan keresahan sebagai anak perkawinan campur berdasarkan stereotip umum masyarakat. Termasuk juga saat bagaimana mereka mengurus administrasi untuk menjadi WNI.
Baca juga: Update Terbaru! Ini 76 Negara Bebas Visa Buat Genhype yang Mau #KaburAjaDulu
Belum lama ini, Kathi juga ikut membantu pengurusan naturalisasi adiknya yang ingin pindah menjadi WNI. Berbeda dari zamannya, saat ini prosedurnya papar Kathi, justru lebih rumit dari awal pengajuan hingga diterima oleh keimigrasian karena ada berbagai persyaratan yang berubah.
"Kalau yang pas pengurusan zaman saya tidak begitu rumit seperti sekarang. Dulu dari kedutaan Austria mintanya hanya surat legalisir, tapi sekarang di-apostille. Pengalaman saya saat itu kurang lebih membutuhkan waktu 3 bulan untuk naturalisasi," katanya.
Editor: Fajar Sidik
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.