Ilustrasi liburan (Sumber foto: Pexels/Quang Nguyen Vinh)

Ekonomi Global Bergejolak, Pariwisata Bisa Jadi Penopang Devisa

15 April 2025   |   07:36 WIB
Image
Yudi Supriyanto Jurnalis Hypeabis.id

Perang dagang global yang dipicu kebijakan Presiden AS Donald Trump dinilai berpotensi memperburuk kondisi sektor pariwisata. Dalam situasi seperti ini, pelaku usaha pariwisata disarankan mulai menyasar negara-negara yang tidak terlalu terdampak, sementara pemerintah dapat mempertimbangkan relaksasi kebijakan efisiensi guna menjaga daya saing industri.

Pengamat sektor pariwisata, I Putu Anom, menjelaskan bahwa salah satu syarat seseorang melakukan perjalanan wisata ke luar negeri adalah adanya bekal finansial yang cukup. Menurutnya, perang dagang yang dipicu oleh kebijakan AS terhadap sejumlah negara dapat menekan volume penjualan perusahaan di negara-negara terdampak.

Penurunan penjualan tersebut, lanjutnya, akan memengaruhi produksi dan mendorong perusahaan melakukan efisiensi, misalnya melalui pengurangan jumlah karyawan atau pemangkasan gaji. Akibatnya, masyarakat di negara tersebut akan mengalami penurunan pendapatan atau bahkan kehilangan pekerjaan.

Dalam kondisi ekonomi yang sulit, masyarakat cenderung akan memprioritaskan kebutuhan pokok seperti pangan dan kesehatan.

"Dengan kondisi perang dagang yang terjadi, pendapatan masyarakat dunia akan cenderung menurun. Hal ini berpotensi mengurangi jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia," katanya kepada Hypeabis.id pada Senin (14/4/2025).

Pada akhirnya, potensi penurunan pendapatan negara menjadi hal yang tidak dapat dihindari. Selain itu, perhatian juga diarahkan pada keberadaan sejumlah tempat penginapan tidak berizin, seperti kontrakan atau rumah kos, yang sering kali menjadi pilihan wisatawan saat berkunjung.

Pilihan wisatawan mancanegara untuk menginap di kontrakan atau kos menyebabkan negara kehilangan potensi pemasukan, lantaran tempat-tempat tersebut tidak dikenakan pajak sebagaimana halnya hotel atau akomodasi resmi lainnya.

Melihat situasi yang terjadi dan tren penurunan dalam sektor pariwisata, para pelaku usaha di bidang ini dituntut untuk lebih cermat dalam melihat peluang pasar. Fokus promosi sebaiknya diarahkan ke negara-negara yang ekonominya tidak terlalu terdampak oleh kebijakan pemerintah Amerika Serikat.

“Pelaku industri pariwisata harus segera menyusun strategi promosi yang tepat, khususnya ke negara-negara yang tidak terlalu terdampak. Ini sifatnya menunggu, jadi harus lihai dalam mencari pangsa pasar,” ujarnya.

Di sisi lain, maskapai penerbangan juga didorong untuk membuka jalur penerbangan langsung menuju negara-negara yang relatif tidak terlalu terdampak oleh perang dagang, guna mendukung keberlangsungan sektor pariwisata nasional.

Adapun terkait dengan wisatawan domestik, Putu menyampaikan bahwa meski tidak memberikan kontribusi terhadap devisa negara, keberadaan wisatawan Nusantara tetap penting untuk menjaga keberlangsungan aktivitas pariwisata di dalam negeri.

Ia juga menilai pemerintah perlu mempertimbangkan pelonggaran terhadap kebijakan penghematan anggaran yang saat ini masih berjalan. Dengan dicabut atau setidaknya dikurangi, kebijakan efisiensi tersebut dapat membantu sektor pariwisata di berbagai daerah agar tetap bertahan.

Ia mengingatkan bahwa sektor pariwisata memiliki keterkaitan erat dengan sektor-sektor lain seperti transportasi, pertanian, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang sama-sama terdampak ketika pariwisata lesu.


Optimisme Sektor Pariwisata

Penilaian I Putu Anom soal potensi penurunan sektor pariwisata di tengah perang dagang berbeda dengan pandangan Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana. Dalam catatan Hypeabis.id, Putri justru menilai bahwa pariwisata bisa menjadi solusi yang relatif aman dari dampak perang dagang global.

Menurut Putri, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengoptimalkan sektor pariwisata sebagai salah satu sumber devisa utama yang tidak terpengaruh oleh kebijakan tarif perdagangan.

“Pariwisata adalah bentuk ekspor jasa yang tidak terganggu oleh kebijakan tarif dagang. Dengan menarik lebih banyak wisatawan mancanegara, kita dapat menjaga stabilitas Rupiah dan cadangan devisa,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Hypeabis.id, Sabtu (5/4/2025).

Putri juga mengajak seluruh pelaku industri pariwisata untuk memanfaatkan momentum ini dengan menerapkan tiga strategi utama menghadapi tantangan global. Salah satu di antaranya adalah kesiapan pelaku usaha untuk menangkap peluang dan mendorong Indonesia menjadi destinasi wisata unggulan di tengah dinamika ekonomi dunia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang 2024 mencapai 13,09 juta. Khusus pada Desember 2024, tercatat 1,24 juta kunjungan wisatawan asing.

Secara rinci, wisatawan dari Afrika menunjukkan lonjakan kunjungan tertinggi pada bulan tersebut, tumbuh sebesar 28,19 persen. Disusul oleh wisatawan Eropa dengan pertumbuhan 16,72 persen, dan Asia non-ASEAN sebesar 16,13 persen.

Sementara itu, peningkatan kunjungan dari negara-negara ASEAN tercatat paling rendah, hanya naik 1,17 persen.
Meski pertumbuhannya melambat, Malaysia tetap menjadi negara penyumbang wisatawan asing terbesar ke Indonesia pada Desember 2024 dengan total 221.039 kunjungan. Disusul oleh Singapura sebanyak 175.542 kunjungan dan Australia dengan 148.322 kunjungan.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Menikmati Hangatnya Pisang Madu dan Secangkir Kopi di Ruma Elok

BERIKUTNYA

Jadwal Lengkap & Link Streaming Coachella Pekan Kedua, Lisa dan Jennie Tampil Lagi

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: