Harga Seri iPhone 16 di Indonesia Bisa Ikutan Naik Efek Tarif Trump
12 April 2025 |
07:00 WIB
Perang tarif impor antara Amerika Serikat dan China yang makin memanas berpotensi memberikan dampak besar bagi bisnis gawai Apple, terutama pada pasar iPhone secara global. Pasalnya, produksi sebagian besar ponsel dari raksasa teknologi tersebut dilakukan di Negeri Tirai Bambu.
Konsultan dan Analis Pasar Smartphone dari Reasense Aryo Meidianto Aji mengatakan dengan sebagian besar perakitan iPhone dilakukan di China dan ketergantungan pada komponen yang juga berasal dari negara tersebut, Apple menghadapi tantangan besar akibat tarif yang tinggi. Apple kemungkinan bisa menaikkan harga jual iPhone, termasuk di Indonesia untuk menutupi biaya tambahan yang harus mereka tanggung.
Baca juga: Bocoran Lengkap iPhone 17 Pro Max: Desain Baru, Kamera 48MP, dan Chip A19 Pro
Kendati demikian, kenaikan harga iPhone ini tidak berlangsung pada waktu dekat, termasuk seri iPhone 16 yang baru saja rilis di Tanah Air. Aryo menerangkan, seri ponsel ini diketahui sudah ada di Indonesia sejak akhir tahun lalu, hanya saja belum mendapatkan izin untuk dijual. “Jadi, perangkat yang dijual perdana ini potensinya sangat kecil untuk mendapatkan kenaikan harga,” ujarnya kepada Hypeabis.id, Jumat (11/4/2025).
Akan tetapi, kenaikan harga tidak dapat terelakkan bila batch pengiriman seri iPhone 16 habis. Kenaikan harga ini tentunya dapat mengurangi daya beli konsumen dan mempengaruhi penjualan Apple secara keseluruhan.
Lebih lanjut, Aryo meyebut ketidakpastian mengenai besaran kenaikan harga dan dampaknya terhadap permintaan iPhone series, berpeluang membuat konsumen ragu untuk membeli produk baru. Hal ini berpotensi menunda keputusan pembelian hingga ada kejelasan lebih lanjut mengenai harga.
“Apple sendiri harus memutar otak bagaimana perangkat ini akan dijual dan membutuhkan rangsangan marketing dengan effort yang lebih seperti promosi yang luar biasa,” tutur Aryo.
Diketahui, untuk menghindari kenaikan tarif impor yang diberlakukan Trump, Apple diam-diam menyewa enam pesawat kargo. Menurut laporan Wall Street Journal, pesawat-pesawat tersebut mengangut 1,5 juta iPhone dengan total berat 600 ton dari India ke AS pada akhir Maret 2025.
Baca juga: Cek Daftar iPhone yang Kompatibel dengan iOS 19
Strategi yang diambil Apple untuk meminimalisir dampak tarif impor termasuk meningkatkan produksi iPhone di India, lantaran dikenakan tarif jauh lebih rendah daripada China. Mengutip Reuters, Apple telah menambah pekerja di pabrik utamanya di India, memperpanjang shift untuk mencapai tujuannya dalam meningkatkan produksi sebesar 20 persen.
Sementara itu, data terbaru dari UBS Investment Research menunjukkan bahwa tarif sebesar 125 persen atas impor dari China yang diungkapkan Trump kemarin, dapat menaikkan biaya eceran iPhone 16 Pro Max 256 GB, yang dirakit di Negeri Tirai Bambu itu, sebanyak 67 persen. Semula harga model iPhone tersebut dibanderol US$$1.199 atau setara Rp20,1 juta (kurs Rp16.830), kini menjadi US$1.999 setara Rp33,6 juta.
Konsultan dan Analis Pasar Smartphone dari Reasense Aryo Meidianto Aji mengatakan dengan sebagian besar perakitan iPhone dilakukan di China dan ketergantungan pada komponen yang juga berasal dari negara tersebut, Apple menghadapi tantangan besar akibat tarif yang tinggi. Apple kemungkinan bisa menaikkan harga jual iPhone, termasuk di Indonesia untuk menutupi biaya tambahan yang harus mereka tanggung.
Baca juga: Bocoran Lengkap iPhone 17 Pro Max: Desain Baru, Kamera 48MP, dan Chip A19 Pro
Kendati demikian, kenaikan harga iPhone ini tidak berlangsung pada waktu dekat, termasuk seri iPhone 16 yang baru saja rilis di Tanah Air. Aryo menerangkan, seri ponsel ini diketahui sudah ada di Indonesia sejak akhir tahun lalu, hanya saja belum mendapatkan izin untuk dijual. “Jadi, perangkat yang dijual perdana ini potensinya sangat kecil untuk mendapatkan kenaikan harga,” ujarnya kepada Hypeabis.id, Jumat (11/4/2025).
Akan tetapi, kenaikan harga tidak dapat terelakkan bila batch pengiriman seri iPhone 16 habis. Kenaikan harga ini tentunya dapat mengurangi daya beli konsumen dan mempengaruhi penjualan Apple secara keseluruhan.
Lebih lanjut, Aryo meyebut ketidakpastian mengenai besaran kenaikan harga dan dampaknya terhadap permintaan iPhone series, berpeluang membuat konsumen ragu untuk membeli produk baru. Hal ini berpotensi menunda keputusan pembelian hingga ada kejelasan lebih lanjut mengenai harga.
“Apple sendiri harus memutar otak bagaimana perangkat ini akan dijual dan membutuhkan rangsangan marketing dengan effort yang lebih seperti promosi yang luar biasa,” tutur Aryo.
Diketahui, untuk menghindari kenaikan tarif impor yang diberlakukan Trump, Apple diam-diam menyewa enam pesawat kargo. Menurut laporan Wall Street Journal, pesawat-pesawat tersebut mengangut 1,5 juta iPhone dengan total berat 600 ton dari India ke AS pada akhir Maret 2025.
Baca juga: Cek Daftar iPhone yang Kompatibel dengan iOS 19
Strategi yang diambil Apple untuk meminimalisir dampak tarif impor termasuk meningkatkan produksi iPhone di India, lantaran dikenakan tarif jauh lebih rendah daripada China. Mengutip Reuters, Apple telah menambah pekerja di pabrik utamanya di India, memperpanjang shift untuk mencapai tujuannya dalam meningkatkan produksi sebesar 20 persen.
Sementara itu, data terbaru dari UBS Investment Research menunjukkan bahwa tarif sebesar 125 persen atas impor dari China yang diungkapkan Trump kemarin, dapat menaikkan biaya eceran iPhone 16 Pro Max 256 GB, yang dirakit di Negeri Tirai Bambu itu, sebanyak 67 persen. Semula harga model iPhone tersebut dibanderol US$$1.199 atau setara Rp20,1 juta (kurs Rp16.830), kini menjadi US$1.999 setara Rp33,6 juta.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.