Still photo film Qodrat 2 (Sumber gambar: MAGMA Entertainment)

Review Film Qodrat 2: Berubah POV Bikin Lebih Emosional

31 March 2025   |   07:57 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Like
Melanjutkan kesuksesan film pertamanya, Qodrat 2 kembali menghadirkan perpaduan horor, aksi, dan elemen religi yang makin matang. Charles Gozali, yang kembali duduk di kursi sutradara, tetap mempertahankan esensi klasik pertarungan antara kebaikan dan kejahatan.

Film produksi MAGMA Entertainment dan Rapi Film ini masih mengikuti perjalanan Ustaz Qodrat (Vino G. Bastian) setelah menyelamatkan Alif dari cengkeraman Asuala. Kali ini, fokusnya beralih ke upayanya menemukan sang istri, Azizah (Acha Septriasa), yang mengalami depresi setelah kehilangan keimanannya.

Berbeda dengan Qodrat (2022) yang masih penuh misteri, film kedua ini menyajikan cerita yang lebih dalam dan secara perlahan mengungkap latar belakang keluarga Qodrat. Dengan visi seperti itu, Charles dengan cerdik memutuskan untuk mengganti sudut pandang penceritaan. Fokusnya kini beralih kepada Azizah, sang istri.

Dalam film sekuel ini, penonton diajak untuk melihat konsekuensi dari perjuangan yang dilakukan olehnya dan ustaz Qodrat pada saat film pertamanya. Hal ini membuat film sekuelnya memiliki kedalaman psikologis menarik, sesuatu yang mungkin kurang dieksplorasi pada film pertama.
 

Still photo film Qodrat 2 (Sumber gambar: MAGMA Entertainment)

Still photo film Qodrat 2 (Sumber gambar: MAGMA Entertainment)

Ada banyak rasa baru yang muncul dan diperdalam. Misalnya, keputusasaan yang dirasakan Azizah saat menyerahkan keimanannya kepada Asuala rupanya bukan sekadar subplot. Adegan tersebut kini punya fungsi besar dan menjadi jantung emosional dalam karya kedua ini.

Dengan lebih banyak mengeksplorasi sudut pandang Azizah, film ini juga menghadirkan dinamika hubungan yang lebih kaya antara pasangan suami istri. Ada rasa bersalah, kemarahan, dan keraguan yang membuat hubungan mereka lebih kompleks dan nyata. Ini menjadikan Qodrat 2 lebih dari sekadar horor aksi, tetapi juga sebuah drama psikologis dengan nuansa spiritual yang asyik diikuti.

Peran Azizah sebagai istri yang menonjol di film ini juga menarik. Dalam banyak film horor aksi dengan elemen religi, perempuan sering kali digambarkan sebagai korban yang hanya bisa diselamatkan oleh protagonis laki-laki. Qodrat 2 berusaha keluar dari pola tersebut dengan memberikan Azizah peran yang lebih signifikan. Dia tidak hanya menjadi motivasi bagi perjalanan Ustaz Qodrat, tetapi juga memiliki perjuangannya sendiri.
 

Di luar soal cerita, daya tarik lain dari Qodrat 2 adalah peningkatan kualitas teknisnya yang jauh lebih matang dari film pertama. Salah satu yang paling mencolok adalah desain Asuala, sosok iblis utama dalam cerita, yang kini tampil lebih besar, berbulu gelap, dan benar-benar menyeramkan. Ada transformasi menarik di sosoknya.

Salah satu aspek yang membuat Asuala lebih mengerikan adalah penggunaan efek cahaya dan bayangan yang cermat tiap kali sosok ini muncul di layar. Tubuh berbulu gelapnya yang besar sering kali hanya terlihat sebagian dalam kegelapan, menciptakan efek psikologis bagi penonton yang membayangkan sosoknya sebelum benar-benar melihatnya secara utuh. Teknik ini tidak hanya meningkatkan rasa takut, tetapi juga membangun atmosfer yang lebih menegangkan.

Selain itu, pengambilan gambar dalam beberapa adegan terasa lebih eksploratif, seperti saat adegan kesurupan massal di pabrik pemintalan yang menunjukkan konsep koreografi lebih matang. Lalu, yang tak kalah menarik juga satu adegan horor dengan konsep 360 derajat, sebuah teknik yang jarang digunakan dalam film Indonesia. Adegan ini memberikan perspektif yang lebih luas dan mendalam, membuat penonton seolah-olah berada di tengah-tengah kejadian.

Aspek lain yang membuat Qodrat 2 makin menonjol adalah tata suaranya yang sangat terencana. Efek suara yang digunakan dalam adegan-adegan mencekam, seperti bisikan samar, suara langkah kaki di kejauhan, hingga gema doa yang terdengar distorsi, membuat film ini terasa lebih menghantui.

Dengan segala dinamika yang terjadi, Qodrat 2 bukan sekadar sekuel, tetapi juga menjadi fondasi yang kokoh sebelum menyambut Qodrat 3. Jika Qodrat pertama adalah pengenalan dan Qodrat 2 adalah pendalaman, film ketiga berpotensi menjadi puncak epik dari perjalanan Ustaz Qodrat.

Dengan fondasi yang sudah dibangun dengan solid, waralaba Qodrat kini siap melangkah lebih jauh ke dalam dunia horor aksi yang lebih besar, lebih menegangkan, dan lebih berkesan.
Editor:

SEBELUMNYA

Review Film Pabrik Gula: Sebuah Teror dari Sejarah Kelam

BERIKUTNYA

Hypereport: 12 Film Indonesia yang Berprestasi di Festival Internasional

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga