Ilustrasi pelajar di luar negeri. (Sumber gambar: Freepik/drobotdean)

Tren #KaburAjaDulu, Pelajar Indonesia di Eropa Ini Pilih Ikuti Langkah B.J. Habibie

05 March 2025   |   09:30 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Fenomena narasi #KaburAjaDulu menggema di media sosial dalam beberapa pekan terakhir. Bentuk kegelisahan dan kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah ini, mengajak masyarakat lebih baik mencari peluang hidup lebih baik di luar negeri untuk saat ini.

Entah itu sekolah maupun bekerja, faktanya jumlah Warga Negara Indonesia (WNI) di luar negeri meningkat setiap tahunnya. Data United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) yang dirilis Februari 2024, menyebutkan terdapat 59.224 mahasiswa Indonesia yang kuliah di luar negeri dan diprediksi terus meningkat. 

Baca juga: 7 Alasan Seru Kuliah di Eropa, Pilihan Jurusan Unik hingga Biaya Pendidikan Kompetitif

Sementara itu, survei Jobstreet by SEEK bertajuk Decoding Global Talent 2024: Tren Mobilitas Pekerja, mencatat 67 persen masyarakat Indonesia tertarik bekerja di luar negeri pada 2023. Belajar dan bekerja di luar negeri dianggap membawa dampak positif bagi pengetahuan yang lebih luas dan juga keuntungan finansial. 

Alhasil, tidak sedikit WNI yang menjadikan belajar maupun bekerja ke negeri orang sebagai impian atau tujuan separuh hidupnya. Contohnya Zata Atika, perempuan asal Jakarta ini sejak kelas 3 Sekolah Dasar (SD) bermimpi untuk belajar ke luar negeri. 

Ketertarikan itu bermula ketika dia banyak membaca buku Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap (RUPL) dan menonton televisi tentang Presiden RI Ke-3 B.J. Habibie, sebagai salah satu tokoh ilmuwan terkenal Indonesia yang belajar di Eropa.

Kagum dengan sosok tersebut, Zata pun bertekad ingin studi ke Benua Eropa. Dia lantas mengambil kesempatan untuk melanjutkan program studi strata kedua (S2) di University of Glasgow, Skotlandia. 

Di salah satu universitas kuno itu, Zata mengambil jurusan Master of Science Financial Technology. Dengan kuliah di luar negeri, dia ingin mendapatkan pengalaman internasional, bergabung dalam jaringan dari berbagai macam negara dan mendapatkan insight baru atas pengaplikasian bidang keilmuannya di negara lain.

Zata sebelumnya memiliki pengalaman 6 tahun sebagai IT Auditor sebelum melanjutkan pendidikan Master-nya saat ini. Sebelum keberangkatan untuk melanjutkan studi di Eropa, dia sudah memikirkan rencana jangka panjang maupun pendek untuk karir ke depannya. 

“Saya telah menentukan bidang fokus untuk saya pelajari lebih dalam dan untuk saya aplikasikan di Indonesia kedepannya,” ujarnya kepada Hypeabis.id tak lama sebelum tren tagar #KaburAjaDulu menggema.
 

Zata

Zata Atika. (Sumber gambar: Zata Atika)

Ya, meskipun belajar ke luar negeri, perempuan berusia 28 tahun itu ingin seperti Habibie dengan mengabdikan diri kembali ke Indonesia. Sesuai dengan bidang yang sedang ditekuni, wanita asal Jakarta ini melihat pasar financial technology (fintech) di Tanah Air sangat berkembang dan ada banyak peluang untuk berinovasi, serta berkontribusi langsung dalam pertumbuhan ekonomi digital.

“Meskipun peluang di luar negeri sangat besar, Indonesia juga memiliki potensi besar untuk berkembang di bidang Fintech,” tegasnya.

Dengan pertumbuhan ekonomi digital yang cepat, menurut Zata banyak startup Fintech lokal yang sukses dan pasar yang masih luas untuk berinovasi. Dukungan pemerintah dan investor juga semakin kuat, menciptakan lingkungan yang sangat baik untuk karir dan pengembangan di sektor ini. 

“Jadi, baik di luar negeri maupun di Indonesia, keduanya menawarkan peluang yang menarik, tergantung pada tujuan dan preferensi pribadi,” tambah Zata. 

Kendati demikian, selama studi di Eropa bukan perkara mudah. Saat pertama kali datang, Zata dihadapkan dengan format dan struktur penulisan yang berbeda dengan yang biasa dipelajari di Tanah Air. 

Untuk mengatasi kesulitan tersebut, dia lantas banyak membaca jurnal, artikel dan contoh tulisan akademik dari berbagai sumber. Zata juga sering berdiskusi dengan dosen atau teman sekelas untuk mendapatkan feedback.

Tantangan lainnya yakni adaptasi terhadap budaya dan musim. Zata harus menyesuaikan diri dengan cara berkomunikasi dan bekerja yang berbeda, serta mengatasi perbedaan iklim yang cukup ekstrem. 

Dia lantas berupaya terbuka terhadap pengalaman baru, mencari teman-teman dari berbagai latar belakang budaya untuk saling berbagi. Tentu, seraya menjaga kesehatan dengan menyesuaikan rutinitas agar bisa lebih nyaman menghadapi perubahan musim.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

Editor: Nirmala Aninda

SEBELUMNYA

Tips Memilih Kulkas Hemat Energi yang Jaga Kualitas Makanan

BERIKUTNYA

Cek Hal Ini Sebelum Beli Mobil Bekas, Waspada Bekas Banjir

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga