Seniman Cecil Mariani saat ditemui Hypeabis.id di studionya di Jakarta Selatan (sumber gambar: Hypeabis.id/Fanny Kusumawardhani)

Hypeprofil Perupa Cecil Mariani: Melihat Kolektif Sebagai Basis Kemandirian Seniman

05 March 2025   |   07:00 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Tak banyak seniman di Indonesia yang fokus pada isu ekonomi-produksi seni. Perupa Cecil Mariani, adalah satu di antaranya. Cecil adalah konseptor ulung, meski tak semua orang dapat menangkap kecerlangan pikirnya saat menggagas ruang-ruang kolektif berbasis koperasi.

Berlatar belakang peneliti di Koperasi Riset Purusha, Cecil memiliki ide cemerlang bagi pekerja kreatif di Tanah Air. Di luar kerjanya sebagai seniman, Cecil juga telah banyak menggagas program-program kerja dan penelitian berbasis kolektif.

Baca juga: Menyelami Estetika Rupa dari Sudut Pandang Perempuan dalam Pameran Nonalog

Bagi seniman kelahiran 12 Maret 1978, itu berkarya di jalur kesenian saja tidaklah cukup. Pekerja kreatif, menurutnya juga perlu membuat kolektif dan sama-sama memperjuangkan hak, sehingga mereka bisa membuat karya-karya yang lebih otentik alih-alih mengikuti pasar.

Pada 2011 misalnya, dia menginisiasi TuaTuaSekolah bersama Lisabona Rahman dan Felencia Hutabarat. Ini adalah program beasiswa independen untuk melanjutkan pendidikan pascasarjana setelah dia diterima di School of Visual Arts, New York, hingga memperoleh gelar Master pada 2013.
 
 


Cecil juga pernah menggagas program ekonomi-produksi alternatif bernama Arisan Desainer Upacita. Pendek kata, kerja kolaboratif ini adalah semacam koperasi yang bisa menjadi solusi strategis saat para pekerja seni membutuhkan dana baik finansial maupun sosial.

"Koperasi dalam hal ini bukan hanya menabung uang, tapi juga nabung kerja. Misalnya seperti praktik saling meminjamkan tempat, proyektor, dan lahan parkir secara kolektif. Itu kan sirkulasi kapital, jadi nggak melulu dipatok sama uang," katanya saat ditemui Hypeabis.id.

Tak hanya itu, Cecil juga sempat memulai inisiatif ekonomi-produksi alternatif bernama Arisan Desainer Upacita. Di ruang ini, bersama desainer lain, mereka aktif melakukan inisiasi untuk membawa perbaikan di lingkungan kerja industri kreatif antar sesama pekerja di dalamnya.

Walakin, metode kerja seperti ini, menurut Cecil, dianggap kurang seksi bagi para pekerja kreatif. Di sisi lain kerja kolektif independensi seperti ini juga membutuhkan waktu lama, sehingga banyak pekerja seni yang mengesampingkan gagasan tersebut, karena kepentingan kompetisi dan pasar bebas.

Memasuki tahun 2025, setumpuk kegiatan pun sudah menanti Cecil. Belum lama ini misal dia juga baru pulang dari Malang, Jawa Timur. Di sana Cecil beranjangsana dengan seniman-seniman lain untuk bertukar ide dan gagasan, serta meluaskan kolektif yang selama ini dirintis.


Gandrung Seni

Sejak kecil Cecil sudah menyukai dunia menggambar. Kendati begitu, dia pun sempat jemu pada kegiatan tersebut, karena hampir setiap minggu diminta oleh orang tua dan sekolahnya untuk mengikuti lomba menggambar sejak Taman Kanak hingga Sekolah Dasar.

Kini, setelah dewasa dan ingin hidup mandiri, Cecil memilih kuliah di jurusan Desain Grafis alih-alin Seni Murni. Pilihan tersebut juga bukan tanpa alasan. Sebab, dengan mengambil jurusan tersebut, dia masih bisa bekerja layaknya profesional lain dan memiliki gaji tetap.

Namun, seperti nasib yang tak bisa diduga, di fase inilah Cecil justru menemukan jalan hidupnya. Momen tersebut bermula pada 2018 menggelar pameran tunggal di Studio Kertas. Lewat tajuk Paralaks Fiksi, Cecil mencoba merekam perjalanannya membedah definisi fiksi menggunakan medium kertas.

Pameran demi pameran pun terus diikutinya. Belum lama ini misal, Cecil turut meramaikan seteleng Tentang Bentuk & Narasi di Neo Gallery, Jakarta. Di waktu lain, dia juga menyuguhkan senarai karya terbarunya dalam ekshibisi bertajuk Nonalog, di Baik Art Gallery, Jakarta.
 

Sejumlah karya Cecil Mariani dalam pameran Nonalog di Baik Art Gallery (sumber gambar: Baik Art Gallery)

Sejumlah karya Cecil Mariani dalam pameran Nonalog di Baik Art Gallery (sumber gambar: Baik Art Gallery)


Dalam berkarya, artistik Cecil juga tak bisa disederhanakan dalam satu bentuk material. Wacana artistiknya memang terus mengalir dalam berbagai medium, mulai dari keramik, fotografi, gypsum, cyanotype, dan masih banyak lagi. Singkat kata, sang seniman tak ingin terjebak pada spesialisasi.

Menurutnya, hasil karya lukisan yang dibuat merupakan dorongan dari memori kinestetik tangan yang dilatih bertahun-tahun. Jadi, alih-alih mengedepankan ide saat berkarya, Cecil justru menempatkan dorongan sensor motorik untuk membuat garis ataupun pola-pola tertentu.

"Jadi kayak berpikir dengan saraf-saraf, yang aku bayangkan adalah dorongan gerak, baik dari menari atau energi. Kalau cyanotype, itu berangkatnya dari dorongan visual, mungkin bisa dikatakan juga panggilan dari 'materi', karena akan memunculkan bentuk-bentuk baru," katanya.

Belakangan, Cecil memang mengeksplorasi berbagai material karya. Ini juga tidak lepas dari dirinya yang mengikuti kelas seni grafis di studio Devto Printmaking Institute, Bali. Dari sana kemudian lahir senarai karya yang mendedah identitas serta asal-usulnya sebagai Tionghoa.

Cecil menuturkan, karya dengan tema identitas tersebut sebenarnya sebagai bentuk sarkasme. Munculnya tema tersebut juga tak bisa dilepaskan setelah di mengalami traumatik pasca ayahnya wafat beberapa tahun silam, dan dia ingin menelusuri riwayatnya.

Saat ini dia mengaku juga sedang mempersiapkan ekshibisi tunggal di Srisasanti Gallery, Yogyakarta. "Saat karya dilepas [dipamerkan] mereka akan memiliki pemaknaannya sendiri, dan aku sedang menikmati momen itu untuk pameran selanjutnya," imbuhnya.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

Editor: Nirmala Aninda
 

SEBELUMNYA

Sinopsis Drakor Thriller Kriminal Karma, Tayang 4 April 2025 di Netflix

BERIKUTNYA

Strategi Industri Perhotelan Hadapi Efisiensi Anggaran Pemerintah

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: