Gunung es (Sumber gambar: Unsplash/Mark Basarab)

Mengenal Acute Mountain Sickness, Momok Bagi Pendaki Gunung Pemicu Hipotermia

03 March 2025   |   17:22 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Dua pendaki wanita bernama Lilie Wijayanti Pegiono dan Elsa Laksono meninggal dunia di Puncak Jaya atau Piramida Carstensz di Mimika, Papua Tengah. Keduanya diduga meninggal karena hipotermia yang kemudian mengakibatkan acute mountain sickness (AMS).

Di atas ketinggian, hipotermia memang dapat terjadi pada seseorang yang mengalami AMS. Hal ini biasanya terjadi pada seseorang yang mengalami insiden dan terkena paparan suhu dingin berkepanjangan.

Baca juga: 5 Fakta Menarik Carstensz Pyramid, Gunung Tertinggi di Indonesia yang Saljunya Terus Meleleh

Secara medis, AMS juga dikenal sebagai altitudes sickness atau penyakit ketinggian. Penyakit ini telah lama menjadi momok bagi para pendaki di seluruh dunia, terutama yang mendaki gunung es.

Kendati demikian, gejala AMS sebenarnya bisa muncul di hampir seluruh gunung. Sebab, pada umumnya, gejala ini bisa menjangkiti pendaki yang mendaki gunung di atas 2.500 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Mengutip Healthline, AMS merupakan kondisi yang dapat menyerang pendaki gunung, pejalan kaki, pemain ski, atau pelancong di atas ketinggian tertentu. Sebagian kasus AMS bersifat ringan dan bisa sembuh dengan sendirinya.

Namun, pada beberapa kasus, AMS bisa berubah menjadi penyakit yang parah. Terlebih, AMS juga dapat menjadi pemicu komplikasi yang menyerang paru-paru dan otak.

Hal ini bisa terjadi karena ketika seseorang berada di atas ketinggian, mereka akan mengalami kadar oksigen yang tipis dan tekanan udara yang lebih rendah. Tubuh yang terbiasa dengan kondisi udara normal, menjadi tak begitu kuat dengan keadaan udara yang rendah tersebut.

Meski tubuh sangat mungkin beradaptasi, tetapi tetap perlu waktu yang cukup agar badan bisa menyesuaikan diri di ketinggian. Kondisi ini bisa makin parah jika pendaki memaksakan diri dan membuat tubuh terlalu lelah.

Baca juga: Mengenal Ekspedisi Atap Negeri, Pendakian Gunung yang Digagas Fiersa Besari


Gejala & Penanganan AMS

Acute mountain sickness (AMS) merupakan penyakit ketinggian yang biasanya dapat dikenali dengan mudah. Pasalnya, seseorang yang mengalami AMS dapat menunjukkan gejala tertentu yang khas.

Untuk AMS ringan, seseorang dapat merasakan sakit kepala, mual atau muntah ringan, kehilangan keseimbangan, lelah berlebih, kesulitan tidur, dan nafsu makan menurun. Kemudian, untuk AMS sedang, gejala sakit kepala akan makin parah dan tidak bisa membaik oleh obat pereda nyeri, mual, dan sulit bernapas juga intensitasnya makin sering.

Jika tak segera ditangani, AMS dapat berkembang menjadi High Altitude Pulmonary Edema (HAPE). HAPE adalah penyakit ketinggian yang dapat terjadi secara mandiri atau sebagai komplikasi dari AMS. 

Kondisi HAPE benar-benar perlu diwaspadai. Sebab, kondisi ini menyebabkan cairan di paru-paru menumpuk dengan cepat. Biasanya, penderita akan mengalami batuk, sesak napas, dan tampak kebiruan pada tangan.

Jika tak mendapat pertolongan dengan tepat, AMS juga dapat berkembang menjadi High Altitude Cerebral Edema (HACE). HACE adalah bentuk AMS yang parah yang terjadi ketika otak membengkak dan berhenti berfungsi normal. 

AMS dapat ditangani dengan beberapa cara. Umumnya, pertolongan pertama pada AMS ialah memberhentikan pendakian, mengistirahatkan tubuh, dan menghindari aktivitas berlebihan.

Baca juga: Kronologi Lilie Wijayanti & Elsa Laksono Meninggal di Puncak Carstensz Akibat Hipotermia

Pasien juga biasanya akan diberi obat pereda nyeri. Hal ini agar perasaan sakit kepala sedikit berkurang. Jika kondisi dikhawatirkan makin parah, pendaki biasanya juga akan disarankan untuk turun ke tempat yang lebih rendah, seperti 1.000 kaki dari tempatnya berada sekarang.

Dalam hal ini, aklimatisasi dalam pendakian gunung memang menjadi hal yang penting. Aklimatisasi berfungsi untuk membantu tubuh beradaptasi dengan perubahan ketinggian.  Aklimatisasi yang memadai dapat mengurangi risiko penyakit ketinggian dan meningkatkan peluang mencapai puncak dengan selamat.

Editor: Fajar Sidik

SEBELUMNYA

Ketika Karya Seniman Disabilitas Jadi Medium Refleksi Ramadan

BERIKUTNYA

Layanan Skype Ditutup 5 Mei 2025, Begini Cara Alihkan Akun ke Teams

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga