Mengenal Batik Batang yang Kental dengan Sejarah Ajaran Agama Islam
26 February 2025 |
11:11 WIB
Bicara soal batik, kebanyakan orang pasti langsung teringat dengan Pekalongan sebagai Kota Batik di Jawa Tengah. Akan tetapi, kali ini kita akan bergeser ke sebelah kota Pekalongan, yakni Kabupaten Batang yang juga memiliki batik dengan keindahan dan nilai sejarahnya yang kaya.
Ibu kota Kabupaten Batang berada tepat di sebelah timur Kota Pekalongan, sehingga kedua kota ini seolah-olah menyatu. Sebagian besar wilayahnya merupakan perbukitan dan pegunungan. Pada bagian selatan terdapat Dataran Tinggi Dieng, dengan puncaknya Gunung Prau.
Direktur Institut Pluralisme Indonesia, William Kwan Liong, memaparkan karakteristik Batik Batang yang unik dari segi corak dan pengerjaannya. Sebagai seorang peneliti yang banyak mengamati keragaman budaya Indonesia melalui batik dalam studinya, dia menarik garis panjang berabad-abad ke belakang dan menemukan sejarahnya yang menarik.
Baca juga: Mengenal Batik Kendil Emas, Warisan Budaya Asal Kendal yang Siap Mendunia
Batik Tulis Batang menjadi salah satu warisan tradisi budaya batik Indonesia yang dikembangkan secara turun-menurun di Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah. Diperkirakan batik ini sudah mulai dibuat dan dipakai sejak awal abad ke-17, yakni era Ratu Wetan/Ratu Batang sebagai permaisuri Sultan Agung, raja Mataram Islam.
"Istilah batik itu baru muncul pada zaman Sultan Agung, ditemukan pada dokumen pengiriman barang dari Batavia ke Bengkulu," ujar William Kwan Liong, Selasa (25/2/2025).
Pada masa itu batik hanya dikenakan oleh kaum bangsawan, termasuk permaisuri kedua Sultan Agung kedua yang bernama Ratu Ayu Batang alias Ratu Wetan. Kala itu Batang merupakan daerah pemukiman para Priyayi atau Bangsawan.
Berdasarkan penelitiannya, William Kwan memperkirakan para priyayi membuat dan mengenakan batik di Batang pada era Sultan Agung. Dengan demikian Batik Batang 100 tahun lebih tua dari Batik Pekalongan.
Setiap helai batik tulis Batang dibuat secara tradisional dan mandiri oleh ibu-ibu pembatik. Oleh karenanya, zaman dulu perempuan-perempuan di Batang, sebelum menikah harus sudah bisa membatik.
Beda dengan batik pada umumnya di luar Batang yang dibuat oleh beberapa orang pembatik. Semuanya dibuat secara tradisional dengan teknik batik tulis dan batik cap. Tidak ada Batik Batang yang dibuat dengan teknik printing alias tekstil bermotif batik.
"Biasanya satu lembar kain batik, dibuat oleh beberapa pembatik sekaligus, orang pertama bikin pola utama dan orang kedua bikin detail, dan orang ketiga membuat motif kain belakangnya, nanti yang mewarnai dan merebus kain beda lagi," ujar William Kwan.
Namun, batik di batang hanya dibuat oleh satu orang pembatik. Ini menandai proses pengerjaannya yang masih tradisional. Menariknya, antara satu desa dengan desa lainnya di Batang memiliki motif batik berbeda.
Terdiri dari batik-batik yang dibuat dengan gaya batik Yogyakarta atau Mataraman awal, sekitar era 1630-an di Batang, batik Surakarta sejak setelah Perjanjian Giyanti pada 1755, atau kombinasi batik Yogyakarta dan Surakarta.
Batik Sogan Batangan ini menggunakan motif klasik batik Mataraman dengan warna coklat kehitaman kombinasi putih atau coklat muda, hitam atau biru gelap yang juga disebut midnight blue atau 'biru tengah wengi'.
Batik Pesisiran Batang yang masih eksis saat ini hanya Batik Rifa'iah dan Batik Masinan. Batik Rifa'iah dibuat di Desa Kalipucang Wetan dan Desa Watesalit, Kecamatan Batang, sementara Batik Masin dibuat di Desa Masin, Kecamatan Warungasem.
Batik Rifa'iah atau juga dikenal sebagai Batik Tiga Negeri Rifaiyah menggunakan istilah "Tiga Negeri" yang dalam konteks ini mengacu pada penggunaan tiga warna utama dalam satu kain batik, yaitu merah, biru, dan cokelat soga.
Berdasarkan sejarahnya, batik ini dibuat oleh para pembatik keturunan murid Kyai Ahmad Rifa'i, seorang ulama dan pahlawan nasional yang gigih menentang kolonialisme Belanda. Motif-motifnya banyak dipengaruhi oleh nilai spiritualitas agama Islam, salah satunya menghindari penggambaran makhluk hidup secara utuh.
Misalnya, motif Pelo Ati berupa ayam jantan dan burung yang terpenggal bagian kepalanya. Ini sesuai dengan ajaran dalam kitab-kitab Al Hadith bahwa umat Islam tidak boleh mengenakan pakaian bermotif makhluk hidup ciptaan Allah SWT.
Proses pembuatannya melibatkan ritual khusus, seperti melantunkan sholawat maupun syair-syair berbahasa Jawa yang berisi ajaran agama islam dari KH Ahmad Rifa'l selama pengerjaan membuat batik tulis.
Baca juga: Di Antara Lilin dan Canting, Menjaga Batik Tetap Berkelanjutan di Tengah Globalisasi
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor: Syaiful Millah
Ibu kota Kabupaten Batang berada tepat di sebelah timur Kota Pekalongan, sehingga kedua kota ini seolah-olah menyatu. Sebagian besar wilayahnya merupakan perbukitan dan pegunungan. Pada bagian selatan terdapat Dataran Tinggi Dieng, dengan puncaknya Gunung Prau.
Direktur Institut Pluralisme Indonesia, William Kwan Liong, memaparkan karakteristik Batik Batang yang unik dari segi corak dan pengerjaannya. Sebagai seorang peneliti yang banyak mengamati keragaman budaya Indonesia melalui batik dalam studinya, dia menarik garis panjang berabad-abad ke belakang dan menemukan sejarahnya yang menarik.
Baca juga: Mengenal Batik Kendil Emas, Warisan Budaya Asal Kendal yang Siap Mendunia
Batik Tulis Batang menjadi salah satu warisan tradisi budaya batik Indonesia yang dikembangkan secara turun-menurun di Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah. Diperkirakan batik ini sudah mulai dibuat dan dipakai sejak awal abad ke-17, yakni era Ratu Wetan/Ratu Batang sebagai permaisuri Sultan Agung, raja Mataram Islam.
"Istilah batik itu baru muncul pada zaman Sultan Agung, ditemukan pada dokumen pengiriman barang dari Batavia ke Bengkulu," ujar William Kwan Liong, Selasa (25/2/2025).
Pada masa itu batik hanya dikenakan oleh kaum bangsawan, termasuk permaisuri kedua Sultan Agung kedua yang bernama Ratu Ayu Batang alias Ratu Wetan. Kala itu Batang merupakan daerah pemukiman para Priyayi atau Bangsawan.
Berdasarkan penelitiannya, William Kwan memperkirakan para priyayi membuat dan mengenakan batik di Batang pada era Sultan Agung. Dengan demikian Batik Batang 100 tahun lebih tua dari Batik Pekalongan.
Setiap helai batik tulis Batang dibuat secara tradisional dan mandiri oleh ibu-ibu pembatik. Oleh karenanya, zaman dulu perempuan-perempuan di Batang, sebelum menikah harus sudah bisa membatik.
Beda dengan batik pada umumnya di luar Batang yang dibuat oleh beberapa orang pembatik. Semuanya dibuat secara tradisional dengan teknik batik tulis dan batik cap. Tidak ada Batik Batang yang dibuat dengan teknik printing alias tekstil bermotif batik.
"Biasanya satu lembar kain batik, dibuat oleh beberapa pembatik sekaligus, orang pertama bikin pola utama dan orang kedua bikin detail, dan orang ketiga membuat motif kain belakangnya, nanti yang mewarnai dan merebus kain beda lagi," ujar William Kwan.
Namun, batik di batang hanya dibuat oleh satu orang pembatik. Ini menandai proses pengerjaannya yang masih tradisional. Menariknya, antara satu desa dengan desa lainnya di Batang memiliki motif batik berbeda.
Mengenal Ragam Batik Batang
Batik Batang memiliki kekayaan ragam desain yang tinggi, saling berbeda antar desa sentra batik Batang. Dalam hal ini, Batik Batang mempunyai gaya desain batik pedalaman atau kratonan seperti Batik Sogan Batangan, maupun gaya desain batik pesisiran seperti Batik Rifa'iah, Batik Masinan, Batik Boresan, dan Batik Kramalan. Berikut beberapa batik Batang yang terkenal.
1. Batik Sogan Batangan
Terdiri dari batik-batik yang dibuat dengan gaya batik Yogyakarta atau Mataraman awal, sekitar era 1630-an di Batang, batik Surakarta sejak setelah Perjanjian Giyanti pada 1755, atau kombinasi batik Yogyakarta dan Surakarta.Batik Sogan Batangan ini menggunakan motif klasik batik Mataraman dengan warna coklat kehitaman kombinasi putih atau coklat muda, hitam atau biru gelap yang juga disebut midnight blue atau 'biru tengah wengi'.
2. Batik Pesisiran Batang
Batik Pesisiran Batang yang masih eksis saat ini hanya Batik Rifa'iah dan Batik Masinan. Batik Rifa'iah dibuat di Desa Kalipucang Wetan dan Desa Watesalit, Kecamatan Batang, sementara Batik Masin dibuat di Desa Masin, Kecamatan Warungasem.Batik Rifa'iah atau juga dikenal sebagai Batik Tiga Negeri Rifaiyah menggunakan istilah "Tiga Negeri" yang dalam konteks ini mengacu pada penggunaan tiga warna utama dalam satu kain batik, yaitu merah, biru, dan cokelat soga.
Berdasarkan sejarahnya, batik ini dibuat oleh para pembatik keturunan murid Kyai Ahmad Rifa'i, seorang ulama dan pahlawan nasional yang gigih menentang kolonialisme Belanda. Motif-motifnya banyak dipengaruhi oleh nilai spiritualitas agama Islam, salah satunya menghindari penggambaran makhluk hidup secara utuh.
Misalnya, motif Pelo Ati berupa ayam jantan dan burung yang terpenggal bagian kepalanya. Ini sesuai dengan ajaran dalam kitab-kitab Al Hadith bahwa umat Islam tidak boleh mengenakan pakaian bermotif makhluk hidup ciptaan Allah SWT.
Proses pembuatannya melibatkan ritual khusus, seperti melantunkan sholawat maupun syair-syair berbahasa Jawa yang berisi ajaran agama islam dari KH Ahmad Rifa'l selama pengerjaan membuat batik tulis.
Baca juga: Di Antara Lilin dan Canting, Menjaga Batik Tetap Berkelanjutan di Tengah Globalisasi
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor: Syaiful Millah
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.