Pengunjung berfoto di dekat benda akulturasi yang dipajang pada pameran KONGSI: Akulturasi Tionghoa di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Senin (10/2/2025). (sumber gambar: Hypeabis.id/Himawan L Nugraha)

Senarai Akulturasi Tionghoa di Nusantara Terefleksi dalam Pameran Kongsi di MNI

11 February 2025   |   07:20 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Seusai menghelat pameran Indonesia, The Oldest Civilization on Earth?: 130 Years After Pithecanthropus Erectus, Museum Nasional Indonesia (MNI) kembali menghelat seteleng baru bertajuk Kongsi yang mengetengahkan akulturasi budaya Tionghoa di Nusantara.

Sesuai tajuknya, pameran ini akan mengajak Genhype untuk mengeksplorasi tentang sejarah akulturasi budaya Tionghoa di Indonesia sejak berabad silam. Momen ini tak lepas dari wilayah geografis Nusantara yang menjadi jalur perdagangan penting sejak era prasejarah.

Baca juga: Menyimak Ragam Eksplorasi Perupa di Pameran Revisiting Art:1 New Museum Jakarta

Total terdapat ratusan karya seni yang dipacak untuk menyambut momen Cap Gomeh dan momen Imlek itu. Selain lukisan, seteleng ini juga menghadirkan senarai karya lain, seperti keberagaman arsitektur, benda warisan budaya, hingga instalasi seni lain.

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon mengungkap ihwal dihelatnya pameran ini adalah untuk mengajak masyarakat mengenal lebih jauh tentang sejarah, peran dan warisan budaya masyarakat Tionghoa dalam membentuk keberagaman budaya di Nusantara.

Menurutnya Indonesia yang kita kenal sekarang adalah hasil olah budaya dan pertemuan dari ragam budaya lain di dunia. Nusantara dari zaman baheula sampai saat ini adalah wilayah melting pot, atau panci lebur yang kelak membentuk budaya-budaya baru.  

"Kita merayakan ini sebagai peringatan untuk Imlek dan Cap Go Meh, yang merupakan bentuk akulturasi dengan budaya lokal, yang menambah kekayaan budaya kita, baik dalam karya sastra, lukisan, dan yang lain," katanya.

Selain menarasikan akulturasi kebudayaan Indonesia, pameran ini menurut Menbud juga menyajikan senarai sejarah penting Indonesia yang tak bisa dilepaskan dari peran orang-orang Tionghoa. Misal, dengan hadirnya koran Sinpo yang memuat teks lagu kebangsaan Indonesia, Indonesia Raya pada 1928.

Dinarasikan pula peran sejumlah tokoh-tokoh penting Tionghoa seperti Sie Kong Lian, yang meminjamkan rumahnya untuk Kongres Sumpah Pemuda II. Kemudian, Yo Kim Tjan, yang merekam lagu Indonesia Raya versi keroncong, saat W.R Soepratman memainkan lagu tersebut kali pertama pada 1930-an.

"Kita berharap lewat pameran ini masyarakat bisa lebih memahami akulturasi budaya Tionghoa dan Nusantara, di mana ekspresi budayanya bisa kita apresiasi, khususnya bagi generasi muda," imbuhnya.
 

Menteri Kebudayaan Fadli Zon (kanan), Desainer Didit Hediprasetyo (ketiga kanan), dan Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha (keempat kanan) saat mengunjungi pameran KONGSI: Akulturasi Tionghoa seusai pembukaan di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Senin (10/2/2025).

Menteri Kebudayaan Fadli Zon (kanan depan), Desainer Didit Hediprasetyo (kiri depan), dan Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha (tengah) saat mengunjungi pameran KONGSI: Akulturasi Tionghoa seusai pembukaan di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Senin (10/2/2025). (sumber gambar: Hypeabis.id/Himawan L Nugraha)


Koordinator kurator pameran, Fifia Wardhani mengatakan, seteleng ini  secara umum dibagi menjadi 3 zona, yakni interaksi awal, mengadu nasib dan meretas jalan kemerdekaan, serta zona merayakan keberagaman. Ketiga zona tersebut menarasikan sejarah persinggungan budaya Tionghoa dari awal hingga sekarang.

Pada zona interaksi awal, pengunjung akan diajak mengungkap jejak kedatangan masyarakat Tionghoa di Nusantara, perannya dalam perdagangan serta awal pembauran budaya. Momen ini dapat dilihat dengan hadirnya temuan nekara berukuran kecil yang diyakini berasal dari wilayah Asia Tenggara dan China bagian Selatan.

Baca juga: Pameran Arung di Can's Gallery: Saat Pulau Dewata Direfleksikan Lewat Karya Seni 

Sementara itu, di zona mengadu nasib dan meretas jalan kemerdekaan, menggambarkan dinamika sosial dan politik masyarakat Tionghoa di Indonesia, termasuk kontribusi mereka dalam perjuangan kemerdekaan. Salah satunya dengan lewat kiprah John Lie yang  berhasil menembus blokade Belanda di Sumatera dan menukar komoditas Indonesia dengan senjata.

Adapun di bagian terakhir zona merayakan keberagaman, ditampilkan berbagai aspek akulturasi budaya Tionghoa dalam busana, arsitektur, kuliner, bahasa, seni dan kepercayaan yang telah menjadi bagian dari kebudayaan Tanah Air saat ini. Termasuk dengan hadirnya karya seni Pola-pola Bejana yang menampilkan karya Eldwin Pradipta.

"Ihwal pembagian 3 zona pameran ini dilakukan agar lebih mudah dipahami oleh pengunjung. Sebab, jika dibagi menjadi banyak sub akan membuat mereka bingung," katanya.

Editor: Fajar Sidik 

SEBELUMNYA

Cara Memilih Alat Elektronik Rumah Tangga, Persiapan Bikin Menu Sahur & Berbuka Puasa

BERIKUTNYA

Band indie Korea Selatan Wave to Earth Siap Konser di Jakarta

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga