Saat Musik & Kota Direfleksikan dalam Bahasa Rupa oleh Seniman Stereoflow
09 February 2025 |
15:30 WIB
Musik hip hop dan mural adalah kesatuan yang saling melengkapi. Dua medium ekspresi tersebut kerap menjadi bentuk protes sosial untuk dicerap lewat indera pendengaran dan penglihatan. Hip hop memanfaatkan diksi atau kata, sedangkan mural memanfaatkan petanda.
Terbaru, kelindan antara kedua medium tersebut diungkai dengan cergas oleh seniman Stereoflow lewat pameran bertajuk Vibes Don't Lie. Dihelat di Rachel Gallery, seteleng ini merepresentasikan teknik-teknik pembuatan musik hip hop yang diejawantahkan dalam bahasa rupa.
Baca juga: Menyimak Ragam Eksplorasi Perupa di Pameran Revisiting Art:1 New Museum Jakarta
Adi Dharma, yang biasa dikenal dengan nama Stereoflow, merupakan seniman yang mengawali eksplorasi seni lewat budaya street art dan musik hip-hop. Kiwari, kedua elemen yang ditekuninya beberapa waktu terakhir itu hadir dalam pesona lukis abstrak penuh warna.
"Saat membuat karya saya selalu menganalogikan seperti sedang membuat musik rap. Sebab di sana ada peleburan jenis musik lain. Secara visual saya juga meleburkan bentuk dan warna jadi komposisi abstrak," katanya pada Hypeabis.id.
Hidup di tengah budaya urban, Stereoflow juga mengangkat kota sebagai inspirasi dalam karyanya. Jakarta, sebagai kota tempat dia hidup dan berkarya, menjadi pusat eksplorasinya. Jakarta sebagai panci lebur. Kota yang tumbuh dari kelindan persoalan.
Refleksi tersebut lalu dihadirkan di atas kanvas hasil interpretasinya atas tata ruang. Seperti dalam karya bertajuk Rhy-them Rhy-me dan Vibes Don't Lie, yang seolah ingin memaknai bentuk tata kota dengan tembok, aspal jalanan, serta kelas sosial yang timpang.
Dualisme kota juga tercermin dari ketegasan garis yang lurus dan menyiku. Namun, di bidang yang lain, dia juga menimpanya dengan garis yang melengkung dan memburai. Spontanitas juga hadir lewat sapuan cat semprot yang mencerminkan kebebasan untuk menggambarkan energi liar dari kota.
Alhasil, komponen bentuk dan warna yang saling tumpang tindih ini, akhirnya melahirkan sebuah keserasian. Dari sepilihan karyanya yang terkesan abstrak, Stereoflow seperti sedang menciptakan harmoni dari keacakan ritme, layaknya sebuah komposisi dengan cara yang jujur.
Menurut Adi, di dalam tata kotanya yang sumpek, Jakarta adalah ruang yang paradoks. Ini terwakili lewat struktur fisiknya atau bangunan yang menampilkan keteraturan dalam satu sisi, akan tetapi penuh kekacauan di sisi lainnya. Ada harmoni dan kontradiksi di sana.
Namun, lewat ruang fisiknya yang tidak teratur itu, dia justru menemukan pola dan harmoni yang tidak terduga. Kedua elemen ini tidak hanya berdampingan tetapi juga saling menguatkan, menciptakan sebuah narasi visual yang menggugah sekaligus menggugat.
Musik hip hop memang tak bisa dilepaskan dengan isu sosial. Sajak dan lirik dalam musik ini biasanya membahas topik-topik yang memprovokasi seperti seks, kekerasan, dan masalah sosial-politik. Singkat kata hip hop adalah musik protes.
Di Indonesia, jenis musik ini mulai populer pada dekade 90-an. Salah satu tokoh ikoniknya adalah Iwa Kusuma alias Iwa K. Munculnya Hip Hop juga beriringan dengan tren fesyen seperti atribut jaket, kaos gombrong, dan tentu saja mural.
Syahdan, Stereoflow mengaplikasikan teknik-teknik seperti tempo dan beat, dari dari musik ini untuk digunakan dalam pengkaryaannya. Hasilnya, adalah kanvas yang bernuansa dinamis, penuh daya hidup di bidangnya saat diekspresikan lewat warna.
Idiom-idiom dengan tekstur halus dan keras, pejal dan lembut kemudian muncul di bidang kanvasnya. Semua menyatu dalam keriuhan warna neon yang berani. Misal dalam karya bertajuk Cypher Checker, Solid Stance dan Free Spirits On Me.
Gallery Manager Rachel Gallery, Kasandra Nadia mengatakan, pada pameran tunggalnya kali ini, Stereoflow juga telah menampilkan evolusi artistik. Setiap karyanya seolah ingin menangkap esensi kota sebagai ruang yang hidup yang terus bergerak.
Penggunaan warna yang sebelumnya berani dan mencolok berubah menjadi palet warna yang lebih tenang. Ini berbeda dari pameran-pameran tunggal sebelumnya. Pertumbuhan usia dan bertambahnya pengalaman ditengarai menjadi salah satu faktor.
Menurut Kasandra, tidak ada pesan eksplisit atau narasi tunggal dari karya-karyanya dalam pameran ini. Sebab sang seniman menginterpretasi secara jujur dari apa yang dilihat dan rasakan. Publik dibebaskan untuk menafsir lukisan-lukisannya yang penuh warna.
"Stereoflow ingin memberikan ruang untuk kita mengeksplorasi perasaan atas keragaman dari kota, entah dalam bentuk fisik maupun perasaan. Ini adalah ajakan untuk menemukan sinestesia dari sebuah karya seni yang ekspresif," katanya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor: Nirmala Aninda
Terbaru, kelindan antara kedua medium tersebut diungkai dengan cergas oleh seniman Stereoflow lewat pameran bertajuk Vibes Don't Lie. Dihelat di Rachel Gallery, seteleng ini merepresentasikan teknik-teknik pembuatan musik hip hop yang diejawantahkan dalam bahasa rupa.
Baca juga: Menyimak Ragam Eksplorasi Perupa di Pameran Revisiting Art:1 New Museum Jakarta
Adi Dharma, yang biasa dikenal dengan nama Stereoflow, merupakan seniman yang mengawali eksplorasi seni lewat budaya street art dan musik hip-hop. Kiwari, kedua elemen yang ditekuninya beberapa waktu terakhir itu hadir dalam pesona lukis abstrak penuh warna.
"Saat membuat karya saya selalu menganalogikan seperti sedang membuat musik rap. Sebab di sana ada peleburan jenis musik lain. Secara visual saya juga meleburkan bentuk dan warna jadi komposisi abstrak," katanya pada Hypeabis.id.
Hidup di tengah budaya urban, Stereoflow juga mengangkat kota sebagai inspirasi dalam karyanya. Jakarta, sebagai kota tempat dia hidup dan berkarya, menjadi pusat eksplorasinya. Jakarta sebagai panci lebur. Kota yang tumbuh dari kelindan persoalan.
Refleksi tersebut lalu dihadirkan di atas kanvas hasil interpretasinya atas tata ruang. Seperti dalam karya bertajuk Rhy-them Rhy-me dan Vibes Don't Lie, yang seolah ingin memaknai bentuk tata kota dengan tembok, aspal jalanan, serta kelas sosial yang timpang.

Pengunjung menikmati pameran Vibes Don't Lie di Rachel Gallery (sumber gambar: Rachel Gallery)
Dualisme kota juga tercermin dari ketegasan garis yang lurus dan menyiku. Namun, di bidang yang lain, dia juga menimpanya dengan garis yang melengkung dan memburai. Spontanitas juga hadir lewat sapuan cat semprot yang mencerminkan kebebasan untuk menggambarkan energi liar dari kota.
Alhasil, komponen bentuk dan warna yang saling tumpang tindih ini, akhirnya melahirkan sebuah keserasian. Dari sepilihan karyanya yang terkesan abstrak, Stereoflow seperti sedang menciptakan harmoni dari keacakan ritme, layaknya sebuah komposisi dengan cara yang jujur.
Menurut Adi, di dalam tata kotanya yang sumpek, Jakarta adalah ruang yang paradoks. Ini terwakili lewat struktur fisiknya atau bangunan yang menampilkan keteraturan dalam satu sisi, akan tetapi penuh kekacauan di sisi lainnya. Ada harmoni dan kontradiksi di sana.
Namun, lewat ruang fisiknya yang tidak teratur itu, dia justru menemukan pola dan harmoni yang tidak terduga. Kedua elemen ini tidak hanya berdampingan tetapi juga saling menguatkan, menciptakan sebuah narasi visual yang menggugah sekaligus menggugat.
Kultur Urban
Musik hip hop memang tak bisa dilepaskan dengan isu sosial. Sajak dan lirik dalam musik ini biasanya membahas topik-topik yang memprovokasi seperti seks, kekerasan, dan masalah sosial-politik. Singkat kata hip hop adalah musik protes.Di Indonesia, jenis musik ini mulai populer pada dekade 90-an. Salah satu tokoh ikoniknya adalah Iwa Kusuma alias Iwa K. Munculnya Hip Hop juga beriringan dengan tren fesyen seperti atribut jaket, kaos gombrong, dan tentu saja mural.
Syahdan, Stereoflow mengaplikasikan teknik-teknik seperti tempo dan beat, dari dari musik ini untuk digunakan dalam pengkaryaannya. Hasilnya, adalah kanvas yang bernuansa dinamis, penuh daya hidup di bidangnya saat diekspresikan lewat warna.
Idiom-idiom dengan tekstur halus dan keras, pejal dan lembut kemudian muncul di bidang kanvasnya. Semua menyatu dalam keriuhan warna neon yang berani. Misal dalam karya bertajuk Cypher Checker, Solid Stance dan Free Spirits On Me.

Sejumlah karya Stereoflow dalam pameran Vibes Don't Lie di Rachel Gallery (sumber gambar: Rachel Gallery)
Gallery Manager Rachel Gallery, Kasandra Nadia mengatakan, pada pameran tunggalnya kali ini, Stereoflow juga telah menampilkan evolusi artistik. Setiap karyanya seolah ingin menangkap esensi kota sebagai ruang yang hidup yang terus bergerak.
Penggunaan warna yang sebelumnya berani dan mencolok berubah menjadi palet warna yang lebih tenang. Ini berbeda dari pameran-pameran tunggal sebelumnya. Pertumbuhan usia dan bertambahnya pengalaman ditengarai menjadi salah satu faktor.
Menurut Kasandra, tidak ada pesan eksplisit atau narasi tunggal dari karya-karyanya dalam pameran ini. Sebab sang seniman menginterpretasi secara jujur dari apa yang dilihat dan rasakan. Publik dibebaskan untuk menafsir lukisan-lukisannya yang penuh warna.
"Stereoflow ingin memberikan ruang untuk kita mengeksplorasi perasaan atas keragaman dari kota, entah dalam bentuk fisik maupun perasaan. Ini adalah ajakan untuk menemukan sinestesia dari sebuah karya seni yang ekspresif," katanya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor: Nirmala Aninda
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.