Meditasi untuk kesehatan mental (Lutchenca Medeiros-ilustrasi-Unsplash)

Keseimbangan Hidup Dimulai dari Kesehatan Fisik & Mental

29 August 2021   |   13:33 WIB
Image
Fajar Sidik Hypeabis.id

Keseimbangan dalam kehidupan, terutama antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi sangat penting dalam membentuk kualitas kesehatan seseorang. Salah satu faktor yang menentukan dalam menciptakan keseimbangan hidup itu adalah dengan menjaga kesehatan fiaik dan kesehatan mental.

Keterbukaan pada kondisi diri sendiri, baik secara fisik maupun psikis, menurut seniman Hanna Alfikih atau dikenal dengan nama Hanna Madness adalah langkah penting menyeimbangkan kehidupan diri sendiri dan pekerjaan. Keterbukaan sosial dan keseimbangan hidup menjadi langkah preventif mencegah gangguan kesehatan mental.
 
“Aku pribadi memang concern pada masalah kesehatan jiwa karena aku pun mengalami disabilitas mental. Maka menjadi penting sekali untuk membuka diri pada keluarga, teman-teman, dan lingkungan pekerjaan tentang kebutuhan kita,” kata Hanna pada medio April 2020.
 
Seniman doodle arts yang pernah menjadi delegasi dari British Council Indonesia untuk mengikuti Unlimited Festival di London pada 2016 lalu menjelaskan pentingnya keterbukaan pada sesama untuk menjadi support system atau care giver.

Dia pun membagikan kiat sukses menyeimbangkan kehidupan pribadi dan pekerjaan atau work life balance antara lain.
 
1. Butuh support system
Hanna mengungkapkan bahwa saat dia menyadari mengalami disabilitas mental dalam mengatur emosi, dia pun membutuhkan support system untuk membantunya mengelola proyek-proyek seni. Hal itu menjadi penting, apalagi jika seniman tersebut sudah profesional dan klien tahu ritme kerja seniman tersebut.
 
“Kalau kesulitannya banyak, tak bisa mengontrol keadaan emosional, itu malah jadi sulit. Deadline berantakan, emosi tak stabil. Kalau ada support system, relasi sosial yang baik, kondisi seperti itu bisa diminimalisir,” sambungnya.

2. Pentingnya keterbukaan.
Diperlukan keterbukaan antara pekerja apapun termasuk pekerja seni dengan kolega ataupun atasan. Beberapa contoh, jika Anda hendak mengambil cuti untuk pergi ke psikolog dan psikiater, hal itu harus jujur disampaikan kepada atasan.
 
“Seharusnya saat mengatakan itu pun tidak ada stigma dan rasa malu untuk terbuka. Hal itu bisa menunjang produktivitas ke depannya,” kata Hanna.
 
3. Memerhatikan kesehatan tubuh.
Selain peduli pada kesehatan mental seorang pekerja, juga harus peduli pada kesehatan fisik. Misalnya, jika dirasa bobot tubuh tak sehat dan kurang ideal, tak perlu malu untuk pergi berkonsultasi ke ahli gizi. Tujuannya, dengan menjaga berta badan ideal yang sehat bisa menunjang produktivitas.
 
“Lalu juga misalnya bagaimana menyeimbangkan olahraga, meditasi, itu semua bisa didatangkan dari ahlinya. Kantor pun bisa didorong menciptakan lingkungan yang sehat, bukan saling menindas,” ujarnya. (Dok. Bisnis Weekly April 2020).

Editor: Fajar Sidik
 

SEBELUMNYA

Tips Menyembunyikan Kabel agar Ruangan Lebih Rapi

BERIKUTNYA

Kandungan Metal Bikin Warna Cat Rambut Tidak Sesuai Ekspektasi

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: