Ilustrasi vaksin Covid-19 (dok. Pexels)

Apa Kabar Vaksin Merah Putih? Berikut Progres Lembaga Eijkman

24 August 2021   |   09:59 WIB

Indonesia tengah mengembangkan vaksin lokal yang diberi nama Vaksin Merah Putih. Ada 6 lembaga yang terlibat dalam pengembangannya termasuk di antaranya Universitas Airlangga (Unair) dan Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman. Sejauh ini, Unair yang dinilai memiliki progres lebih cepat karena sudah memasuki uji klinik fase 2 pada hewan. Lantas bagaimana dengan vaksin yang dikembangkan Eijkman?

Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Amin Subandrio mengatakan timnya telah menyelesaikan tahap penelitian dan pengembangan (R&D) bibit vaksin. “Sudah selesai dan saat ini sudah dalam proses transisi ke industri agar vaksin bisa diproduksi,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Kendati demikian, untuk bisa diproduksi ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Antara lain scalling up atau memproduksinya dalam jumlah besar karena di laboratorium hanya diproduksi dalam volume yang kecil. Kemudian optimasi alias menyesuaikan kondisi yang ada di industri. Kemudian meningkatkan yield atau produktivitas. 

“Setelah itu, baru kita akan mulai uji praklinik pada hewan. Kita harap bisa diselesaikan sebelum akhir tahun ini agar segera kita bisa mulai uji klinik fase 1, 2, dan 3 pada akhir tahun atau awal tahun depan,” jelas Amin. 

Adapun dalam Vaksin Merah Putih buatan Eijkman menggunakan platform protein rekombinan. Memang kata Amin ini bukan platform paling baru namun juga bukan yang paling kuno. 

Platform ini dipilih karena teknologinya sudah dikenal baik oleh industri farmasi di negara berkembang yang bisa membuat vaksin. Platform ini juga dikenal sebagai platform yang relatif murah dengan yield yang cukup tinggi, dan dari aspek keamanan dan efektivitas pun bagus. 

“Untuk Indonesia sejak awal tahun lalu ketika mulai bicara dengan Biofarma, saat ini yang paling visibel untuk cepat dilanjutkan ke industri adalah platform protein rekombinan ini dilihat kesiapan industri,” bebernya.

Soal apakah vaksin ini juga efektif terhadap varian Covid-19 yang  terus berkembang, Amin menyebut sudah menyiapkan langkah antisipasi. “Kami sudah menyiapkan cara-caranya untuk jika sewaktu-waktu disesuaikan virusnya, di lab sudah siap melakukan itu,” imbuhnya,

Dalam pengembangan Vaksin Merah Putih ini, Eijkman sebelumnya harus menghadapi kendala teknis dalam hal penyediaan reagen (pereaksi kimia) dan peralatan yang saat ini masih impor, terutama pada awal pandemi karena banyak penerbangan yang dibatalkan. “Selain itu harganya jadi lebih tinggi,” katanya.

Namun lepas dari itu semua, Eijkman bisa menyelesaikan proses pembuatan vaksin ini tepat waktu dan sesuai prosedur yang mementingkan aspek keamanan serta efikasi.

“Kita mengharapkan, karena uji klinik sekitar 8 bulan, EUA bisa diberikan di tengah-tengah uji klinik fase 3. Kita berharap di pertengahan tahun 2022 bisa mendapatkan EUA,” tuturnya. 

Minta 1 Dosis

Epidemiolog dari Griffith University Dicky Budiman menerangkan vaksin Covid-19 yang ideal selain aman, harus memiliki efikasi yang tinggi. Bila perlu, efektif hanya satu kali suntik. “Dua kali suntik bagaimanapun sulit, apalagi Indonesia banyak penduduknya, berat,” sebutnya.

Selain itu, vaksin selayaknya bisa disimpan hanya dalam suhu kamar sehingga mudah untuk didistribusikan. Bahkan jika memungkinkan vaksin dibuat agar bisa digunakan secara mandiri.

Dicky mengatakan saat ini di dunia tengah mengembangkan sejumlah metode vaksinasi. Ada yang bentuknya pil dan spray ke hidung yang sifatnya dilakukan dalam satu kali pemberian. 

“Ke depan harus diperhitungkan masalah kemudahan dan juga terobosan.
Itu harus jadi pemikiran. Dunia berlombanya begitu. Bahkan bsia dikonsumsi sendiri, sekarang ada yang bentuk paket,” tuturnya. 

Dia menambahkan agar Indonesia turun mengembangkan vaksin Covid-19 dengan platform mRNA. Adapun vaksin ini menggunakan komponen materi genetik yang direkayasa agar menyerupai kuman atau virus tertentu. Dengan demikian vaksin ini dapat memicu reaksi kekebalan tubuh layak Anya virus yang dilemahkan pada vaksin biasa. 

“Kalau kita bisa kembangkan mRNA akan jauh lebih bagus. Untuk jangka panjang, mRNA teknologi vaksin harus kita kuasai karena bukan hanya bermanfaat untuk Covid-19 tapi juga yang lain,” harap Dicky. 


Editor: Avicenna
SEBELUMNYA

Ikuti Langkah Ini untuk Mencegah Stunting dan Gizi Buruk Anak

BERIKUTNYA

Comeback, Key SHINee Akan Rilis Single Pre-Release Berjudul Hate That

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: