Ilustrasi selat (Sumber foto: Unsplash/Jonathan Safa)

Isu Selat Muria Muncul Kembali, Begini Penjelasan BRIN

28 March 2024   |   19:33 WIB
Image
Dika Irawan Asisten Konten Manajer Hypeabis.id

Setelah Kabupaten Demak dan sekitarnya dilanda banjir beberapa waktu lalu, perbincangan tentang Selat Muria mengemuka. Selat ini dahulu memisahkan Pulau Jawa dan Pulau Muria.  Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, menyoroti pentingnya penelitian terkait isu munculnya kembali Selat Muria ini. 

Adrin menegaskan bahwa perlu adanya pemahaman yang komprehensif terkait karakteristik sumber bahaya geologi untuk melakukan mitigasi bencana secara efektif. “Isu munculnya Selat Muria ini perlu dilihat dari kejadian bencana banjir besar yang terjadi di wilayah pesisir Demak akibat faktor cuaca ekstrim dan juga kontribusi penurunan tanah. Untuk itu riset terkait aspek cuaca ekstrim, dan penurunan tanah sangat penting dilakukan di wilayah pesisir Demak,” ungkap Adrin dalam keterangan tertulis, Kamis (28/3/2024). 

Baca juga: Marak Bencana, Perhatikan 5 Tanda & Antisipasi Sebelum Banjir Bandang

“Isu munculnya Selat Muria ini perlu dilihat dari kejadian bencana banjir besar yang terjadi di wilayah pesisir Demak akibat faktor cuaca ekstrim dan juga kontribusi penurunan tanah. Untuk itu riset terkait aspek cuaca ekstrim, dan penurunan tanah sangat penting dilakukan di wilayah pesisir Demak,” ungkapnya.

Adrin menekankan bahwa pentingnya melakukan riset terkait cuaca ekstrim dan penurunan tanah di pesisir Demak sebagai upaya untuk memahami serta mengurangi risiko bencana. Sebelumnya, tim peneliti dari LIPI telah mengungkapkan hasil riset mereka pada periode 2017-2019. Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa laju penurunan tanah di wilayah Kota Demak mencapai 2,4 - 2,5 cm/tahun, yang disebabkan oleh proses pemadatan alami dan penurunan muka air tanah.

Di sisi lain, Adrin menjelaskan bahwa fokus riset di Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN terkait dengan empat jenis bencana geologi utam, yaitu gempa bumi, tsunami, gunungapi, dan gerakan tanah. Ada lima fokus riset yang dijalankan, meliputi riset dan inovasi terkait bahaya gempa bumi, tsunami, gunung api, gerakan tanah, serta kajian risiko dan resiliensi bencana geologi.

Kegiatan riset dan inovasi yang dilakukan mencakup pemetaan dan pemodelan sumber bahaya geologi, dengan tujuan mendapatkan pemahaman yang komprehensif terkait karakter sumber bahaya geologi dan periode ulang kejadian. 

Selain itu, fokus juga diberikan pada pengembangan teknologi pemantauan dan peringatan bahaya geologi, yang telah diimplementasikan di beberapa daerah risiko bencana geologi, seperti zona Sesar Lembang dan wilayah Selat Sunda.

Adrin menggarisbawahi bahwa riset dan inovasi di bidang kebencanaan geologi merupakan langkah krusial dalam memitigasi risiko bencana secara efektif. Menurutnya, dengan pemahaman yang mendalam terhadap karakteristik sumber bahaya geologi dan penerapan teknologi pemantauan yang tepat, diharapkan masyarakat dapat lebih siap menghadapi ancaman bencana alam, termasuk potensi risiko di sekitar Selat Muria.

“Mitigasi bencana itu memerlukan pengetahuan yang komprehensif mengenai karakteristik sumber bahaya geologi. Riset kebencanaan geologi yang dilakukan harus dapat menghasilkan informasi ilmiah terkait karakteristik sumber bahaya geologi dan kerentanan suatu wilayah terhadap risiko bencana dan juga teknologi pemantauan sumber bahaya yang murah untuk dapat mendukung upaya mitigasi bencana geologi secara efektif,” bebernya.

Dengan demikian, penelitian dan inovasi yang terus dilakukan di Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam menjaga keamanan dan keselamatan masyarakat dari ancaman bencana alam di seluruh Indonesia.

Sejarah Selat Muria

Selat Muria dulunya merupakan selat yang menghubungkan Laut Jawa dengan Jepara dan Pati di Jawa Tengah. Selat ini terletak di sebelah utara Jawa dan di selatan Pulau Muria. Pada masa jayanya, Selat Muria merupakan jalur perdagangan maritim yang ramai, dengan kota-kota perdagangan seperti Demak, Jepara, Pati, dan Juwana.

Namun, pada sekitar 1657, terjadi pendangkalan akibat sedimentasi dari sungai-sungai yang bermuara di selat ini. Pendangkalan ini diperparah dengan adanya gempa bumi yang menyebabkan penurunan muka tanah. Akibatnya, Selat Muria menghilang dan Pulau Muria menyatu dengan Pulau Jawa.

Baca juga: Ini 5 Film Bencana Terlaris Sepanjang Masa

Editor: Puput Ady Sukarno

SEBELUMNYA

10 Peringkat Sekolah Mode Terbaik di Dunia yang Sukses Cetak Desainer Berbakat

BERIKUTNYA

Konsumsi 5 Makanan Ini Untuk Meningkatkan Kemampuan Daya Ingat

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: