Ilustrasi jam tangan mewah. (Sumber gambar: Luxehouze)

Bukan Mobil Mewah, Tetapi Ini Produk Paling Dicari Crazy Rich

03 December 2023   |   18:30 WIB
Image
Luke Andaresta Reporter Hypeabis.id| Menulis seputar arsitektur, desain interior, buku, musik, dan film.

Barang mewah dengan harga tinggi seringkali dipandang sebagai simbol sekaligus standar kemapanan, keberhasilan dan kesuksesan. Tak ayal, jika banyak orang tertarik pada barang mewah sebagai salah satu cara untuk menunjukkan pencapaian dan status mereka kepada orang lain.

Ketika mengalami peningkatan dari segi pendapatan, seseorang pun cenderung mencari cara untuk meningkatkan statusnya. Hal inilah yang membuat pasar barang mewah masih terus potensial hingga saat ini.

Baca juga: Fakta-fakta Menarik Royal Wedding Crazy Rich Surabaya Ryan Harris & Gwen Ashley

Data dari Bain & Company bersama Altagamma, asosiasi industri produsen barang mewah Italia, menunjukkan bahwa pasar barang mewah global diproyeksikan mencapai 1,5 triliun Euro pada 2023. Angka itu tercatat tumbuh sebesar 8 persen -10 persen dibandingkan 2022.

Pertumbuhan itu juga terjadi di lingkup Asia. Luxehouze, platform barang mewah berbasis di Singapura, melaporkan bahwa sejak berdiri pada 2021, pasar barang mewah terus tumbuh positif. Dari keseluruhan penjualan, harga jam tangan mewah mencapai rekor tertinggi pada kuartal pertama 2022. 

Founder Luxehouze Shawn Ting menuturkan, tren penjualan bisnis barang mewah di Luxehouze berlangsung dinamis. Berdasarkan klasifikasi, segmen pembeli barang mewah seperti jam tangan dapat dibedakan menjadi tiga jenis.

Pada konsumen pemula, berada di kisaran harga sekitar Rp230 juta. Sedangkan segmen pembeli kelas menengah berada di kisaran Rp800 juta, disusul segmen pembeli kelas atas bernilai di atas Rp900 juta.

Adapun, barang mewah yang paling banyak dicari oleh pelanggan Luxehouze adalah jam tangan, seperti Rolex, Audemars Piguet, dan Franck Muller. "Meskipun spesialisasi konsumen Luxehouze berada di segmen kelas atas, kami telah melihat pertumbuhan yang kuat di setiap segmen kami," katanya kepada Hypeabis.id.
 

Konsumen Barang Mewah

Shawn menjelaskan bahwa kalangan konsumen barang mewah umumnya terbagi dua, yakni Sophisticated Luxury Consumer dan General Luxury Consumer. Sophisticated Luxury Consumer adalah kalangan konsumen dengan pengetahuan yang besar mengenai merek dan pasar barang mewah, sehingga sangat mementingkan elemen eksklusivitas, keahlian dari produk tersebut, serta pengalaman berbelanja yang menyeluruh.

Sementara General Luxury Consumer adalah kalangan pembeli dan peminat barang mewah yang datang dari berbagai latar belakang sosial. Di samping itu, konsumen barang mewah juga kini banyak yang berasal dari kalangan anak muda atau milenial.

"Para pembeli dari segmen ini seringkali membeli barang mewah karena melihat tren dari aktivitas pergaulan mereka di media sosial. Kami melihat bahwa segmen konsumen ini berkembang sangat cepat," kata Shawn.

Untuk meningkatkan penjualan, Shawn mengatakan strategi promosi yang dilakukan pihaknya selalu berpusat pada layanan yang andal. Utamanya adalah layanan concierge-service, dimana konsumen dapat memiliki produk mewah dengan mudah termasuk pre-order. Dengan begitu, pembeli bisa memiliki barang yang terpersonalisasi.

Sementara dari segi layanan consignment service, konsumen bisa menjual barang mewah dengan perkiraan harga dalam waktu kurang dari 48 jam, termasuk proses pemeriksaannya. Setelah tim ahli autentikasi memeriksa kondisi dan keaslian barang tersebut, nantinya akan dijual kepada jaringan klien global sehingga penjual akan menerima pembayaran dengan waktu 3 hari kerja.
 

Tantangan Bisnis Mewah

Dalam menjalankan bisnis barang mewah, Shawn menyebutkan ada beberapa tantangan yang dihadapi. Pertama, perubahan selera konsumen. Selera konsumen dapat berubah seiring waktu dan bisnis barang mewah harus dapat mengikuti tren dan memahami preferensi pelanggan untuk tetap menjadi relevan.

Kedua, pengaruh teknologi. Kemajuan teknologi, terutama e-commerce, dapat menjadi tantangan bagi bisnis barang mewah yang tradisional. Menyesuaikan diri dengan platform daring, melibatkan pelanggan melalui media sosial, dan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan pengalaman pelanggan adalah hal yang perlu dipertimbangkan dalam menjalankan bisnis ini.

Ketiga, perekonomian global. Fluktuasi kondisi ekonomi global dapat mempengaruhi daya beli konsumen di berbagai pasar. Oleh karena itu, bisnis barang mewah perlu mampu menavigasi ketidakpastian ekonomi, dan beradaptasi dengan perubahan dalam permintaan konsumen secara general.

Shawn menambahkan, bisnis barang mewah ke depan masih akan terus potensial selama perekonomian global terus berkembang, khususnya di negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi yang kuat. "Kenaikan pendapatan per kapita juga dapat mendorong konsumen untuk mengalokasikan sebagian dari pendapatan mereka untuk pembelian barang mewah," katanya.

Faktor lain yang turut mendorong pasar barang mewah ialah pertumbuhan jumlah populasi dengan daya beli tinggi, sehingga dapat memainkan peran besar dalam mempertahankan atau meningkatkan minat terhadap barang mewah. Termasuk, pengaruh kultur dan gaya hidup.

"Jika nilai-nilai yang terkait dengan barang mewah terus dihargai dan diinginkan oleh masyarakat, minat terhadap produk-produk ini kemungkinan akan tetap tinggi," katanya.

Pakar Marketing Inventure Consulting Yuswohady menilai tren bisnis barang mewah selama ini cenderung bergerak stabil. Hal itu lantaran bisnis satu ini ditopang oleh kemampuan orang-orang kaya yang seleranya cenderung tidak tergantung dengan pergerakan tren ataupun krisis. Selain itu, penanda mewah pun sampai saat ini masih dinilai dari segi merek dan harga. 

Khusus di Indonesia, dia berpendapat perkembangan bisnis barang mewah juga tak terlepas dari ketimpangan sosial yang ada. Lantaran sebagian besar masyarakat berasal dari kalangan menengah ke bawah, banyak orang kaya yang akhirnya berlomba-lomba untuk menaikkan statusnya. Ada semacam kebanggaan tersendiri jika bisa menunjukkan simbol kesuksesan dan kemapanan dengan memiliki barang mewah.

"Begitu orang sudah sampai pada kekayaan tertentu, maka kebutuhan yang sifatnya emosional, privilese, dan identitas diri itu akan naik. Jadi marketnya memang enggak melesat, tapi stabil," katanya.

Menurut Yuswohady, bisnis barang mewah di Indonesia ke depannya bakal terus berkembang. Dia melihat kini Indonesia tengah bergerak untuk menjadi negara maju mengikuti China, sehingga potensi pertumbuhan orang kalangan menengah menuju kelas atas di dalam negeri diperkirakan bakal meningkat. "Munculnya orang-orang kaya baru menjadi demand untuk pasar ini," imbuhnya.

Baca juga: Bus Mania Merapat, Cek Rekomendasi 5 Bus Mewah ala Sultan untuk Liburan di Tanah Air

Editor: Dika Irawan

SEBELUMNYA

Cek Ragam Fasilitas Penyandang Disabilitas di Kereta & Stasiun Kereta Cepat Whoosh

BERIKUTNYA

Mulai 2024 Masuk Tol Enggak Perlu Lagi Ngetap, Pemerintah Siapkan Teknologi Multi Lane Free Flow

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: