Buku Melati Suryodarmo. (Sumber gambar: Museum MACAN)

Museum MACAN Luncurkan Buku Melati Suryodarmo, Dua Dekade Kiprah Karier Sang Seniman

24 September 2023   |   21:12 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Museum MACAN mengumumkan peluncuran buku tentang seniman Indonesia, Melati Suryodarmo. Diterbitkan berkat kolaborasi dengan Ikon Gallery yang berbasis di Birmingham, Inggris Raya, buku bersampul merah menyala ini adalah arsip komprehensif mengenai karya-karya Melati Suryodarmo selama dua dekade terakhir.

Buku setebal 220 halaman ini akan menitikberatkan pada karya-karya pertunjukan utama Melati Suryodarmo. Publikasi ini memperingati dua pameran besar yang diselenggarakan oleh Museum MACAN dan Ikon Gallery di Jakarta dan Birmingham, masing-masing pada 2020 dan 2023.

Baca juga: Mengungkai Imaji Ruth Marbun dalam Pameran Perangai di Artsphere Gallery

Berjudul Melati Suryodarmo, buku ini akan hadir dalam bahasa Indonesia dan Inggris, dan menawarkan pandangan yang mendalam terhadap praktik sang perupa yang dieksplorasi oleh tiga kurator terkemuka yang telah lama mengamati dan memahami karya sang seniman, di antaranya Alia Swastika, Philippe Pirotte, dan Asep Topan.
 

F

Buku Melati Suryodarmo. (Sumber gambar: Museum MACAN)

Selain itu, buku ini juga memuat perbincangan antara Melati Suryodarmo dan Melanie Pocock selaku Direktur Artistik Pameran di Ikon Gallery. Termasuk, dokumentasi dari pameran Why Let the Chicken Run? yang diselenggarakan di Museum MACAN pada 2020 dan Passionate Pilgrim yang diselenggarakan di Ikon Gallery pada 2023.

"Publikasi dwibahasa ini memberikan kontribusi yang penting terhadap pengetahuan dan penelitian seni kontemporer di Indonesia. Buku ini juga menyoroti perkembangan seni rupa Indonesia dari sudut pandang salah satu seniman Indonesia yang paling berpengaruh," tulis Museum MACAN dalam keterangan resminya.

Adapun, buku Melati Suryodarmo kini telah tersedia di toko shopatMACAN baik secara fisik daring dengan harga Rp380.000.
 


Melati Suryodarmo adalah seorang seniman performans, direktur artistik, koreografer, dan penggagas Studio Plesungan di Surakarta, Indonesia, yang karya-karyanya diakui secara internasional. Dia memiliki gelar Master of Fine Arts (MFA) dalam Seni Performans dari Hochschule für Bildende Künste Braunschweig, Jerman, pada 2002.

Ciri khas dari karya-karya Melati adalah elaborasi pengalaman tubuh dengan pantulan budaya, sosial, politik, dan konstelasi tempat hidup yang dibawakan dalam long durational performance atau pertunjukan berdurasi panjang. 

Di tiap penampilannya, dia kerap bercerita tanpa kata, hanya mengandalkan gesture, mimik wajah, bantuan audio visual, dan properti sederhana seperti bola hitam, arang, mentega, dan cat.

Sepanjang dua dekade kiprahnya di dunia seni performans, seniman kelahiran 12 Juli 1969 itu telah menghasilkan puluhan karya, di antaranya yang paling termahsyur ialah The Butter Dance (2000), The Promise (2002), I Love You (2007), The Black Ball (2004), Kleidungsaffe (2006), The Lover Across The Sea (2013), I’m a Ghost in My Own House (2012), dan Transactions of Hollow (2017).

Hampir seluruh karya Melati berangkat dari hasil riset dan pengamatannya akan isu sosial, politik, represi pada perempuan, dan lainnya. Dalam The Black Ball misanya, sang seniman duduk di atas sebuah kursi yang digantung pada dinding setinggi 2 meter, mengenakan daster, dan memegang bola hitam.

Dari karya itu, Melati ingin menyuarakan ketidakadilan, domestifikasi, dan pembungkaman manusia untuk berpendapat. Sang seniman membagi durasi penampilannya ke dalam 8 jam, 10 jam, dan beberapa hari. 

Sejak delapan tahun terakhir, ia juga aktif berkarya di Studio Plesungan dengan berbagai kegiatan seperti, Performance Art Laboratory Project (PALA) dan Dance Laboratory Project (D_LAP).

Karya perempuan yang akrab disapa Mbak Mel ini juga telah dikenal dan diakui kancah seni dunia. Sejumlah karyanya yang telah keliling ke berbagai negara Eropa diantaranya 50th Venice Biennale (2003), Markingthe Territory, IMMA Dublin, Museum Van Gogh Amsterdam (2005), Videobrasil Sao Paolo (2005), Haus der Kulturen der Welt Berlin, 52nd Venice Biennale Dance Festival (2007), Manifesta7, Bolzano, Italia (2008), dan In Transit Festival, HKW Berlin (2009).

Sementara di Indonesia, sejak empat tahun terakhir, seniman asal Surakarta itu telah menampilkan karya di antaranya, Almost There (2011), Sisyphus (2014), Pinjam di Dewan Kesenian Jakarta (2016), Tommorow As Purposed (2016), Sakshat (2018), Vertical Recall di Komunitas Salihara (2017), Opera Gandari (2019), dan Pentas Bincang Musim Seni Salihara (2020). Terbaru, pada Februari – Mei 2020, Melati merayakan dua dekade lebih perjalanan artistiknya dengan menggelar pameran Why Let The Chicken Run? di Museum MACAN.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Nirmala Aninda

SEBELUMNYA

Eksklusif Profil Sejarawan Peter Carey: Waktunya Peduli & Merayakan Sejarah

BERIKUTNYA

9 Film & Serial Siap Tayang Oktober 2023 di Disney+ Hotstar, Ada Loki Season 2

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: