Seseorang yang Menerapkan Gaya Hidup Sustainable. (Sumber gambar: Pexels/Sarah Chai)

Hypereport: Menata Gaya Hidup Lebih Ramah Lingkungan & Berkelanjutan

02 September 2023   |   17:31 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Like
Sebagai lulusan ilmu kelautan, Zahara Lindra mempelajari seluk beluk tentang laut termasuk kerusakan dan pencemaran yang terjadi di lautan. Bahkan, tugas akhirnya membahas tentang pencemaran logam berat di laut. Rupanya, latar belakang pendidikannya membuat dirinya tergerak untuk turut berkontribusi dalam menjaga lingkungan.

Di samping karena latar belakang studinya, Zahara juga prihatin melihat kelangsungan hidup penyu yang rentan akibat banyaknya sampah plastik di laut. Bukan kekhawatiran semata. Pasalnya, sebuah penelitian yang dilakukan oleh para penliti di University of Exeter Inggris memang menyebutkan bahwa sampah plastik telah membunuh 1.000 penyu laut setiap tahunnya.

Berangkat dari keprihatinannya itu, Zahara lantas mulai mencari banyak informasi mengenai sustainable living, gaya hidup yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Sebagai manusia, dia merasa memiliki tanggung jawab dan kewajiban untuk menjaga lingkungan dengan tidak terus-menerus memproduksi sampah.

Baca juga laporan terkait:
Hypereport: Putuskan Pensiun Dini karena Frugal Living

Hypereport: Gaya Hidup Minimalis, Bukan Sekadar Berhemat
Hypereport: Menjalani Hidup yang Bermakna dengan Slow Food & Slow Living


Baginya, setiap sampah yang ditimbulkan, itu merupakan sebuah tanggung jawab yang besar. Sekali memproduksi sampah seperti botol atau gelas plastik, dia bertanggung jawab untuk mengelolanya. Salah satunya dengan menyalurkan sampah tersebut ke lembaga atau komunitas pengelola sampah.

Dalam pandangannya, sustainable living adalah gaya hidup berkelanjutan yang secara terus-menerus bisa dia lakukan, dengan meminimalisir dampak-dampak negatif untuk lingkungan sekitarnya.

Sejak 2017, perempuan yang akrab disapa Zara itu mulai memperbaiki gaya hidupnya yang tujuan utamanya adalah mengurangi sampah. Dia mulai membawa kotak makan dan tumbler untuk membawa ataupun membeli makanan di luar rumah. Selain itu, dia juga sebisa mungkin membeli kebutuhan bahan-bahan makanan dengan cara refill untuk mengurangi sampah kemasan plastik.

Begitupun ketika sedang haid, dia lebih memilih untuk menggunakan pembalut kain yang bisa dicuci dan dipakai berulang kali, alih-alih membeli pembalut sekali pakai dan langsung dibuang.

Tak hanya dari sisi konsumsi kebutuhan sehari-hari, Zara juga perlahan memanfaatkan barang-barang yang sudah tidak terpakai seperti pakaian untuk menjadi barang baru yang lebih fungsional seperti lap meja atau tas tangan.

Menurutnya, dengan memproduksi sampah terus-menerus tanpa ada kesadaran untuk menguranginya, secara tidak langsung akan membuat kondisi lingkungan semakin buruk. Hasilnya, itu akan menjadi ancaman bagi kelangsungan dan kenyamanan hidupnya sendiri juga orang lain.

"Satu yang aku percaya adalah sekecil apapun hal yang aku lakukan malah bikin hidup buruk orang lain, ya aku akan kebawa dosanya. Meskipun itu sampah yang sudah aku buang. Aku lagi belajar untuk meminimalisir menjadi beban untuk orang lain," katanya saat dihubungi Hypeabis.id.
 

Seiring waktu, gaya hidup yang dijalani oleh Zara ini menuntunnya untuk hidup lebih mindful atau berkesadaran. Dia cenderung lebih bisa merasakan sekaligus menikmati sekecil apapun hal yang terjadi dan dimiliki dalam hidupnya. Begitupun dalam mengambil keputusan, dia akan lebih memikirkan dampak yang akan terjadi terutama dalam hal konsumsi.

Misalnya, ketika makan, dia telah memperkirakan seberapa banyak makanan yang harus ditaruh di atas piring semata untuk mengurangi sampah makanan. Begitupun dalam urusan pakaian. Dia akan mempertimbangkan betul kapan saatnya harus membeli pakaian baru. Menurutnya, secara tidak langsung, kondisi ini mengurangi distraksi dalam hidupnya.

Baca juga: Tren Sustainable Fashion, Zero Waste Kian Jadi Perhatian Para Desainer

"Semakin sedikit distraksi yang aku punya dalam hidup, semakin tenang aku jadinya. Karena sustainable ini kan mengatur pola konsumsi, dengan begitu aku jadi tidak banyak beli atau mengadopsi barang yang akhirnya bikin distraksi baru di hidup aku," katanya.

Meski demikian, pola hidup yang dijalaninya itu berlangsung bukan tanpa hambatan. Zara mengatakan bahwa meski dia sudah berusaha untuk mengurangi sampah, lingkungan sekitarnya belum sepenuhnya mendukung sikapnya tersebut.

Misalnya, ketika di kantor, dia belum bisa menghindari kebiasaan menghasilkan sampah kertas yang berasal dari dokumen-dokumen pekerjaan. Begitupun ketika dia diberikan makanan oleh rekannya di kantor. Mau tak mau, akhirnya dia turut menghasilkan sampah.

Namun, semua itu tidak menyurutkan semangatnya untuk terus menjalani pola hidup yang berkelanjutan. Untuk mengajak lebih banyak orang sadar akan pentingnya mengurangi sampah, dia juga aktif membuat konten-konten edukatif seputar gaya hidup ramah lingkungan yang diunggah di akun media sosialnya.
 

Menciptakan Perubahan untuk Bumi Kita

Ya, seiring dengan kondisi planet Bumi yang semakin krisis, makin banyak orang yang mulai menjalankan gaya hidup yang berkelanjutan. Tujuan hidup berkelanjutan adalah memenuhi kebutuhan sehari-hari sambil meminimalkan dampak buruk bagi lingkungan dan menjaga keseimbangan ekosistem.

Konsep kehidupan berkelanjutan merupakan tahapan paling sederhana untuk memperkuat target tujuan pembangunan berkelanjutan. Praktik ini juga merupakan bentuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Menurut survei yang dilakukan oleh Southern Cross University pada 2019 menyebutkan bahwa 93 persen masyarakat Amerika dan Australia memiliki kepedulian umum terhadap lingkungan. Ada tiga permasalahan yang dinilai sebagai penyebab utama kerusakan lingkungan yakni polusi plastik (40,1 persen), hilangnya keanekaragaman hayati (39,1 persen), dan perubahan iklim (38 persen).

Di Indonesia, sebagian masyakarat kini juga telah memiliki kesadaran dan kepedulian dalam menjaga lingkungan. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Populix disebutkan bahwa 75 persen masyarakat Indonesia sudah berpartisipasi dalam mengelola sampah.

Sejumlah aktivitas yang dilakukan masyarakat dalam mengelola sampah yakni membawa tas belanja sebagaimana dipilih oleh 80 persen responden, membawa botol minuman pribadi (75 persen), membawa wadah pribadi untuk membeli produk tertentu (53 persen), dan menggunakan plastik sampah daur ulang (45 persen).

Selain itu, mereka juga aktif untuk menggunakan sedotan reusable (42 persen), menggunakan paper bag (36 persen), dan mengembalikan botol untuk brand tertentu (18 persen).
 

Hotel Amenities Custom kerja sama Sustaination & Amanjiwo Group (Sumber gambar: Instagram/Sustainhampers)

Hotel Amenities Custom kerja sama Sustaination & Amanjiwo Group (Sumber gambar: Instagram/Sustainhampers)

Aliyya Hanun selaku Public Relations Sustaination mengatakan saat ini kesadaran masyarakat semakin berkembang dan terbuka akan gaya hidup sustainable. Hal ini ditandai dengan  munculnya berbagai peraturan dan fasilitas umum yang mendukung gaya hidup berkelanjutan, serta banyaknya gerakan dan bisnis dengan yang menggaungkan isu kelestarian.

"Faktor yang berpengaruh mungkin salah satunya pemberitaan nyata tentang Indonesia darurat sampah, polusi udara, dan lain-lain yang terasa semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari," katanya.

Dia menuturkan dengan kondisi Bumi yang sudah semakin mengkhawatirkan saat ini, sudah seharusnya bisa menjadi urgensi bagi masyarakat untuk bisa terlibat dan mengambil langkah untuk memulai gaya hidup yang lebih berkelanjutan yang bisa dimulai dari diri sendiri.

Menurut Aliyya, ada sejumlah manfaat yang bisa didapatkan dengan menerapkan pola hidup berkelanjutan di samping turut menjaga lingkungan, yakni mengambil peran penting dalam setiap keputusan di hidup seseorang. Dengan kata lain, sebelum bertindak seperti membeli barang, makanan, dan lain-lain, kita akan berfikir apakah hal itu akan baik untuk kita dan lingkungan.

"Kita juga jadi bisa memperhitungkan segala aspek dalam hidup kita sehingga apa yang dijalani dalam hidup akan penuh tanggung jawab dan minim kesalahan," katanya.

Hampir senada, Psikolog sekaligus Edukator Najelaa Shihab mengatakan ada sejumlah manfaat yang bisa didapatkan ketika seseorang menjalani kehidupannya dengan lebih berkesadaran.

Selain bisa memberikan dampak kesehatan bagi tubuh, pola conscious consumption juga bisa memberikan rasa ketenangan pada jiwa seseorang karena telah membuat keputusan-keputusan untuk mengonsumsi sesuatu dengan bijak.
 
Di samping itu, penerapan gaya hidup seperti itu juga bukan tidak mungkin akan memberikan efek menular yang baik, sehingga menciptakan dampak yang positif pada lingkungan sekitarnya. "Itulah [proses] pendidikan, bukan cuma perorangan tapi kapasitas kolektif yang dibangun untuk menjadi lebih baik dan harus dilakukan secara holistik," ucapnya.

Baca juga: Generasi Muda Perlu Tahu Gaya Hidup Sustainable itu Penting

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Gita Carla

SEBELUMNYA

Hypereport: Putuskan Pensiun Dini karena Frugal Living

BERIKUTNYA

Atraksi Drone hingga Penampilan Musisi Tulus & Kotak Memeriahkan Peresmian TMII

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: