Ilustrasi komunitas musik skena (Sumber foto - Unsplash - Krisjanis Kazaks)

Hypereport: Kaburnya Batasan Musik Indi & Major pada Era Skena

06 August 2023   |   16:00 WIB

Belakangan ini muncul fenomena, saat sekelompok muda mudi melabeli diri mereka dengan sebutan ‘anak skena’. Skena pada dasarnya tidak punya makna dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Akan tetapi, skena merupakan serapan dari scene dalam bahasa Inggris, yang merujuk pada komunitas sub-kultur.

Di dalamnya ada pecinta musik indi.Dalam bahasa gaul, skena adalah singkatan dari sua, cengkerama, kelana. Bisa dibilang anak skena punya kegiatan rutin untuk bersua atau berkumpul dengan komunitasnya, lalu bercengkrama asyik soal musik atau mode, sampai berkelana kemana-mana menjajahi satu tongkrongan ke tongkrongan lainnya di metropolitan. 
 

Baca juga: 
Skena dalam arti sederhananya adalah ruang bagi orang-orang dengan selera musik sama. Mereka bisa saling berbagi pengetahuan dan pengalaman, dan melakukan kegiatan bermusik.

Tongkrongan hit versi anak skena tak lain adalah coffee shop, tapi bukan kedai kopi biasa. Melainkan tempat nongkrong yang tersedia sesi giggs atau live music. Mereka juga tak pernah absen nonton konser-konser band indi favorit. 

Bentuk ekspresi skena juga bukan hanya soal musik, kultur ini juga lekat dengan mode. Dalam hal ini, setiap orang punya acuan gaya yang dianggap paling keren satu tongkrongan. Misalnya rambut berwarna, kaos band oversize, celana kargo loose gombrang, sepatunya harus Docmart atau New Balance, tak lupa mencangklong tote bag kanvas. 

Sejumlah lagu yang masuk ke dalam playlist anak skena misalnya lagu-lagu dari Biru Baru, Coldiac, Fourtwnty, Float, Hindia, Morfem, The Adams, dan lainnya. 

Namun, hadirnya istilah skena di kalangan anak muda, diangap kembali mengkotak-kotakkan tipe musik, seperti major dan indi yang sejak dulu kala sudah bersitegang baik musisi, label, maupun penggemarnya. Benarkah demikian?

Gatut Suryo, Ketua Umum Asosiasi Komunitas Musisi Indie Kreatif (ASKOMIK), menjelaskan apa yang dimaksud dengan indi dan major, serta bagaimana kedua jenis musik ini bisa saling berseberangan dari berbagai aspek. “Indi adalah sebutan untuk para musisi yang berkarya secara mandiri atau independen dan tidak didikte atau diatur oleh label,” ujarnya.

Sebaliknya major adalah musisi yang dinaungi label. Proses perekaman lagu, konsep album dan video klip, sampai strategi pemasarannya diatur oleh manajemen. Lagu-lagu yang diproduksinya pun mengikuti selera pasar. Kemudian, disebut mainstream sebab disukai semua orang. 

“Tapi itu dulu. Sekarang banyak musisi yang punya label tapi berkarya secara independen, artinya label membebaskan musisi untuk membuat lagu sesuai kreativitasnya,” kata Gatut.

Inilah yang kemudian membuat makna indi dan major makin kabur. Pengelompokkan kedua jenis musik tersebut hanyalah istilah lama yang sekarang sudah tidak relevan lagi dengan realita di industri. 

Gatut sendiri sejak lama berkiprah di industri musik sebagai orang yang mendukung para musisi yang berkarya secara independen. Dia juga membentuk ASKOMIK, sebuah asosiasi yang memberdayakan komunitas-komunitas musik indi di Indonesia dan menjadi payung hukum untuk mereka.

Dengan begitu komunitas bisa menjadi tempat mengekspresikan idealisme indi yang dikelola secara profesional. Salah satu Komunitas musik indi, yakni Kamar Musik Nusantara (KMN) telah berdiri sejak 2007. Sebagai wadah bagi para musisi yang melakukan kegiatan bermusik secara positif, terarah, berkarakter, dan berbudaya sehingga bisa memajukan industri kreatif. 

“KMN pernah mengadakan charity konser untuk musisi-musisi yang terdampak pandemi dalam hal ekonomi, hasil dari penjualan tiket masuknya diperuntukkan buat mereka,” kata Yulie Nuke, ketua KMN.

Dalam acara itu, KMN mengadakan acara Latin Charity Night dengan mengundang guru-guru dansa latin dan musisi-musisi dansa latin yang terdampak pandemi. Selain mengadakan konser band indi, kegiatan KMN yang terbaru adalah menyelenggarakan Bincang Musik bersama Mellocinta, band asal Malaysia.

Selain KMN, ada komunitas Star Musik yang selain menjadi tempat berkumpulnya penikmat musik indi, juga menjembatani musisi muda bertalenta untuk terus berkarya. Amy Asharie, ketua komunitas Star Musik membentuk band indi bernama Starway yang beranggotakan Syasa (vokal), Mitch (Vokal & Rap), Fitro (Gitar), dan Marchel (Bass). Sampai saat ini sudah meluncurkan beberapa single seperti Angel Without Wings, Insan Berbudaya, Bumi, dan Rasanya Baru Kemarin Sore.

“Kita sebagai komunitas, mengumpulkan teman-teman musisi indie yang punya talent tapi belum punya wadah untuk berkarya,” ujar Amy.

Editor: Dika Irawan
SEBELUMNYA

Inspirasi Desain Kitchen Set Mewah Elegan, Gampang Ditiru

BERIKUTNYA

Simak Sinopsis & Daftar Pemeran Film The Moon, Salah Satunya D.O EXO

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: