Kecapi dari Cina (Sumber: middermusic.com)

Sekilas Mirip, Ini Perbedaan Alat Musik Kecapi China, Jepang & Korea

24 June 2023   |   14:52 WIB

Secara geografis, China, Jepang, dan Korea Selatan saling berdekatan satu sama lain. Oleh karena itu pertukaran budaya antara ketiga negara tersebut cukup intensif. Tidak menutup kemungkinan juga jika beberapa produk kebudayaan mereka sebenarnya saling terikat.

Hal itu dapat dilihat dari salah satu tipe alat musik dari ketiga negara ini yang memiliki banyak kesamaan. Alat musik tersebut dalam bahasa Indonesia biasa disebut dengan kecapi. Namun di masing-masing negara memiliki namanya tersendiri. Di China dinamai dengan guzheng, di Jepang dinamai koto, dan di Korea dinamai gayageum. 

Baca juga: Cara Pakai MusicGen, Generator Musik AI dari Meta

Setiap negara akan berusaha menciptakan metode yang unik ketika menciptakan suatu produk kebudayaan, khususnya pada alat musik. Meskipun alat musik kecapi dari ketiga negara tersebut memiliki banyak kesamaan mulai dari bahan, senar, dan posisi memainkannya, ada juga perbedaan yang menarik untuk diperhatikan. Mari kita bahas. 

1. Guzheng (Kecapi China)

Alat musik guzheng (Sumber: brightstarmusical.com)

Alat musik guzheng (Sumber: brightstarmusical.com)
 

Guzheng memiliki 21 senar yang terbuat dari logam beserta pengganjalnya yang dapat digeser. Pengganjal tersebut berfungsi untuk menyesuaikan frekuensi rendah dan tingginya nada. Nada yang keluar dari guzheng adalah nada-nada pentatonik, yaitu do, re, mi, sol, dan la. Guzheng terbuat dari kayu paulownia.

Guzheng mulai populer di China sejak digunakan sebagai alat musik untuk pengiring lagu pada era Dinasti Qin dan Han sekitar 2.000 tahun yang lalu. Awal mulanya guzheng hanya memiliki 5 senar, kemudian berubah menjadi 12 senar pada era dinasti Qin dan Han.

Lalu bertambah lagi menjadi 14-16 senar pada era dinasti Ming dan Qing, sampai pada 1970 bertambah menjadi 21 senar. Jumlah tersebut tidak bertambah hingga saat ini.


Guzheng dimainkan dengan cara dipetik menggunakan jari yang dipakaikan kuku palsu dari tempurung kura-kura atau plastik. Kecapi China ini dimainkan dengan cara tangan kanan memainkan melodi dan tangan kiri memainkan chord.

Ketika memainkan
guzheng, musisi memainkan dengan posisi duduk di kursi pendek dengan posisi lutut berada tepat di bawah alat musik petik ini.

 
2. Koto (Kecapi Jepang)

Musisi koto memainkan koto

Alat musik koto (Sumber: japanesegarden.org)


Koto memiliki 13 senar. Sama seperti guzheng, alat musik ini terbuat dari kayu paulownia. Senar koto terbuat dari sutra. Menurut catatan sejarah, koto pernah dibuat versi 17 senar yang disebut juushichigoto oleh Miyagi Michio (1894-1956).

Namun
koto tersebut jarang dimainkan dan ditampilkan oleh para musisi koto hingga saat ini. Alat musik tradisional ini umumnya dimainkan secara tunggal, tanpa iringan nyanyian dan suara instrumen musik lain.

Seperti
guzheng, koto juga dimainkan dengan jari yang dipakai kuku palsu yang disebut tsume. Namun kuku palsu atau tsume hanya dipakai di jari sebelah kanan. Cara memainkan koto senar dipetik dengan ibu jari dan dua jari pertama dari tangan kanan.

Tangan kiri dipakai untuk mengubah dan mengatur suara senar dengan menggetarkan senar untuk menghasilkan suara vibrato. Ketika memainkan
koto, posisi koto berada di depan musisi.

Dasarnya musisi memainkan
koto dengan posisi duduk berlutut di lantai. Namun di era modern ini, posisi koto ditaruh di penyangga yang tinggi, sehingga para musisi dapat memainkannya dengan duduk di kursi.


3. Gayageum (Kecapi Korea)

Alat musik kayagum (Sumber: fraryguitar.com)

Alat musik gayageum (Sumber: fraryguitar.com)

Gayageum memiliki 12 senar. Namun di era modern gayageum mulai memiliki variasi dengan 25 senar. Alat musik ini terbuat dari kayu paulownia sama seperti guzheng dan koto. Awal mulanya senar gayageum terbuat dari sutra, namun seiring berubahnya zaman, senar banyak yang terbuat dari nilon.

Dalam papan gayaegeum terdapat 'jembatan' yang digunakan untuk menopang senar. 'Jembatan" ini berfungsi untuk menyesuaikan penyetelan dan intonasi. Berbeda dengan guzheng dan koto, musisi gayageum memainkannya dengan tangan kosong tanpa bantuan kuku palsu.

Gayageum dimainkan dengan tangan kanan memetik dan mengibaskan senar di area 'jembatan', sementara tangan kiri mendorong senar di sisi kiri jembatan untuk mengubah nada dan menambahkan vibrato dan ornamen. Nada gayageum lembut dan halus seperti ukulele dan tenor.

Baca juga: Bukan Cuma Juilliard School, Yuk Cek 6 Kampus Musik Terbaik di Dunia Ini

Dasarnya posisi musisi ketika memainkan gayaegeum dengan duduk di lantai dan posisi gayageum berada di pangkuan. Namun di era modern, gayageum sering dimainkan dengan posisi di atas penyangga alat musik, sehingga musisi dapat memainkannya dengan posisi duduk di kursi dan berdiri.

Editor: Fajar Sidik

SEBELUMNYA

Bursa Seni Art Moments Bali Libatkan 100 Seniman dari 15 Galeri Seni di Dalam & Luar Negeri

BERIKUTNYA

Hore, FIFA Pilih Indonesia Jadi Tuan Rumah Piala Dunia U-17 2023

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: