Ilustrasi pasien leukemia. (Sumber gambar : Freepik)

Kenali Risiko & Gejala Leukemia, Kanker Darah yang Bisa Menyebabkan Kematian dalam Waktu Singkat

08 May 2023   |   15:41 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Leukemia patut diwaspadai. Salah satu jenis kanker darah ini bisa berkembang begitu cepat dan menyebabkan kematian dalam waktu singkat apabila masuk ke dalam tipe akut. Oleh karena itu, penting untuk masyarakat mengenal risiko dan gejalanya. 

Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi Onkologi Medik dari RS Pondok Indah, dr. Ronald A. Hukom, mengatakan leukemia adalah kanker jaringan pembentuk sel darah, termasuk sumsum tulang dan sistem limfatik atau getah bening. “Leukemia mempengaruhi darah dan sumsum tulang,” ujarnya kepada Hypeabis.id dalam pesan singkat, Senin (8/5/2023).

Baca juga: Waspada Leukemia, Penyakit Kanker Darah yang Sempat Dirahasiakan Iqbal Pakula

Konsultan Hematologi dan Onkologi dari Eka Hospital Cibubur, dr. Andhika Rachman, lebih lanjut menjabarkan ada 2 jenis leukemia, yakni akut dan kronik. Dari kedua jenis ini, leukemia akut terbilang lebih berbahaya karena bisa menyebabkan kematian dalam waktu kurang dari 1 tahun apabila pasien tidak mendapat penanganan segera. 

Leukemia akut sendiri terbagi menjadi dua subjenis, antara lain Lymphoblastik (Leukemia Limfoblastik Akut/ALL) dan Mieloblastik (Leukemia Myeloid Akut/AML).

Tipe ALL biasanya menyerang anak-anak usia 3-4 tahun. Penyakit ini juga kerap ditemukan pada lansia berusia 65 tahun atau lebih. Sementara tipe AML, insidennya lebih banyak ditemukan pada orang dewasa muda hingga orang tua berusia lebih dari 40 tahun.

“Bagus atau tidaknya (prognosis), pada orang muda, dia dapat sembuh atau mengalami remisi setelah mendapatkan pengobatan atau transplantasi. Kalau tidak diobati, dalam 3-6 bulan, pasien bisa meninggal dunia,” jelasnya saat berbincang dengan Hypeabis.id, akhir pekan kemarin. 

Riwayat kematian pada leukemia akut lebih cepat dibandingkan kronik karena leukosit atau sel darah putih pasien yang terserang penyakit ini, tumbuh dengan sangat cepat. Pada kondisi normal, kadar leukosit orang dewasa sekitar 5.000-10.000 per mikro liter darah. 

Kendati demikian, pada orang yang terkena leukemia, kadarnya bisa mencapai ratusan ribu dan terus berkembang. “Bisa masuk sirkulasi di otak. Menyebabkan pecahnya pembuluh darah di otak,” jelas Andhika. 

Leukosit yang meledak dalam jumlah banyak itu turut menekan sel-sel darah lainnya seperti sel darah merah dan trombosit. Alhasil, jumlah sel darah merah menurun sehingga pasien bisa mengalami anemia. 

Kemudian, trombosit atau keping darah yang rendah bisa menyebabkan pendarahan. Trombosit diketahui berfungsi mengontrol pembekuan darah guna menyembuhkan luka dan menghentikan pendarahan. “Meninggalnya bisa karena pendarahan akibat sumbatan trombosit,” imbuhnya.

Selain itu, oleh karena sel darah putih tidak berperan sebagai antibodi, tubuh akan mudah terkena infeksi. Paling sering pasien meninggal akibat infeksi paru yang berat atau infeksi saluran cerna. Pasien juga kerap terinfeksi virus, termasuk virus Covid-19.

“Yang lain akibat imun turun, leukosit harusnya sebagai antibodi malah mengganas, terjadi infeksi cacar, herpes. Itu sering terjadi,” tambah Andhika.

Lebih lanjut, Ronald mengatakan banyaknya sel atau agregat leukemia yang berlebihan dapat menyebabkan leukostasis paru, suatu komplikasi yang mengancam jiwa di mana terjadi sumbatan seluler pada pembuluh darah paru. Ini menyebabkan hipoksia dan gangguan pernapasan akut. 
 

(Sumber:Pix4free/Nick Youngson)

(Sumber:Pix4free/Nick Youngson)

Dari dampaknya yang bisa sangat progresif merusak tubuh, ternyata penyebab leukemia multi faktorial dan butuh waktu serta jumlah tertentu sehingga menyebabkan kelainan atau perubahan sifat pada sumsum tulang. 

Ronald menjabarkan risiko tinggi seseorang terkena leukemia yakni mereka yang mengalami paparan agen penyebab kanker seperti terkena radiasi dosis tinggi dari ledakan bom atom, bekerja di pabrik senjata atom, atau kecelakaan reaktor nuklir. Begitu pula mereka yang bekerja di pabrik yang memproduksi barang mengandung benzema. 

Paparan saluran tegangan tinggi listrik dalam jangka panjang kata Andhika juga berisiko menyebabkan leukemia. Tidak terkecuali paparan zat-zat berbahaya di dalam rokok atau pewarna makanan seperti etilen oksida yang ditemukan pada mie instan. 

Memang, leukemia tidak terjadi secara tiba-tiba. Butuh waktu dan dalam konsentrasi tertentu atau paparan risiko banyak serta jangka panjang yang bisa menyebabkan leukemia. Tubuh pun memiliki kemampuan sendiri untuk melakukan pemulihan dari zat-zat berbahaya yang masuk. Namun, jika paparan terlalu intens, seperti mengonsumsi mie instan setiap hari, tentu pemulihan tubuh akan terganggu.

“Baru saja mau recovery tetapi dipaparkan lagi, sehingga karena tidak ada recovery akan ada inflamasi kemudian bisa terjadi mutasi genetik,” tutur Andhika. 

Oleh karena itu, dia menyarankan masyarakat menghindari faktor risiko tersebut dan menerapkan pola hidup sehat agar terhindar dari leukemia. Tidak terkecuali mengonsumsi makanan bergizi , terutama yang membantu membuang racun di dalam tubuh.
 

Waspada Gejala 

(Sumber: Kementerian Kesehatan)

(Sumber: Kementerian Kesehatan)

Andhika menyampaikan bahwa gejala leukemia baru akan terlihat dalam 2-3 bulan. Pasien mungkin mengalami sakit yang tidak kunjung pulih setelah diobati karena imunitasnya sudah menurun. Setelah sel darah putih mulai banyak dan menekan sel darah lainnya, pasien akan tampak pucat dan lemas, kelelahan terus menerus karena mengalami anemia. 

Perut pasien juga membuncit karena limpa membesar akibat terlalu banyak makan sel darah putih yang dianggap benda asing. Ronald menyebut pembengkakan bisa juga terjadi pada kelenjar getah bening. Gejala lainnya yakni penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.

Akibat menekan trombosit, manifestasi yang muncul juga bisa menyebabkan pendarahan berupa biru atau lebam di kulit, bercak darah di kulit, pendarahan gusi, mimisan, hingga menstruasi dalam jangka panjang pada wanita. 

Andhika menjabarkan sejumlah wanita muda terkena anemia akibat defisiensi zat besi. Oleh karena itu, untuk memastikan apakah pendarahan dalam jangka panjang saat menstruasi disebabkan anemia atau justru leukemia, dibutuhkan pemeriksaan lebih lanjut ke dokter untuk mendapatkan diagnosis yang tepat. 

Keluhan apapun yang berkaitan dengan leukemia memang harus segera diperiksakan segera. Dokter kemungkinan akan melakukanya pemeriksaan darah. Apabila hasilnya leukosit tinggi, dokter kemudian akan melakukan pemeriksaan fisik terutama melihat ada tidaknya pembengkakan pada limpa, lalu dilakukan pemeriksaan darah kembali. 

Ada juga pemeriksaan morfologi darah tepi untuk memeriksa bentuk dari bagian padat penyusun darah seperti sel darah merah, sel darah putih, atau trombosit. Kalau ternyata ada bakal sel darah putih yang seharusnya hanya ada di sumsum tulang, tetapi tidak pada tempatnya, dokter akan melakukan pemeriksaan sumsung tulang. Nanti akan didapatkan morfologi atau bentuk sel induk daripada sel darah merah, darah putih, dan trombosit.
 
Jika terlihat ada penekanan terhadap sel darah lainnya, dokter kemudian melakukan pemeriksaan fenotiping untuk melihat jenis leukemia yang dialami pasien. “Ke arah mana banyak sel limfositnya, ke arah sel B atau T. Jadi bisa lihat leukemia akut atau kronis,” terang Andhika. 

Pasien kemudian akan dilakukan pengobatan. Bisa dengan kemoterapi saja, induksi, konsolidasi, hingga transplantasi. Total semua pengobatan sampai selesai sekitar 2 tahun. 

“Ketika dapat penanganan segera, bisa revisi komplit. Apalagi usia di bawah 40 tahun. Bila tidak diobati, dalam enam bulan memburuk,” tegas Andhika
 
Baca juga: 5 Fakta Penting tentang Kanker Usus Besar yang Mulai Menyerang Usia Muda

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Syaiful Millah

SEBELUMNYA

Pengamat: Jadi Film Terlaris, Guardians of the Galaxy Vol. 3 Tawarkan Banyak Keunggulan

BERIKUTNYA

Dimulai Hari Ini, Cek Dokumen & Tata Tertib yang Harus Diperhatikan Peserta UTBK-SNBT 2023 

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: