Ilustrasi bekerja dari rumah (dok: Unsplash/Chris Montgomery)

Bekerja dari Rumah Ternyata Tak Semudah yang Dibayangkan

15 July 2021   |   09:04 WIB
Image
Rezha Hadyan Hypeabis.id

Work from home atau bekerja dari rumah saat ini menjadi hal yang lumrah dilakukan pekerja kantoran di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Sebagai upaya memutus mata rantai penularan Covid-19, banyak perusahaan yang memutuskan untuk “memindahkan” kantornya ke kediaman pekerja masing-masing.

Dengan adanya teknologi yang berkembang pesat, tentunya bekerja dari rumah bukan lagi hal yang sulit. Banyak pekerjaan yang bisa dilakukan bermodalkan perangkat komputer atau ponsel pintar yang terhubung dengan jaringan internet.

Selain itu, bekerja dari rumah juga menghadirkan beberapa kelebihan yang tak bisa didapatkan saat Anda diharuskan datang ke kantor. Mulai dari menghemat pengeluaran biaya transportasi, punya lebih banyak waktu luang, hingga suasana kerja yang dinilai lebih bersahabat.

Bahkan, beberapa perusahaan merasa bekerja dari rumah berhasil mendongkrak produktivitas para pekerjanya.  Head of Corporate Solutions Research Jones Lang LaSalle Asia Pacific James Taylor mengungkapkan 7 dari 10 pekerja di konsultan properti itu performanya meningkat setelah kebijakan bekerja dari rumah diterapkan.

Hal tersebut diketahui berdasarkan survei Human Performance Indicator (HPI) yang dilakukan terhadap 1.500 pekerja di lima negara Asia dan Pasifik. Pekerja di bidang teknologi (53 persen) dan profesional muda berusia 25 hingga 34 tahun (37 persen) merupakan mayoritas dari pekerja yang berperforma tinggi selama bekerja dari rumah.

Taylor menyebut mereka semua bisa produktif karena memiliki akses ke lingkungan kerja kolaboratif, teknologi canggih, atau budaya inklusif. Sebaliknya, 34 persen sisanya tidak bisa sebaik rekan-rekannya karena tak didukung oleh kondisi yang sudah disebutkan di atas.

Pakar pengembangan sumber daya manusia (human resource development/HRD) Mirna Astari Magetsari tak menampik bahwa bekerja dari rumah bukanlah hal mudah bagi sebagian pekerja. Selain menghadapi permasalahan teknis akibat peralatan penunjang yang tak memadai, masih banyak pekerja yang sulit berkoordinasi satu sama lain dari tempat berbeda.

“Masalahnya di koordinasi, mungkin masih ada yang belum terbiasa di awal-awal. Tetapi seiring berjalannya waktu sepertinya sudah biasa dan bisa berjalan dengan baik terutama untuk koordinasi itu ya,” katanya.

Selain itu, menurut Mirna beberapa pekerja juga merasa bekerja dari rumah membuat mereka kesulitan bertanya atau meminta bantuan ketika menghadapi masalah pekerjaan mereka. Karena tak dapat dipungkiri banyak orang yang merasa tidak enak atau sungkan apabila menghubungi seseorang hanya untuk bertanya atau meminta bantuan.

“Kalau di kantor kan bisa langsung dicolek aja tanya atau minta bantu sebentar. Nah, kalau WFH ini kan susah mau tanya atau minta bantuan gimana. Kalaupun mau menjelaskannya bisa jadi agak susah karena enggak langsung,” ungkapnya.

Masalah lainnya saat harus dihadapi beberapa pekerja saat bekerja dari rumah adalah ketidakdisiplinan soal jam kerja. Karena tak dapat dipungkiri masih ada petinggi perusahaan atau instansi yang beranggapan bahwa bekerja dari rumah memungkinkan mereka menghubungi atau menugaskan pekerja tanpa kenal waktu.

“Jam kerja ini harus tegas, tempatnya saja yang berubah bukan jamnya. Jadi ya harus disiplin dan disepakati untuk deadline. WFH bukan berarti bebas dihubungi atau disuruh kapan saja. Begitu juga sebaliknya, ketika jam kerja ya pekerja siapapun itu harus responsif, mau sambil mengurus anak misalnya bisa saja, tapi pekerjaan jangan sampai terbengkalai,” tuturnya.

Terakhir, sebagai upaya menghilangkan kejenuhan pekerja, menurut Mirna manajemen di suatu perusahaan sebaiknya rutin menggelar pertemuan virtual yang memungkinkan antarpekerja bersosialisasi atau berkegiatan bersama. Karena tak bisa ditampik jika bekerja dari rumah membuat kesempatan bersosialisasi jauh berkurang atau bahkan menghilang.

“Adakan pertemuan virtual, bisa makan siang bareng, makan virtual, olahraga virtual, misalnya yoga. Bisa juga ngobrol-ngobrol santai, cerita soal persoalan masing-masing dan tentunya mengingatkan mereka untuk tetap bersyukur dengan kondisi saat ini,” pungkasnya.


Editor: Indyah Sutriningrum
 

SEBELUMNYA

Album CD Butter milik BTS Puncaki Penjualan di Amerika Serikat

BERIKUTNYA

Britney Spears Akhirnya Pilih Pengacara Sendiri, Dukungan #FreeBritney Kembali Mengalir

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: