John Florea (sumber gambar majalah Life)

Sekelumit Kisah John Florea, Fotografer Asing yang Mewartakan Revolusi Indonesia ke Mata Dunia

31 January 2023   |   17:50 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Pascaproklamasi dicetuskan pada 1945, Indonesia perlu mengabarkan kemerdekaannya sebagai negara yang baru lolos dari cengkraman kolonialisme. Unsur deklaratif ini memang menjadi penting dilakukan demi menjalin hubungan internasional dengan negara-negara lain di dunia.

Meski dukungan dari negara lain bukan menjadi unsur mutlak bahwa Indonesia sudah berdaulat, tapi hal itu penting dilakukan mengingat umur republik masih seumur jagung. Oleh karena itu para pemimpin Indonesia banyak mengundang wartawan asing untuk mewartakan opini mereka mengenai keadaan Tanah Air di lanskap internasional.

Baca juga: Menguak Tabir Foto-Foto Revolusi & Triumvirat di Yayasan Matawaktu

Hal ini terbukti pada awal Oktober 1945, saat pemerintah RI banyak mengundang wartawan dari luar negeri untuk mewartakan kemerdekaan Indonesia. Lalu banyak wartawan dan fotografer terkenal seperti Cartier Berson, Hugo Wilmar, Bert Hardy yang kemudian mengabadikan keadaan republik pascarevolusi ke negeri-negeri asing.

Namun, di antara banyaknya fotografer yang turut mengabadikan peristiwa tersebut ada salah satu yang menarik perhatian. Jurnalis foto itu adalah John "Johnny" Florea yang mendapat kesempatan emas untuk meliput kegiatan tiga serangkai Soekarno-Hatta-Sjahrir saat melawat ke berbagai daerah di Pulau Jawa selama 10 hari.

Kegiatan tersebut, selain mengabarkan bahwa Indonesia sudah merdeka, juga untuk memantik semangat api revolusi yang dikobarkan oleh triumvirat pada para penduduk di pelosok. Adapun, perjalanan itu dilakukan dengan menumpang Kereta Api Luar Biasa Kepresidenan Republik Indonesia yang dimulai pada 16 Desember 1945.

Sebagai seorang jurnalis, Johnny sendiri bukanlah fotografer kemarin sore. Lahir di Alliance, Ohio, pada 1916, lelaki tegap dengan tubuh gempal ini memulai kariernya di San Francisco Examiner sebagai fotografer spesialis potret selebriti seperti Jane Russel dan Marilyn Monroe.

Baca juga: Menilik Foto-foto yang Merekam Peristiwa Revolusi Fisik 1945-1950 
 

John Florea (sumber gambar majalah Life)

John Florea (sumber gambar majalah Life)

Pada awalnya, saat menekuni  fotografi hiburan, tak pernah ada dalam niatan Johnny untuk meliput perang. Tapi, saat  pecah perang dunia kedua, hatinya tergerak untuk mengabarkan peristiwa tersebut dan bergabung dengan majalah Life untuk meliput perang di Laut Pasifik pada 1945.

Berdasarkan pengalamannya inilah yang akhirnya membuat Perdana Menteri Sjahrir terkesan dan mengizinkannya meliput pemerintahan baru RI.  Johnny dan jurnalis Indonesia lainnya, seperti BM Diah, Mendur bersaudara, dan Rosihan Anwar akhirnya ikut mengabadikan momen-momen bersejarah itu.

Dalam perjalanan ini Johnny bahkan memotret momen saat Bung Karno mengunjungi Ibunda tercinta di Jalan Sultan Agung Blitar. Dia juga sempat mengabadikan rapat-rapat raksasa di alun-alun yang disinggahi dalam perjalanan lawatan tersebut.

Tak hanya itu, salah satu karyanya yang ikonik adalah saat mengabadikan momen sosok tiga serangkai yang sedang asyik berdiskusi di rumah presiden pertama RI.

Dihimpun dari Matawaktu, hasil reportase Johnny kemudian dimuat di majalah Life edisi 28 Januari 1946 dengan judul Revolt in Java. Artikel tersebut juga secara subyektif cenderung bersimpati kepada perjuangan Republik Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan.

Dari sinilah Johnny telah berhasil menciptakan imaji bersejarah bagi keberadaan dan identitas Republik ke mata dunia.

Namun, kiprah Johnny di Life harus berakhir pada 1949. Hal ini menyusul hubungan yang buruk dengan salah satu tokoh penting majalah tersebut. Yaitu Wilson Hicks, sang pengemudi arah kebijakan visual majalah Life. Dari sinilah dia kemudian kembali menekuni dunia hiburan, alias tempatnya memulai karier sebagai fotografer.

Baca juga: Perjuangan Bertaruh Nyawa Mendur Bersaudara Mengabadikan Detik-detik Proklamasi

Setelah memilih hengkang dari Life, Johnny kemudian ditampung oleh Ivan Tors Production. Di sini dia sempat menjadi produser, sutradara dan penulis naskah yang laris manis. Beberapa karyanya adalah acara-acara televisi seperti Bonanza, Daniel Boone, Mission: Impossible, dan masih banyak lagi.

Johnny tutup usia pada umur 84 tahun pada pekan ketiga Agustus tahun 2000 di RS Summerlin Las Vegas. Kendati dia telah wafat, tapi karya fotografinya akan tetap abadi dalam pentas realita sejarah dan masa depan Indonesia yang masih terus berjalan ke arah yang lebih baik. 

Editor: Fajar Sidik

SEBELUMNYA

Aktingnya Keren, Yuk Intip Profil Nick Offerman yang Perankan Bill di The Last of Us Episode 3

BERIKUTNYA

Lolos Qualifier, 4 Tim Esports Siap Panaskan Laga FFML Season 7 pada Maret 2023

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: