Hariani Santiko(Sumber gambar: Tangkapan layar BWCF 2022)

Menengok Jejak Arkeolog Indonesia, Hariani Santiko

30 November 2022   |   14:56 WIB
Image
Chelsea Venda Hypeabis.id

Almarhumah Hariani Santiko adalah arkeolog penting yang pernah dimiliki Indonesia. Namanya mungkin tidak begitu dikenal luas, kecuali di kalangan arkeolog. Namun, jejak pengabdian Hariani terhadap ilmu pengetahuan dan budaya bagi Indonesia sangat besar.

Kajian-kajiannya yang masyhur telah melanggengkan namanya bahkan setelah setahun wafat. Baru-baru ini pemikiran-pemikirannya juga diulas, dikaju ulang, dan direnungi dalam acara Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF) 2022.

Secara spesial, BWCF 2022 mengambil tema Membaca Ulang Pemikiran Hariani Santiko: Durga di Jawa, Bali, dan India. Dalam acara tersebut, Hariani Santiko juga dinaugerahi penghargaan Sang Hyang Kamahayanikan Award.

Baca juga: Hariani Santiko Raih Penghargaan Sang Hyang Kamahayanikan Award di BWCF 2022
 

Tangkapan layar BWCF 2022

Tangkapan layar BWCF 2022


Sang Hyang Kamahayanikan Award merupakan penghargaan bagi para penulis, searawan, budayawan yang dianggap berdedikasi melakukan penelitian, kajuan atau aktivitas menarik untuk menghidupkan tema penting tertentu dalam sejarah Nusantara.

Sang Hyang Kamahayanikan Award juga jadi penghargaan tertinggi yang diserahkan panitia BWCF pada akhir gelaran festival. Hariani mendapatkan penghargaan tersebut berkat disertasinya tentang Kedudukan Batari di Jawa Pada Abad X-XV.

Penasehat BWCF 2022, Prof Dr Mudji Sutrisno, dalam pembacaan anugerah Sang Hyang Kamahayanikan Award, mengatakan disertasi yang dipertahankan pada tahun 1987 tersebut merupakan kajian yang sangat langka dan ditulis dengan standar ilmiah tinggi. Kedalaman penelitian wanita kelahiran Pacitan ini tidak lepas dari kepiawaiannya dalam memahami bahasa Sansekerta dan Jawa Kuno.
 

Jejak Hariani Santiko di Bidang Arkeologi

Hariani Santiko lahir sebagai Hariani Suhadi di Pacitan pada 21 Agustus 1940. Hariani adalah anak kedelapan dari sepuluh bersaudara. Hariani Santiko menyelesaikan studi di Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada 1964.

Hariani meraih gelar sarjana dalam ilmu purbakala dan sejarah kuno Indonesia. Hariani juga sempat mengikuti Fullbright visiting scholar program di East-West-Center University of Hawaii dan Fullbright non-degree program di University of Pennsylvania.

Hariani Santiko mengawali kariernya sebagai akademisi dengan menjadi pengajar di juruan ilmu sejarah Fakultas Sastra Universitas Padjajaran pada 1965-1966 dan Fakultas Pendidikan Ilmu Sosial Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan atau IKIP Malang 1966-1972.

Setelah itu, Hariani menjadi dosen tetap di Jurusan arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada 1972 hingga pensiun pada 2007. Pada 1995, Hariani dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Arkeologi Fakultas Sastra UI dengan pidatonya berjudul Seni Bangunan Sakral Masa Hindu Budha di Indonesia Abad 8-15 Masehi Sebuah Analisis Arsitektur dan Makna Simbolik.

Sebagai akademisi dan arkeolog, Hariani memiliki minat dan spesialisasi pada studi mengenai arkeologi masa Hindu Budha, arsitektur candi, dan arca kuno. Banyak artikel ilmiah yang telah dipubilkasi dan yang belum terkait dengan bidang yang dikuasainya
 

Tangkapan layar BWCF 2022

Tangkapan layar BWCF 2022


Putra Almarhum Hariani, Utaryo Santiko, mengatakan Ibu juga dikenal gemar mengkaji mengenai persepsi masyarakat Indonesia terhadap Batari Durga serta memiliki perhatian pada perkembangan gagasan pluralisme. Hariani meyakini kedua hal tersebut merupakan bagian tidak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia sejak lama.

Setelah purna bakti pada 2007, kontribusi Hariani dalam bidang arkeologi masih berlanjut. Dia masih aktif dalam dunia pengetahuan di Indonesia. Dia juga masih aktif menulis artikel ilmiah maupun artikel opini yang masih berkaitan dengan bidangnya. Selain itu, Hariani juga masih terlibat dalam berbagai pekerjaan penelitian dengan kolega-koleganya, termasuk dengan mantan mahasiswanya.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Nirmala Aninda
 
SEBELUMNYA

Seni Media Baru Berkembang Pesat, Bagaimana Nasib Seni Konvensional?

BERIKUTNYA

Tips Mengatasi insomnia Tanpa Obat yang Perlu dicoba

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: