Raja Ali Haji adalah sejarawan, cendekiawan, dan penulis terkenal yang memimpin kebangkitan sastra dan budaya Melayu pada abad ke-19. (sumber gambar Google)

Profil Raja Ali Haji, Sastrawan Melayu yang Muncul di Google Doodle Hari Ini

05 November 2022   |   12:23 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Google doodle hari ini menampilkan gambar pria paruh baya berkacamata mengenakan peci dalam sebuah halaman buku dan pena bulu. Sosok tersebut adalah Ali Haji bin Raja Haji Ahmad, sastrawan sekaligus tokoh yang memprakarsai penysusunan dasar-dasar tata bahasa Melayu yang kelak menjadi lingua franca Bahasa Indonesia.

Dalam rangka mengenang sosok tersebut Google Doodle hari ini merayakan kehidupan dan warisan Raja Ali Haji. Dia adalah sejarawan, cendekiawan, dan penulis terkenal yang memimpin kebangkitan sastra dan budaya Melayu pada abad ke-19 di Indonesia.

Karya-karyanya meliputi kamus Melayu, teks pendidikan tentang tugas raja, silsilah Melayu dan Bugis, antologi puisi dan banyak lagi. Beberapa karyanya yang terkenal adalah berjudul Gurindam Dua Belas yang dibuat pada 1847 Masehi di Pulau Penyengat.

Baca juga: Jadi Google Doodle Hari Ini, Berikut 5 Fakta Unik Pejuang Kemerdekaan Rasuna Said

Dirangkum dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, karya tersebut dikategorikan sebagai Syi’r Al-Irsyadi atau puisi didaktik yang berisikan nasehat atau petunjuk hidup. Puisi itu berkisar tentang ibadah, kewajiban raja, kewajiban anak terhadap orang tua, tugas orang tua kepada anak, budi pekerti, dan hidup bermasyarakat.

Ada juga Tuhfat al-Nafis, atau Hadiah Berharga, yang dianggap sebagai sumber tak ternilai tentang sejarah Semenanjung Melayu. Karya ini berisi  konsepsi sejarah yang meliputi peristiwa dari awal abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-19 mengenai latar belakang peristiwa zaman Sriwijaya dan Malaka.
 

Gurindam 12 pasal pertama dan kedua yang di dinding makam Engku Puteri Hamidah di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau. (Sumber gambar: Wikimedia Commons)

Gurindam 12 pasal pertama dan kedua yang di dinding makam Engku Puteri Hamidah di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau. (Sumber gambar: Wikimedia Commons)
 

Tak hanya itu, bukunya yang berjudul Kitab Pengetahuan Bahasa yang ditulis pada tahun 1851 juga kelak menginspirasi Kongres Sumpah Paemuda pada 1928 untuk menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan persatuan.

Raja Ali lahir sebagai pangeran Bugis-Melayu pada tahun 1809 dari keluarga ulama. Ketika dia masih muda, keluarganya pindah ke Pulau Penyengat. Dia belajar dengan ulama terkenal dari Kesultanan Riau-Lingga dan diakui sebagai siswa yang berbakat. 

Sebagai seorang remaja, Raja Ali juga sering menemani ayahnya Raja Ahmad  yang merupakan cendekiawan muslim dalam misinya ke Jakarta, serta ziarah ke Mekah. Keduanya adalah bangsawan Riau pertama yang mencapai prestasi tesebut untuk naik haji sekaligus menuntut ilmu.

Ketika berusia 32 tahun, Raja Ali menjadi bupati bersama Sultan muda dan akhirnya dipromosikan menjadi penasehat agama. Dalam peran ini, dia mulai menulis tentang bahasa, budaya, dan sastra orang Melayu termasuk juga kajian tasawuf, filsafat, dan politik.

Dikutip dari Rajaalihaji.com, sastrawan ini meninggal pada 1873 di Pulau Penyengat. Beliau dimakamkan di komplek pemakaman Engku Putri Raja Hamidah. Karyanya Gurindam Dua Belas juga diabadikan di sepanjang dinding makamnya.

Pada tahun 2004, Raja Ali mendapat penghargaan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia atas kontribusinya pada bahasa, sastra, budaya Melayu, dan sejarah Indonesia. Berbagai disiplin ilmu tersebut juga tersaji dalam rentetan karyanya  yang berkesinambungan dan saling melengkapi satu sama lain.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Nirmala Aninda
 

SEBELUMNYA

ESMOD Jakarta Gaungkan Sustainable Fashion dari Desain Mahasiswa

BERIKUTNYA

Genhype, Cek Perubahan Rundown Soundsfest 5-6 November 2022

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: