Bisnis cokelat di Indonesia masih punya potensi besar (Sumber gambar: Barry Callebaut)

Mendominasi Rasa Camilan, Bisnis Cokelat di Indonesia Kian Manis

16 September 2022   |   10:30 WIB

Siapa yang tidak suka cokelat? Dari anak-anak, remaja, bahkan lansia banyak yang menyukai cokelat. Cita rasanya yang manis, lembut, dan meleleh di mulut membuat cokelat menjadi camilan favorit banyak orang di seluruh belahan dunia, tak terkecuali di Indonesia.

Cokelat pun hadir dalam bentuk yang beragam, mulai dari cokelat bubuk, batangan, hingga cokelat mentega. Bahkan, saat ini, cokelat masih mendominasi rasa produk-produk camilan manis di Indonesia, dibandingkan beberapa rasa lain seperti keju, vanilla, almond, hingga susu.

Managing Director Barry Callebaut, Ciptadi Sukono, mengatakan saat ini cokelat masih mendominasi rasa produk-produk camilan manis di Indonesia dengan persentase 50 persen hingga 60 persen dibandngkan dengan beberapa rasa yang lain.

"Cokelat mendominasi flavor [rasa] yang disukai oleh konsumen Indonesia. Ini akan jadi faktor yang kuat di sisi bisnis, " katanya saat acara kunjungan media di Bandung, Rabu (16/9/2022).

Baca juga: Begini 5 Manfaat Cokelat untuk Kesehatan 
 

Managing Director Barry Callebaut, Ciptadi Sukono, saat acara kunjungan media ke pabrik kakao dan cokelat Barry Callebaut di Bandung, Kamis (15/9/2022)-Sumber gambar: Barry Callebaut

Managing Director Barry Callebaut, Ciptadi Sukono, saat acara kunjungan media ke pabrik kakao dan cokelat Barry Callebaut di Bandung, Kamis (15/9/2022)-Sumber gambar: Barry Callebaut


Potensi Bisnis

Kegemaran banyak orang mengonsumsi cokelat juga menjadi faktor utama dalam mendukung pertumbuhan bisnis kakao dan cokelat di Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari kondisi industri yang diyakini akan semakin membaik pasca-pandemi.

Ciptadi memaparkan konsumsi cokelat tahunan di Indonesia saat ini masih sekitar 0,3 kilogram per kapita. Artinya, setiap orang rata-rata mengonsumsi sekitar 300 gram cokelat dalam beragam bentuk mulai dari minuman, kue, biskuit, dan permen.

Angka ini memang lebih tinggi dibandingkan dengan China dan India yang hanya mengonsumsi cokelat sebesar 0,1 kilogram per kapita. Akan tetapi, jumlahnya masih jauh jika disandingkan dengan negara seperti Malaysia dengan 0,5 kilogram per kapita; Singapura sebesar 1,1 kilogram, atau bahkan Australia yang mencatatkan angka 5,1 kilogram per kapita. 

Kendati begitu, Ciptadi mengatakan bahwa kelas konsumsi di Tanah Air berpotensi untuk terus tumbuh. Dia menyebut bahwa dalam 10 tahun ke depan, diperkirakan akan ada 50 juta orang baru yang masuk dalam kelas konsumsi (consuming class).

"Artinya akan ada 50 juta orang yang bisa mengeluarkan uang untuk membeli produk-produk yang ingin mereka konsumsi. Bayangkan dampaknya untuk bisnis karena ada pergerakan ini," katanya.

Baca juga: Mau Coba Kemitraan Tentang Kita Cokelat? Ini Perhitungan Usahanya  

Begitu pun dengan potensi pertumbuhan volume produksi cokelat di Indonesia yang mengalami kenaikan sebesar 3 sampai 4 persen per tahun. Ciptadi mengatakan bahwa ada sekitar 280.000 ton per tahun cokelat yang diproduksi di Indonesia, dan diperkirakan terus meningkat hingga mencapai 370.000-420.000 ton per tahun.

"Kami yakin pasar kakao dan cokelat di Indonesia akan terus tumbuh. Permintaan pelanggan akan produk kakao dan cokelat kami berangsur-angsur kembali ke masa sebelum pandemi, dan optimisme konsumen yang meningkat terhadap ekonomi menjadi pertanda baik bagi produsen makanan seperti kami," ujarnya.

Sebagai informasi, Barry Callebaut Group merupakan salah satu produsen produk kakao dan cokelat terkemuka di dunia. Sejak 2012, Barry Callebaut telah menginvestasikan lebih dari US$50 juta atau sekitar Rp741,8 miliar, dan saat ini memiliki lebih dari 700 karyawan di seluruh Indonesia.

Perusahaan telah mengoperasikan pabrik pengolahan kakao di Bandung, dan saat ini merupakan salah satu produsen terbesar berdasarkan volume produk kakao (seperti cocoa
powder
, cocoa butter & cocoa liquor) di Indonesia. Selain kegiatan bisnis kakao, Barry Callebaut juga memiliki dua pabrik produksi cokelat di kawasan industri Gresik dan Rancaekek Sumedang.

Mereka memproduksi cokelat untuk perusahaan konfeksioneri (produsen camilan manis) dan produsen makanan lainnya yang menggunakan cokelat sebagai salah satu bahan baku produksinya. Selain itu, mereka juga menjadi mitra outsourcing bagi banyak produsen makanan Indonesia dengan kebutuhan produk cokelat berkualitas tinggi. 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Syaiful Millah 
SEBELUMNYA

Roger Federer Pensiun, Intip Perjalanan Karier & Pencapaiannya di Dunia Tenis

BERIKUTNYA

Hari Kakao Indonesia, Begini Tren Konsumsi Cokelat di Indonesia & Dunia

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: