Terdapat 3 tipe investor berdasarkan profil risiko (sumber gambar ilustrasi : pexels/ Nataliya Vaitkevich)

Sebelum Berinvestasi, Kuy Kenalan dengan Tipe-tipe Investor Ini

18 May 2022   |   13:27 WIB

Berinvestasi bukan lagi hal yang asing di kalangan generasi muda. Mereka tampaknya mulai menyadari manfaat kegiatan menanamkan modal pada suatu perusahaan itu. Sebab, uang yang mereka simpan pastinya akan bertambah, alih-alih hanya disimpan di tabungan. 

Berdasarkan, PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat investor dengan usia di bawah 30 tahun mencapai 60,29 persen. Sementara jumlah investor pada rentang usia 31-40 tahun mencapai 21,59 persen per April 2022.

Namun, sebelum memulai investasi dan menjadi seorang investor, kalian harus mengenal terlebih dahulu profil risiko. Tujuannya untuk memastikan produk investasi mana yang sesuai dengan kalian. Saat memilih produk investasi, calon investor akan dihadapkan pada jenis-jenis investasi. 

Beberapa produk investasi mampu memberikan imbal hasil yang tinggi, tetapi juga memberikan risiko yang tinggi. Sementara beberapa lainnya memiliki risiko dan return yang rendah atau produk investasi dengan potensi return dan risiko yang moderat. 

Beberapa contoh produk-produk investasi yang dapat menjadi pilihan oleh calon investor antara lain, emas, properti, saham, reksa dana, deposito, tabungan, dan sebagainya. 

Secara umum terdapat 3 tipe investor berdasarkan profil risikonya, yakni konservatif, agresif, dan investor moderat. Berikut tipe-tipe tersebut:
 

1. Konservatif

Tipe investor yang satu ini adalah tipe investor yang suka atau cenderung memilih produk-produk investasi dengan tingkat risiko rendah atau aman. Biasanya, mereka lebih memilih imbal hasil ( yang stabil dari produk investasi yang dipilih dan memiliki tingkat risiko rendah.

Baca juga: Mau Dapat Suntikan Modal dari Angel Investor? Begini Kiatnya

Produk investasi yang dapat dipilih oleh investor dengan tipe profil risiko rendah seperti reksa dana, tabungan, deposito, dan sebagainya. Produk investasi reksa dana yang dapat menjadi pilihan bagi investor dengan tipe profil risiko rendah adalah reksa dana pasar uang.

Selain itu, produk lainnya yang bisa dipilih oleh tipe investor ini seperti emas atau obligasi karena memiliki risiko yang rendah. 

Produk investasi seperti emas adalah produk investasi yang cenderung tahan terhadap inflasi. Nilai instrumen investasi yang satu ini juga cenderung stabil. Tidak hanya itu, emas juga mudah dicairkan saat kita memerlukan dana segar dalam waktu cepat untuk keperluan-keperluan darurat. 
 

2. Moderat

Investor tipe moderat adalah investor yang memiliki profil risiko sedang. Investor yang satu ini berada di tengah-tengah antara tipe konservatif dan agresif. Investor ini ingin return yang lebih tinggi dibandingkan dengan investor konservatif. Namun, terbatas dalam mengambil risiko besar.

Produk-produk investasi yang biasanya dipilih oleh tipe investor ini pun biasanya produk-produk dengan potensi return dan risiko sedang. Produk investasi yang dapat dipilih oleh investor dengan tipe profil risiko moderat adalah reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana campuran.

Reksa dana pendapatan tetap adalah produk investasi yang memiliki potensi risiko dan return rendah menengah. Sementara reksa dana campuran merupakan produk investasi yang memiliki potensi risiko dan return menengah tinggi. 
 

3. Agresif

Investor dengan tipe agresif adalah investor yang mempunyai profil risiko tinggi. Individu yang biasanya masuk dalam tipe ini berani menghadapi risiko-risiko tinggi dalam berinvestasi. Tipe ini siap mengalami kerugian dalam jumlah tidak kecil untuk memperoleh return yang tinggi.

Produk-produk investasi yang menjadi pilihan individu dengan profil risiko ini adalah produk dengan potensi return dan risiko tinggi. Bagi kalian pemilik tipe investor dengan profil risiko tinggi. Produk investasi yang dapat menjadi pilihan adalah saham dan reksa dana saham. Produk investasi ini memiliki potensi risiko dan return yang tinggi.

Saham merupakan salah satu produk investasi dengan risiko tinggi lantaran harga saham sangat fluktuatif. Harga saham bahkan dapat menyentuh harga terendah meskipun sebelumnya terlihat begitu potensial.  


Editor: Dika Irawan
SEBELUMNYA

KKN di Desa Penari Masuk ke Jajaran Film Terlaris di Indonesia

BERIKUTNYA

Spotify Uji Coba Fitur Koleksi NFT Musisi

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: