Ilustrasi (Dok. Arisa Chattasa/Unsplash)

Begini Sejarah Singkat Cap Go Meh sebagai Puncak Perayaan Imlek

15 February 2022   |   16:24 WIB

Hari ini, Selasa (15/2/2022), seluruh masyarakat Tionghoa merayakan Cap Go Meh. Menandai hari kelima belas bulan pertama Imlek, Cap Go Meh merupakan penutup dari rangkaian perayaan tahun baru bagi komunitas migran Tionghoa yang tinggal di luar China.

Dilansir dari laman Tionghoa Info, istilah Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkian yang bila diartikan secara harfiah berarti 15 hari atau malam setelah Imlek. Bila dipenggal per kata, Cap berarti sepuluh, Go adalah lima dan Meh berarti malam.

Perayaan Cap Go Meh atau Perayaan Lampion ini tidak hanya dirayakan di Indonesia, tetapi juga di beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Di negara China, festival Cap Go Meh dikenal dengan nama Festival Yuanxiao atau Festival Shanyuan.

Festival ini awalnya dirayakan sebagai hari penghormatan kepada Dewa Thai Yi yang dianggap sebagai dewa tertinggi di langit oleh Dinasti Han (206 SM-221 M). Dahulu, perayaan ini dilakukan tertutup hanya untuk kalangan istana dan belum dikenal secara umum oleh masyarakat Tiongkok.

Karena dilakukan pada malam hari, upacara Yuanxiao pun diiringi dengan lampu-lampu lampion yang dipasang sejak senja hari hingga keesokan harinya. Tak hanya menjadi penerang, pemasangan lampion kala itu juga dipercaya dapat mengusir hama dan binatang perusak ladang petani.

Ketika pemerintahan Dinasti Han berakhir dan digantikan oleh pemerintahan Dinasti Tang, perayaan ini menjadi lebih terbuka untuk umum. Perayaan ini pun menjadi sebuah festival yang bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat.
 

Ilustrasi (Dok. Lad Hara Caingcoy/Unsplash)

Ilustrasi (Dok. Lad Hara Caingcoy/Unsplash)

Perayaan Cap Go Meh di Indonesia sendiri sangat bervariasi. Perayaan biasanya dilakukan oleh masyarakat Tionghoa di klenteng atau Wihara dengan melakukan kirab atau turun ke jalan raya sambil menggotong ramai-ramai Kio/Usungan yang di dalamnya diletakkan arca para Dewa.

Mengutip skripsi Arya Nugraha Putra berjudul Ketupat Cap Go Meh dan Identitas Budaya Cina Peranakan di Jakarta, selain mengadakan kirab dengan berbagai macam atraksi dalam arak-arakan, masyarakat Tionghoa juga pergi ke kelenteng untuk memanjatkan doa dan memberikan persembahan kepada leluhur mereka.

Selain berdoa bersama, ada juga ritual melepas burung dengan jumlah yang banyak yang menurut kepercayaan mereka bisa membuang sial, serta membakar kertas dengan beberapa bentuk dengan tujuan mengirimkan doa kepada keluarga mereka yang sudah meninggal.

Selain kertas yang bertuliskan huruf Tionghoa,ada juga ritual membakar kertas dalam bentuk seperti uang palsu, rumah-rumahan, mobil-mobilan, dan perhiasan yang  bertujuan untuk mengirimkan kepada orang tua mereka, agar mereka juga mendapatkan rumah atau benda lainnya seperti yang dibakar.

(Baca juga: 10 Tradisi Unik Perayaan Imlek di Indonesia)

Dilansir dari Taoism Directory, saat Cap Go Meh, masyarakat Tionghoa juga biasanya menyaksikan tarian Barongsai dan Liong (naga), berkumpul untuk bermain game penuh teka-teki, dan makan onde-onde. 

Sepanjang perayaan tersebut, juga akan dimeriahkan dengan kehadiran kembang api dan petasan. Uniknya kata Barongsai ini bukan berasal dari Cina melainkan berdasarkan kata 'barong' yang dalam bahasa Jawa dan kata 'say' yang artinya singa dengan aksen Hokkien.  Tarian Singa adalah simbol kebahagiaan, kegembiraan, dan kesejahteraan.

Sementara Singa dianggap sebagai simbol dominasi atau kekuatan, menurut kepercayaan masyarakat Tionghoa.  Di banyak daerah, Cap Go Meh dilakukan dengan tradisi unik. Misalnya saat Cap Go Meh, kamu bisa mencari jodoh di Pulau Kemaro, Palembang.  Lain hal dengan Cap Go Meh di Singkawang yang dirayakan dengan menyaksikan pawai tatung untuk mengusir roh jahat.

Editor: Fajar Sidik
SEBELUMNYA

Investor Mulai Melirik Startup Hijau, Begini Strategi Meraup Dana Segar

BERIKUTNYA

Ewan McGregor Beraksi Lagi dalam Franchise Star Wars Terbaru

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: