Ilustrasi bentuk Covid-19 (dok. Pexels)

Yang Baru Seputar Covid-19, Efek Buruk Untuk Lansia Hingga Mutasi Menguntungkan

10 February 2022   |   09:28 WIB

Virus corona bisa berdampak buruk pada orang lanjut usia. Dalam penelitian terbaru di jurnal The BMJ, sepertiga lansia yang terinfeksi Covid-19 pada 2020 mengembangkan kondisi medis baru yang perlu perhatian dalam beberapa bulan pascainfeksi. 

Mengambil data dari catatan rencana asuransi kesehatan 133.366 lansia berusia 65 tahun atau lebih yang didiagnosis Covid-19 sebelum 1 April 2020, para peneliti dari Amerika Serikat menyebut bahwa kondisi kesehatan serius tersebut terjadi di organ jantung, ginjal, paru-paru, hati, hingga komplikasi kesehatan mental. 

Sebagai pembanding, mereka juga menggunakan data kelompok terinfeksi Covid-19 pada 2019, yang tidak terinfeksi Covid-19 pada 2020, serta kelompok yang didiagnosis penyakit saluran pernapasan bawah akibat virus. 

Dalam perjalanan penelitian yang dimulai 21 hari setelah peserta terinfeksi Covid-19 dan beberapa bulan setelahnya berdasarkan usia, ras, jenis kelamin, para peneliti mendapati bahwa 32 persen mereka melaporkan satu hingga lebih kondisi medis baru. 

Sebanyak 7,55 per 100 orang mengalami gagal napas, 5,66 per 100 orang kelelahan, 4,43 dari 100 orang tekanan darah tinggi, dan 2,5 per 100 orang didiagnosis bermasalah dengan kesehatan mental. Kondisi serupa juga ditemukan pada kelompok pembanding 2019.

Risiko meningkat pada lansia yang sempat menjalani perawatan di rumah sakit dan pada pria, ras kulit hitam, dan usia 75 tahun ke atas. Sementara itu, risiko kecil gejala medis baru terjadi pada lansia dengan penyakit saluran pernapasan bawah akibat virus. 
 
ilustrasi lansia/Freepik
Mutasi Menguntungkan

Di sisi lain, para peneliti virologi di Universitas Sahlgrenska mencatat bahwa salah satu cara tubuh memerangi Covid-19 yakni dengan memutasi virus corona. Mereka menemukan bahwa enzim alami tubuh ADAR1 alias adenosin deaminase yang bekerja pada RNA, dapat mengganggu reproduksi Covid-19.

Penelitian yang diterbitkan di jurnal PNAS itu menyebut ADAR1 yang ditemukan di dalam membran pelindung sel menggantikan nukleotida, bahan penyusun RNA virus. 

"Studi kami menunjukkan ada hubungan terbalik antara viral load dan sejauh mana ADAR1 memutasi virus. Kami juga menemukan bahwa mutasi yang diinduksi ADAR1 adalah jenis SARS yang paling umum, mutasi CoV-2," jelas Johan Ringlander, mahasiswa virologi di Universitas Sahlgrenska, penulis utama studi ini. 

Ringlander menuturkan sel-sel tubuh dapat menghasilkan varian virus yang bermutasi. Mutasi dapat membuat virus lebih menular sekaligus membuat kekuatannya lebih lemah. 

"Alih-alih menyebar, virus itu dikeluarkan dari sel yang terinfeksi. Temuan ini menunjukkan ADAR1 berfungsi sebagia mekanisme perlindungan oleh tubuh untuk membatasi infeksi virus," kata Ringlander 

Editor: M R Purboyo
SEBELUMNYA

ini 6 Kafe Instagrammable Di Bogor yang Cocok Buat Berakhir Pekan

BERIKUTNYA

Ini Spek & Harga Galaxy S22 Series, Ponsel Flagship dari Samsung

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: