Konsumsi Ikan Indonesia Masih Rendah, Ternyata Ini Penyebabnya

23 September 2025   |   18:34 WIB
Image
Dewi Andriani Jurnalis Hypeabis.id
Konsumsi Ikan Indonesia Masih Rendah, Ternyata Ini Penyebabnya

Ilustrasi olahan ikan (Sumber : Jametlene Reskp/Unsplash)


Indonesia dikenal sebagai negara maritim dengan kekayaan laut yang melimpah. Potensi ikan yang beragam seharusnya bisa menjadi andalan sumber pangan bergizi masyarakat, sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.

Namun sayangnya, tingkat konsumsi ikan di Indonesia masih relatif rendah dan belum merata di seluruh wilayah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), konsumsi ikan masyarakat Indonesia pada 2024 baru mencapai 25,31 kg per kapita per tahun.

Provinsi dengan konsumsi ikan tertinggi:
  1. Papua Barat Daya – 43,70 kg/kapita/tahun
  2. Sulawesi Tenggara – 43,38 kg/kapita/tahun
  3. Sulawesi Utara – 42,95 kg/kapita/tahun
  4. Kalimantan Utara – 40,69 kg/kapita/tahun
  5. Kepulauan Bangka Belitung – 40,05 kg/kapita/tahun

Ikan yang paling banyak dikonsumsi oleh Masyarakat Indonesia adalah tuna, cakalang dan tongkol (TCT), catfish, tilapia, kembung, dan bandeng. Minat ini juga terlihat dari data bahwa "Ikan Goreng" tercatat sebagai salah satu menu favorit masyarakat sehari-hari.

Tri Aris Wibowo, Direktur Pengolahan Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan (PDSPKP KKP) mengatakan, tantangan dalam mengonsumsi ikan di Indonesia sebetulnya bukan terletak pada ketersediaan, melainkan persepsi masyarakat.

“Masih ada anggapan bahwa ikan sulit diolah, amis, bahkan identik dengan mitos-mitos tertentu. Banyak keluarga juga lebih memilih telur, ayam, atau daging dibanding ikan,” jelasnya.

Padahal, ikan merupakan pangan biru yang kaya gizi, relatif rendah emisi karbon dalam proses budidayanya, serta mendukung keberlanjutan pangan.

Untuk mendorong lebih banyak Masyarakat mengonsumsi ikan, sejak 2004 KKP mencanangkan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan atau Gemarikan. Program ini bertujuan mendorong konsumsi ikan sebagai pangan sehat, bergizi, dan berkualitas, sekaligus upaya pencegahan stunting menuju Generasi Emas 2045.

“Kami mengajak kolaborasi lintas kementerian, lembaga, hingga produsen pangan agar ikan semakin mudah diterima dan menjadi pilihan utama keluarga Indonesia,” lanjut Aris.

Namun, perubahan perilaku konsumsi masyarakat tidak bisa instan. Banyak ibu rumah tangga mengaku malas mengolah ikan karena kurang tahu cara memasak yang tepat, repot dengan duri, atau tidak bisa mengatasi bau amis.

Kinanti Rakayantias, Senior Brand Manager Royco mengatakan, tantangan dalam mengolah ikan harus diatasi agar masyarakat semakin terbiasa mengonsumsinya.

“Studi kami menunjukkan potensi konsumsi ikan sangat besar, tapi ada hambatan di sisi pengolahan. Karena itu, perlu ada solusi praktis agar masyarakat lebih gemar memasak ikan dan bisa menikmati manfaat gizinya,” ujarnya.

Salah satu yang dilakukan adalah dengan meluncurkan Royco Bumbu Kaldu Rasa Ikan untuk membantu para ibu menyajikan kelezatan aneka olahan ikan mulai dari goreng, bakar, maupun kuah dengan cara yang mudah dan praktis, sekaligus menjadi bentuk dukungan kami terhadap semangat program ‘Gemarikan’.”

Di dalam kemasan tersebut sudah ada bahan-bahan yang membantu mengurangi amis mulai dari asam jawa, bawang putih, hingga kunyit yang bisa memberikan warna menarik sekaligus manfaat kesehatan.

Sementara itu, riset Kantar menunjukkan bahwa ikan goreng bahkan menempati posisi ketiga sebagai masakan yang paling sering dimasak di Indonesia. Artinya, peluang untuk memperluas variasi menu berbahan ikan sebenarnya sangat besar.

Baca Juga: Waralaba Kuliner Makin Menjanjikan di Indonesia, Texas Chicken Ekspansif

SEBELUMNYA

Yakiniku Futago, Rasa Jepang Autentik di Tengah Jakarta

BERIKUTNYA

7 Kota Kuliner Terbaik di Dunia versi TasteAtlas

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.


Ilustrasi olahan ikan (Sumber : Jametlene Reskp/Unsplash)

Konsumsi Ikan Indonesia Masih Rendah, Ternyata Ini Penyebabnya

23 September 2025   |   18:34 WIB
Image
Dewi Andriani Jurnalis Hypeabis.id
Konsumsi Ikan Indonesia Masih Rendah, Ternyata Ini Penyebabnya

Ilustrasi olahan ikan (Sumber : Jametlene Reskp/Unsplash)


Indonesia dikenal sebagai negara maritim dengan kekayaan laut yang melimpah. Potensi ikan yang beragam seharusnya bisa menjadi andalan sumber pangan bergizi masyarakat, sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.

Namun sayangnya, tingkat konsumsi ikan di Indonesia masih relatif rendah dan belum merata di seluruh wilayah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), konsumsi ikan masyarakat Indonesia pada 2024 baru mencapai 25,31 kg per kapita per tahun.

Provinsi dengan konsumsi ikan tertinggi:
  1. Papua Barat Daya – 43,70 kg/kapita/tahun
  2. Sulawesi Tenggara – 43,38 kg/kapita/tahun
  3. Sulawesi Utara – 42,95 kg/kapita/tahun
  4. Kalimantan Utara – 40,69 kg/kapita/tahun
  5. Kepulauan Bangka Belitung – 40,05 kg/kapita/tahun

Ikan yang paling banyak dikonsumsi oleh Masyarakat Indonesia adalah tuna, cakalang dan tongkol (TCT), catfish, tilapia, kembung, dan bandeng. Minat ini juga terlihat dari data bahwa "Ikan Goreng" tercatat sebagai salah satu menu favorit masyarakat sehari-hari.

Tri Aris Wibowo, Direktur Pengolahan Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan (PDSPKP KKP) mengatakan, tantangan dalam mengonsumsi ikan di Indonesia sebetulnya bukan terletak pada ketersediaan, melainkan persepsi masyarakat.

“Masih ada anggapan bahwa ikan sulit diolah, amis, bahkan identik dengan mitos-mitos tertentu. Banyak keluarga juga lebih memilih telur, ayam, atau daging dibanding ikan,” jelasnya.

Padahal, ikan merupakan pangan biru yang kaya gizi, relatif rendah emisi karbon dalam proses budidayanya, serta mendukung keberlanjutan pangan.

Untuk mendorong lebih banyak Masyarakat mengonsumsi ikan, sejak 2004 KKP mencanangkan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan atau Gemarikan. Program ini bertujuan mendorong konsumsi ikan sebagai pangan sehat, bergizi, dan berkualitas, sekaligus upaya pencegahan stunting menuju Generasi Emas 2045.

“Kami mengajak kolaborasi lintas kementerian, lembaga, hingga produsen pangan agar ikan semakin mudah diterima dan menjadi pilihan utama keluarga Indonesia,” lanjut Aris.

Namun, perubahan perilaku konsumsi masyarakat tidak bisa instan. Banyak ibu rumah tangga mengaku malas mengolah ikan karena kurang tahu cara memasak yang tepat, repot dengan duri, atau tidak bisa mengatasi bau amis.

Kinanti Rakayantias, Senior Brand Manager Royco mengatakan, tantangan dalam mengolah ikan harus diatasi agar masyarakat semakin terbiasa mengonsumsinya.

“Studi kami menunjukkan potensi konsumsi ikan sangat besar, tapi ada hambatan di sisi pengolahan. Karena itu, perlu ada solusi praktis agar masyarakat lebih gemar memasak ikan dan bisa menikmati manfaat gizinya,” ujarnya.

Salah satu yang dilakukan adalah dengan meluncurkan Royco Bumbu Kaldu Rasa Ikan untuk membantu para ibu menyajikan kelezatan aneka olahan ikan mulai dari goreng, bakar, maupun kuah dengan cara yang mudah dan praktis, sekaligus menjadi bentuk dukungan kami terhadap semangat program ‘Gemarikan’.”

Di dalam kemasan tersebut sudah ada bahan-bahan yang membantu mengurangi amis mulai dari asam jawa, bawang putih, hingga kunyit yang bisa memberikan warna menarik sekaligus manfaat kesehatan.

Sementara itu, riset Kantar menunjukkan bahwa ikan goreng bahkan menempati posisi ketiga sebagai masakan yang paling sering dimasak di Indonesia. Artinya, peluang untuk memperluas variasi menu berbahan ikan sebenarnya sangat besar.

Baca Juga: Waralaba Kuliner Makin Menjanjikan di Indonesia, Texas Chicken Ekspansif

SEBELUMNYA

Yakiniku Futago, Rasa Jepang Autentik di Tengah Jakarta

BERIKUTNYA

7 Kota Kuliner Terbaik di Dunia versi TasteAtlas

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.