Sayur Babanci, Warisan Rasa Betawi yang Hampir Punah

01 September 2025   |   20:00 WIB
Image
Tiffany Syabillah Mahasiswa Universitas Padjadjaran
Sayur Babanci, Warisan Rasa Betawi yang Hampir Punah

Sayur Babanci (Sumber gambar: Seni Budaya Betawi)


Di tengah derasnya tren kuliner modern yang semakin beragam, ada satu warisan kuliner Betawi yang keberadaannya kian terancam punah, yaitu sayur babanci atau sering disebut juga ketupat babanci. Hidangan merupakan sajian istimewa masyarakat Betawi, terutama saat bulan Ramadan hingga perayaan Idulfitri.

Hal ini menyebabkan makanan Ketupat Babanci menjadi kurang dikenal oleh sebagian besar penduduk kota Jakarta, sehingga dengan seiring berjalannya waktu sayur babanci semakin sulit ditemukan dan hanya sedikit orang yang masih bisa merasakan cita rasanya.

Baca juga: 5 Makanan Khas Betawi yang Makin Sulit Ditemukan

Meski bernama "sayur," hidangan ini sebenarnya tidak mengandung sayuran. Menurut sebuah penelitian yang ditulis Kusdiana, Putranto, dan Sarim dari Universitas Bina Nusantara, sayur babanci justru berbahan utama daging sapi, biasanya dari bagian kepala, yang dipadukan dengan kuah santan dan tidak kurang dari 21 jenis bumbu serta rempah.

Rasa gurihnya sangat khas, dengan aroma rempah yang kuat, menjadikannya berbeda dari gulai, kari, maupun soto. Identitas yang “tidak jelas” itulah yang membuatnya disebut babanci.

Kelangkaan sayur babanci bukan tanpa sebab. Beberapa bahan rempah yang digunakan, seperti kedaung, botor, lempuyang, temu mangga, temu kunci, dan bangle, kini semakin sulit ditemukan. Selain itu juga, proses memasaknya yang panjang dan rumit mengakibatkan makin berkurangnya masyarakat Betawi yang memiliki kemampuan untuk mengolahnya.

“Ketupat babanci sebagai makanan tradisional Betawi semakin jarang dijumpai. Masyarakat yang ingin menikmatinya harus menunggu kegiatan besar atau perayaan Lebaran,” tulis Kusdiana dan rekan dalam jurnal tersebut.

Saat ini, hanya beberapa wilayah di Jakarta yang masih bisa menjadi tempat berburu sayur babanci. Berdasarkan survei yang dilakukan tim peneliti, ketupat babanci masih bisa ditemukan di kawasan Setu Babakan, Pasar Minggu, Palmerah, Rawabelong, hingga Cempaka Putih. Namun jumlah penjualnya sangat terbatas, bahkan beberapa di antaranya sudah berhenti menjajakan hidangan ini.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebenarnya telah berupaya melestarikan kuliner Betawi melalui Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi. Peraturan ini menekankan pentingnya menjaga warisan budaya, termasuk kuliner khas.

Berbagai festival kuliner Betawi hingga promosi budaya ke luar negeri pun digelar. Meski demikian, popularitas sayur babanci masih kalah dibandingkan kerak telor, bir pletok, atau soto Betawi yang lebih mudah dijumpai.

Bagi masyarakat Betawi, sayur babanci memiliki nilai lebih dari sekadar makanan sehari-hari. Hidangan ini menjadi simbol identitas budaya yang mencerminkan sejarah panjang percampuran tradisi lokal dengan pengaruh Tionghoa dalam menciptakan resep khas ini.

Menghadapi tantangan tersebut, berbagai pihak kini mendorong program sosialisasi, pelatihan memasak, dan pengembangan sentra kuliner Betawi agar generasi muda tidak kehilangan koneksi dengan warisan budaya ini.

Di era ketika masyarakat kembali memburu kuliner tradisional yang autentik, sayur babanci seharusnya mendapat tempat istimewa. Sebab, di setiap suapannya tersimpan cerita tentang kekayaan rempah Nusantara sekaligus jati diri masyarakat Betawi. Jika tidak segera dilestarikan, hidangan ini berisiko hanya tinggal nama di buku sejarah kuliner Indonesia.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Ragam Kuliner Berbahan Ikan Mentah Asli Indonesia

BERIKUTNYA

Paras Nusantara, Cita Rasa Nusantara di Tengah Jakarta

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.


Sayur Babanci (Sumber gambar: Seni Budaya Betawi)

Sayur Babanci, Warisan Rasa Betawi yang Hampir Punah

01 September 2025   |   20:00 WIB
Image
Tiffany Syabillah Mahasiswa Universitas Padjadjaran
Sayur Babanci, Warisan Rasa Betawi yang Hampir Punah

Sayur Babanci (Sumber gambar: Seni Budaya Betawi)


Di tengah derasnya tren kuliner modern yang semakin beragam, ada satu warisan kuliner Betawi yang keberadaannya kian terancam punah, yaitu sayur babanci atau sering disebut juga ketupat babanci. Hidangan merupakan sajian istimewa masyarakat Betawi, terutama saat bulan Ramadan hingga perayaan Idulfitri.

Hal ini menyebabkan makanan Ketupat Babanci menjadi kurang dikenal oleh sebagian besar penduduk kota Jakarta, sehingga dengan seiring berjalannya waktu sayur babanci semakin sulit ditemukan dan hanya sedikit orang yang masih bisa merasakan cita rasanya.

Baca juga: 5 Makanan Khas Betawi yang Makin Sulit Ditemukan

Meski bernama "sayur," hidangan ini sebenarnya tidak mengandung sayuran. Menurut sebuah penelitian yang ditulis Kusdiana, Putranto, dan Sarim dari Universitas Bina Nusantara, sayur babanci justru berbahan utama daging sapi, biasanya dari bagian kepala, yang dipadukan dengan kuah santan dan tidak kurang dari 21 jenis bumbu serta rempah.

Rasa gurihnya sangat khas, dengan aroma rempah yang kuat, menjadikannya berbeda dari gulai, kari, maupun soto. Identitas yang “tidak jelas” itulah yang membuatnya disebut babanci.

Kelangkaan sayur babanci bukan tanpa sebab. Beberapa bahan rempah yang digunakan, seperti kedaung, botor, lempuyang, temu mangga, temu kunci, dan bangle, kini semakin sulit ditemukan. Selain itu juga, proses memasaknya yang panjang dan rumit mengakibatkan makin berkurangnya masyarakat Betawi yang memiliki kemampuan untuk mengolahnya.

“Ketupat babanci sebagai makanan tradisional Betawi semakin jarang dijumpai. Masyarakat yang ingin menikmatinya harus menunggu kegiatan besar atau perayaan Lebaran,” tulis Kusdiana dan rekan dalam jurnal tersebut.

Saat ini, hanya beberapa wilayah di Jakarta yang masih bisa menjadi tempat berburu sayur babanci. Berdasarkan survei yang dilakukan tim peneliti, ketupat babanci masih bisa ditemukan di kawasan Setu Babakan, Pasar Minggu, Palmerah, Rawabelong, hingga Cempaka Putih. Namun jumlah penjualnya sangat terbatas, bahkan beberapa di antaranya sudah berhenti menjajakan hidangan ini.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebenarnya telah berupaya melestarikan kuliner Betawi melalui Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi. Peraturan ini menekankan pentingnya menjaga warisan budaya, termasuk kuliner khas.

Berbagai festival kuliner Betawi hingga promosi budaya ke luar negeri pun digelar. Meski demikian, popularitas sayur babanci masih kalah dibandingkan kerak telor, bir pletok, atau soto Betawi yang lebih mudah dijumpai.

Bagi masyarakat Betawi, sayur babanci memiliki nilai lebih dari sekadar makanan sehari-hari. Hidangan ini menjadi simbol identitas budaya yang mencerminkan sejarah panjang percampuran tradisi lokal dengan pengaruh Tionghoa dalam menciptakan resep khas ini.

Menghadapi tantangan tersebut, berbagai pihak kini mendorong program sosialisasi, pelatihan memasak, dan pengembangan sentra kuliner Betawi agar generasi muda tidak kehilangan koneksi dengan warisan budaya ini.

Di era ketika masyarakat kembali memburu kuliner tradisional yang autentik, sayur babanci seharusnya mendapat tempat istimewa. Sebab, di setiap suapannya tersimpan cerita tentang kekayaan rempah Nusantara sekaligus jati diri masyarakat Betawi. Jika tidak segera dilestarikan, hidangan ini berisiko hanya tinggal nama di buku sejarah kuliner Indonesia.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Ragam Kuliner Berbahan Ikan Mentah Asli Indonesia

BERIKUTNYA

Paras Nusantara, Cita Rasa Nusantara di Tengah Jakarta

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.