Sejarah Panjang Mochi Kue Ketan Jepang yang Mendunia
24 August 2025 |
07:55 WIB
Mochi. (Sumber: Freepik)
Mochi kini semakin populer secara global. Banyak toko makanan yang berinovasi dengan menciptakan beragam varian, mulai dari mochi daifuku, roti mochi, es krim mochi, hingga donat mochi. Kue beras khas Jepang ini dikenal dengan teksturnya yang kenyal dan rasanya yang manis, sehingga mudah diterima berbagai kalangan.
Asal-usul mochi dapat ditelusuri jauh ke belakang, tepatnya sejak zaman Jomon, sekitar 14.000–300 SM. Pada masa itu, masyarakat Jepang sudah mulai mengenal aktivitas agrikultur seperti menanam padi, yang kemudian menjadi bahan dasar pembuatan mochi.
Baca juga: Mirip Mochi, Begini Asal-usul dan Resep Kue Dango
Perkembangan mochi berlanjut ke periode Nara (710–794 SM), ketika makanan ini mulai dikenal sebagai camilan yang kerap disajikan. Popularitasnya meningkat pada periode Heian, saat mochi menjadi hidangan khusus di berbagai perayaan bangsawan. Hingga periode Edo (1603–1868), mochi berkembang pesat menjadi salah satu makanan pokok Jepang dengan beragam variasi di tiap daerah.
Awalnya, orang Barat menyebut mochi sebagai kue beras Jepang. Namun, berkat perkembangan media sosial dan meluasnya siaran anime ke berbagai negara, mochi akhirnya lebih dikenal dengan nama aslinya. Fenomena ini membuat mochi tidak hanya menjadi makanan tradisional, tetapi juga simbol budaya Jepang yang mendunia.
Mochi memiliki jejak sejarah yang panjang dalam budaya Jepang. Hidangan ini dibuat dari beras ketan matang yang disebut mochigome. Beras kemudian ditumbuk menggunakan palu kayu hingga menjadi adonan yang lembut dan elastis. Proses tradisional ini dikenal dengan nama mochitsuki.
Secara harfiah, mochitsuki berarti “menumbuk mochi”. Tradisi ini umumnya dilakukan saat liburan tahun baru, dengan rangkaian proses yang cukup panjang. Mulai dari persiapan beras, penumbukan, pembentukan adonan, hingga akhirnya mochi disajikan, semua bisa memakan waktu berhari-hari.
Meski terbilang melelahkan, mochitsuki tetap menjadi tradisi yang dinantikan keluarga di Jepang. Lebih dari sekadar membuat makanan, aktivitas ini dianggap membawa kebersamaan.
Bahkan, banyak orang berpendapat bahwa menyaksikan proses pembuatan mochi bersama keluarga dan kerabat bisa terasa lebih menyenangkan dibandingkan hanya menikmati mochi itu sendiri.
Mochi Tak Hanya Disajikan dengan Rasa Manis, Lho!
Umumnya kita hanya mengenali mochi yang terasa manis di lidah. Mochi dengan rasa yang manis ini menjadi hidangan penutup yang biasa disebut dengan wagashi. Namun, ternyata ada juga jenis mochi ozoni, yang biasanya disajikan bersama sayuran dan sup dengan kaldu miso ataupun kecap. Biasanya, mochi ini dinikmati bersama keluarga di awal tahun.
Mochi ozoni telah menjadi hidangan tradisional Jepang sejak lebih dari 500 tahun lalu. Biasanya, mochi ozoni akan disantap oleh para samurai sebagai hidangan pembuka sebelum memulai ritual makan. Hingga kini, mochi ozoni disajikan dalam berbagai versi di berbagai daerah di Jepang.
Selain mochi yang dihidangkan dalam sup, ada juga mochi yang tidak dimakan, melainkan hanya dipajang. Mochi jenis ini disebut sebagai kagami yang merupakan persembahan untuk toshigami (dewa di tahun baru). Mochi kagami disusun atas dua mochi dengan ukuran berbeda yang ditumpuk dengan jeruk mandarin. Dua kue mochi yang bertumpuk menyimbolkan yin (bulan) dan yang (matahari).
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Asal-usul mochi dapat ditelusuri jauh ke belakang, tepatnya sejak zaman Jomon, sekitar 14.000–300 SM. Pada masa itu, masyarakat Jepang sudah mulai mengenal aktivitas agrikultur seperti menanam padi, yang kemudian menjadi bahan dasar pembuatan mochi.
Baca juga: Mirip Mochi, Begini Asal-usul dan Resep Kue Dango
Perkembangan mochi berlanjut ke periode Nara (710–794 SM), ketika makanan ini mulai dikenal sebagai camilan yang kerap disajikan. Popularitasnya meningkat pada periode Heian, saat mochi menjadi hidangan khusus di berbagai perayaan bangsawan. Hingga periode Edo (1603–1868), mochi berkembang pesat menjadi salah satu makanan pokok Jepang dengan beragam variasi di tiap daerah.
Awalnya, orang Barat menyebut mochi sebagai kue beras Jepang. Namun, berkat perkembangan media sosial dan meluasnya siaran anime ke berbagai negara, mochi akhirnya lebih dikenal dengan nama aslinya. Fenomena ini membuat mochi tidak hanya menjadi makanan tradisional, tetapi juga simbol budaya Jepang yang mendunia.
Mochitsuki: Pembuatan Mochi Tradisional
Mochi memiliki jejak sejarah yang panjang dalam budaya Jepang. Hidangan ini dibuat dari beras ketan matang yang disebut mochigome. Beras kemudian ditumbuk menggunakan palu kayu hingga menjadi adonan yang lembut dan elastis. Proses tradisional ini dikenal dengan nama mochitsuki.Secara harfiah, mochitsuki berarti “menumbuk mochi”. Tradisi ini umumnya dilakukan saat liburan tahun baru, dengan rangkaian proses yang cukup panjang. Mulai dari persiapan beras, penumbukan, pembentukan adonan, hingga akhirnya mochi disajikan, semua bisa memakan waktu berhari-hari.
Meski terbilang melelahkan, mochitsuki tetap menjadi tradisi yang dinantikan keluarga di Jepang. Lebih dari sekadar membuat makanan, aktivitas ini dianggap membawa kebersamaan.
Bahkan, banyak orang berpendapat bahwa menyaksikan proses pembuatan mochi bersama keluarga dan kerabat bisa terasa lebih menyenangkan dibandingkan hanya menikmati mochi itu sendiri.
Mochi Tak Hanya Disajikan dengan Rasa Manis, Lho!
Umumnya kita hanya mengenali mochi yang terasa manis di lidah. Mochi dengan rasa yang manis ini menjadi hidangan penutup yang biasa disebut dengan wagashi. Namun, ternyata ada juga jenis mochi ozoni, yang biasanya disajikan bersama sayuran dan sup dengan kaldu miso ataupun kecap. Biasanya, mochi ini dinikmati bersama keluarga di awal tahun.
Mochi ozoni telah menjadi hidangan tradisional Jepang sejak lebih dari 500 tahun lalu. Biasanya, mochi ozoni akan disantap oleh para samurai sebagai hidangan pembuka sebelum memulai ritual makan. Hingga kini, mochi ozoni disajikan dalam berbagai versi di berbagai daerah di Jepang.
Selain mochi yang dihidangkan dalam sup, ada juga mochi yang tidak dimakan, melainkan hanya dipajang. Mochi jenis ini disebut sebagai kagami yang merupakan persembahan untuk toshigami (dewa di tahun baru). Mochi kagami disusun atas dua mochi dengan ukuran berbeda yang ditumpuk dengan jeruk mandarin. Dua kue mochi yang bertumpuk menyimbolkan yin (bulan) dan yang (matahari).
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.
KUMPULAN ARTIKEL LAINNYA
Menikmati House of Tugu, Destinasi Kuliner Berbalut Sejarah di Kota Tua Jakarta
26 Maret 2026
Rekomendasi Kuliner Khas di Jawa Tengah yang Wajib Dicoba Saat Mudik
17 Maret 2026
The Good Bagel: Kafe Bagel Artisan di Gading Serpong yang Viral
16 Maret 2026
Menikmati Kuliner Indonesia dalam Balutan Modern di Menteng
13 Maret 2026