BMKG Peringatkan Kemarau Ekstrem 2026, Lebih Panjang & Kering dari Biasanya
17 March 2026 |
15:30 WIB
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis peringatan dini terkait potensi musim kemarau 2026 di Indonesia yang diperkirakan datang lebih awal dari biasanya, dengan durasi yang lebih panjang serta kondisi yang cenderung lebih kering.
Proyeksi ini didasarkan pada pemantauan dinamika iklim global terkini, yang menunjukkan adanya perubahan pola cuaca signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Baca juga: Panas Ekstrem Tingkatkan Risiko Kanker Kulit, Dokter Bagikan Langkah Pencegahannya
Dalam konferensi pers prakiraan awal musim kemarau pada 4 Maret 2026, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan bahwa sekitar 57,2 persen wilayah Indonesia atau 400 Zona Musim berpotensi mengalami durasi kemarau yang lebih panjang.
Pernyataan ini, seperti dikutip dari laman resmi BMKG dan sejumlah media nasional, berkaitan dengan berakhirnya fenomena La Niña lemah pada Februari 2026.
BMKG menjelaskan bahwa kondisi iklim global saat ini memasuki fase netral setelah nilai indeks El Niño Southern Oscillation (ENSO) berada di kisaran -0,28. Berdasarkan pemantauan resmi, fase ini diperkirakan bertahan hingga Juni 2026.
Meski demikian, peluang terbentuknya El Niño lemah hingga moderat mulai meningkat pada semester kedua tahun ini. Menurut analisis BMKG, probabilitasnya berada di kisaran 50–60 persen, sementara fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi tetap netral. Kombinasi kondisi tersebut dinilai cukup mendukung terjadinya musim kemarau yang lebih ekstrem.
BMKG mencatat, sebanyak 114 Zona Musim mulai memasuki kemarau pada April 2026. Wilayahnya meliputi pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, serta Nusa Tenggara.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, dalam keterangannya yang dikutip berbagai media menyebutkan bahwa 184 Zona Musim akan menyusul pada Mei, dan 163 Zona Musim pada Juni. Secara keseluruhan, hampir setengah wilayah Indonesia diprediksi mengalami awal kemarau yang lebih cepat dari biasanya.
Selain durasi, tingkat kekeringan juga diperkirakan meningkat. BMKG memproyeksikan sekitar 64,5 persen wilayah Indonesia akan mengalami kemarau dengan sifat “bawah normal” atau lebih kering dari biasanya.
Sementara itu, hanya sebagian kecil wilayah yang diperkirakan mengalami kondisi normal hingga lebih basah. Berdasarkan data BMKG, puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah diprediksi terjadi pada Agustus 2026.
Lembaga regional ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) juga memproyeksikan kenaikan suhu di kawasan Asia Tenggara. Dalam laporan yang dikutip media internasional, peluang suhu di atas normal di Indonesia dan Malaysia diperkirakan mencapai 80 hingga 100 persen pada periode Maret hingga Mei 2026.
Kondisi panas ini diprediksi akan muncul lebih awal di Indonesia sebelum meluas ke negara lain di Asia Tenggara dalam beberapa bulan berikutnya.
BMKG mengingatkan bahwa kombinasi suhu tinggi, kemarau panjang, dan kondisi kering dapat memicu berbagai risiko lingkungan. Mulai dari krisis air bersih, penurunan kualitas udara, hingga meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan.
Menurut berbagai laporan, sektor pertanian juga menjadi salah satu yang paling rentan terdampak, terutama akibat berkurangnya ketersediaan air yang dapat memengaruhi produksi pangan.
Sebagai langkah mitigasi, BMKG merekomendasikan penyesuaian pola tanam dengan memilih varietas yang lebih tahan kekeringan dan memiliki siklus panen lebih singkat. Rekomendasi ini, sebagaimana disampaikan dalam rilis resmi BMKG, juga mencakup penguatan pengelolaan sumber daya air.
Upaya tersebut meliputi optimalisasi waduk, perbaikan sistem distribusi air, serta penyusunan rencana alokasi air tahunan guna menjaga pasokan bagi kebutuhan domestik, pertanian, hingga energi.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Proyeksi ini didasarkan pada pemantauan dinamika iklim global terkini, yang menunjukkan adanya perubahan pola cuaca signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Baca juga: Panas Ekstrem Tingkatkan Risiko Kanker Kulit, Dokter Bagikan Langkah Pencegahannya
Dalam konferensi pers prakiraan awal musim kemarau pada 4 Maret 2026, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan bahwa sekitar 57,2 persen wilayah Indonesia atau 400 Zona Musim berpotensi mengalami durasi kemarau yang lebih panjang.
Pernyataan ini, seperti dikutip dari laman resmi BMKG dan sejumlah media nasional, berkaitan dengan berakhirnya fenomena La Niña lemah pada Februari 2026.
Penyebab: La Niña Berakhir, El Niño Mengancam
BMKG menjelaskan bahwa kondisi iklim global saat ini memasuki fase netral setelah nilai indeks El Niño Southern Oscillation (ENSO) berada di kisaran -0,28. Berdasarkan pemantauan resmi, fase ini diperkirakan bertahan hingga Juni 2026.Meski demikian, peluang terbentuknya El Niño lemah hingga moderat mulai meningkat pada semester kedua tahun ini. Menurut analisis BMKG, probabilitasnya berada di kisaran 50–60 persen, sementara fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi tetap netral. Kombinasi kondisi tersebut dinilai cukup mendukung terjadinya musim kemarau yang lebih ekstrem.
Wilayah Terdampak dan Jadwal Kemarau
BMKG mencatat, sebanyak 114 Zona Musim mulai memasuki kemarau pada April 2026. Wilayahnya meliputi pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, serta Nusa Tenggara.Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, dalam keterangannya yang dikutip berbagai media menyebutkan bahwa 184 Zona Musim akan menyusul pada Mei, dan 163 Zona Musim pada Juni. Secara keseluruhan, hampir setengah wilayah Indonesia diprediksi mengalami awal kemarau yang lebih cepat dari biasanya.
Tingkat Kekeringan: 64,5 Persen Wilayah Lebih Kering dari Normal
Selain durasi, tingkat kekeringan juga diperkirakan meningkat. BMKG memproyeksikan sekitar 64,5 persen wilayah Indonesia akan mengalami kemarau dengan sifat “bawah normal” atau lebih kering dari biasanya.Sementara itu, hanya sebagian kecil wilayah yang diperkirakan mengalami kondisi normal hingga lebih basah. Berdasarkan data BMKG, puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah diprediksi terjadi pada Agustus 2026.
Prediksi Suhu Ekstrem dari ASEAN Meteorological Centre
Lembaga regional ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) juga memproyeksikan kenaikan suhu di kawasan Asia Tenggara. Dalam laporan yang dikutip media internasional, peluang suhu di atas normal di Indonesia dan Malaysia diperkirakan mencapai 80 hingga 100 persen pada periode Maret hingga Mei 2026.Kondisi panas ini diprediksi akan muncul lebih awal di Indonesia sebelum meluas ke negara lain di Asia Tenggara dalam beberapa bulan berikutnya.
Dampak dan Risiko Bencana
BMKG mengingatkan bahwa kombinasi suhu tinggi, kemarau panjang, dan kondisi kering dapat memicu berbagai risiko lingkungan. Mulai dari krisis air bersih, penurunan kualitas udara, hingga meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan.Menurut berbagai laporan, sektor pertanian juga menjadi salah satu yang paling rentan terdampak, terutama akibat berkurangnya ketersediaan air yang dapat memengaruhi produksi pangan.
Langkah Antisipasi yang Direkomendasikan BMKG
Sebagai langkah mitigasi, BMKG merekomendasikan penyesuaian pola tanam dengan memilih varietas yang lebih tahan kekeringan dan memiliki siklus panen lebih singkat. Rekomendasi ini, sebagaimana disampaikan dalam rilis resmi BMKG, juga mencakup penguatan pengelolaan sumber daya air.Upaya tersebut meliputi optimalisasi waduk, perbaikan sistem distribusi air, serta penyusunan rencana alokasi air tahunan guna menjaga pasokan bagi kebutuhan domestik, pertanian, hingga energi.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.