Petugas melayani warga melakukan penukaran uang rupiah baru pada program Serambi 2026 di GBK Basketball Hall, Jakarta, Kamis (12/3/2026). (Sumber foto: JIBI/Bisnis/Himawan L. Nugraha)

THR dan Bonus Cair Bersamaan, Atur Agar Tak Sekadar Lewat

12 March 2026   |   15:05 WIB
Image
Dewi Andriani Jurnalis Hypeabis.id

Pencairan tunjangan hari raya (THR) selalu menjadi momen yang dinantikan para pekerja menjelang Lebaran. Namun pada tahun ini, sebagian karyawan juga menerima bonus perusahaan di waktu yang berdekatan dengan THR. Kondisi tersebut membuat pemasukan yang diterima menjadi lebih besar dari biasanya.

Meski terlihat seperti 'durian runtuh' dana dalam jumlah besar tersebut justru berpotensi memicu pengeluaran yang tidak terkontrol apabila tidak dikelola dengan baik.

Perencana keuangan dan Co-Founder OneShildt Consulting Budi Rahardjo mengingatkan bahwa dana THR dan bonus sebaiknya diatur dengan perencanaan yang jelas agar benar-benar memberikan manfaat bagi kondisi keuangan.

“Dana dalam jumlah besar sering kali membuat seseorang lebih impulsif dalam berbelanja. Tanpa perencanaan, THR dan bonus yang seharusnya menjadi berkah justru bisa habis untuk kebutuhan konsumtif,” ujar Budi.

Baca juga: Strategi Mengatur Keuangan Beasiswa agar Studi Tetap Aman dan Lancar

Menurutnya, langkah pertama yang bisa dilakukan adalah memisahkan dana THR dan bonus ke dalam rekening yang berbeda. Cara ini membantu memudahkan pengawasan terhadap penggunaannya serta mengurangi godaan untuk membelanjakan dana secara spontan.

Setelah itu, masyarakat disarankan menyusun daftar kebutuhan Lebaran secara rinci dan berdasarkan prioritas. Pengeluaran tersebut bisa mencakup zakat fitrah maupun zakat mal, belanja kebutuhan hari raya, biaya mudik, bantuan untuk kerabat, hingga kebutuhan saat mengadakan open house.

Budi juga menekankan pentingnya menahan diri untuk tidak langsung menghabiskan sisa dana setelah kebutuhan utama terpenuhi. Ia menyarankan agar masyarakat terlebih dahulu mengevaluasi kebutuhan keuangan dalam beberapa bulan ke depan.

Misalnya, menyiapkan dana untuk kurban, membayar pajak tahunan, rencana liburan keluarga, hingga memperkuat kondisi finansial seperti melunasi cicilan konsumtif, menambah dana darurat, atau meningkatkan porsi investasi dan proteksi.

“Jika semua kebutuhan tersebut sudah terpenuhi dan masih ada dana tersisa, barulah sebagian bisa digunakan untuk bersenang-senang,” kata Budi.

Untuk mempermudah pengelolaan, Budi memberikan contoh skema alokasi sederhana 40-30-20-10 untuk penggunaan dana THR. Sebanyak 40 persen dapat dialokasikan untuk kebutuhan utama seperti zakat, pakaian, dan biaya mudik. Kemudian 30 persen untuk kebutuhan sosial, misalnya bantuan keluarga, uang THR untuk kerabat, atau hampers Lebaran.

Sementara 20 persen dapat disiapkan sebagai dana cadangan, terutama untuk kebutuhan tak terduga selama mudik atau libur Lebaran. Adapun 10 persen sisanya bisa diarahkan untuk tabungan, investasi, atau melunasi utang.

Meski demikian, Budi menegaskan bahwa komposisi tersebut hanya bersifat acuan. Setiap keluarga dapat menyesuaikan alokasi sesuai dengan kondisi keuangan dan prioritas masing-masing.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat menghindari penggunaan utang untuk menutupi pengeluaran hari raya. Jika pengeluaran ternyata melebihi dana THR, maka bonus dapat dimanfaatkan sebagai alternatif tambahan.

Namun jika berutang memang tidak dapat dihindari, masyarakat perlu memastikan bahwa cicilan masih dalam batas kemampuan, memiliki biaya yang rendah, serta dapat dilunasi dalam waktu singkat. “Kalau pun harus berutang, idealnya cicilan tersebut tidak lebih dari tiga bulan sudah bisa diselesaikan agar tidak menjadi beban keuangan setelah Lebaran,” ujar Budi.

 

SEBELUMNYA

Bagaimana Seniman Angki Purbandono Menemukan Filosofi Hidup Lewat Bunga? 

BERIKUTNYA

Jisoo Blackpink Raih Madame Figaro Rising Star Award di Canneseries 2026

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga