Novel Rumah Karya J.S Khairen Bawa Perjalanan Batin Mencari Tempat Pulang
03 March 2026 |
17:30 WIB
Penulis Jombang Santani (J.S) Khairen kembali menghadirkan karya fiksi terbarunya berjudul Rumah. Novel setebal 360 halaman ini menambah deretan karya sastra yang menempatkan perjalanan batin manusia sebagai poros utama cerita.
Melalui Rumah, J.S. Khairen mengajak pembaca menelusuri makna pulang yang tidak selalu identik dengan kehangatan, melainkan kerap bersinggungan dengan luka, trauma, dan ingatan masa lalu. Diposisikan sebagai novel reflektif, Rumah berbicara tentang relasi keluarga, pencarian jati diri, serta upaya memaafkan yang tidak sederhana.
Baca juga: Resensi Buku Revolusi, Saat Perubahan Sosial-Politik Indonesia Mengubah Dunia
Sejak diperkenalkan ke publik, novel ini menarik perhatian karena mengangkat tema yang dekat dengan pengalaman banyak orang, yakni pulang ke rumah yang secara fisik ada, tetapi secara emosional terasa hilang. Bahkan sebelum rilis, novel ini sudah dipesan 10.000 eksemplar.
Dalam pengantarnya, Rumah digambarkan sebagai tempat yang mengizinkan seseorang untuk gagal berkali-kali. Rumah menjadi ruang untuk lelah, mengeluh, marah, dan salah. Namun, novel ini juga jujur mengakui bahwa rumah tidak selalu ramah. Ada kalanya rumah justru menjadi tempat paling menyakitkan, meski tetap menjadi tujuan yang dirindukan ketika perjalanan hidup terasa terlalu jauh dan melelahkan.
Cerita novel ini berpusat pada Ria, seorang perempuan berusia 27 tahun yang bekerja sebagai perencana perjalanan mewah. Pekerjaannya menuntut Ria untuk berkeliling dunia, menyusun perjalanan eksklusif bagi klien-kliennya. Kota-kota modern telah dia jelajahi, tempat-tempat terpencil telah didatangi, bahkan pengalaman ekstrem yang terdengar mustahil bagi kebanyakan orang pun telah dia rasakan.
Dunia menjadi ruang geraknya, dan kemewahan bukan lagi sesuatu yang asing. Namun di balik semua itu, Ria menyimpan kekosongan yang tak terisi.
Sejauh apa pun dia berpetualang, dia tak pernah menemukan tempat kembali, rumah. Bagi Ria, pulang bukanlah kebutuhan, melainkan sesuatu yang dihindari. Rumah adalah tempat kebencian terhadap ibu dan ayahnya menetap, tempat luka masa kecil terus bergaung.
Ingatan Ria tentang rumah dipenuhi suara cercaan sang ibu dan kekerasan ayah yang membekas hingga dewasa. Di tumbuh dengan rasa terasing di dalam keluarganya sendiri. Pengalaman masuk pesantren tak serta-merta menyembuhkan luka itu.
Kebencian Ria justru semakin lengkap ketika dia mengetahui ayahnya memiliki anak lain dari perempuan yang berbeda. Sejak saat itu, rumah sepenuhnya kehilangan maknanya sebagai tempat aman.
Melalui perjalanan Ria, Rumah menjadi kisah tentang pencarian dan pemaafan. Ini adalah perjalanan untuk menemukan rumah, baik dalam arti fisik maupun sebagai ikatan keluarga. Novel ini menempatkan Ria sebagai cermin bagi banyak orang yang mungkin hampir setiap hari pulang, tetapi tak pernah benar-benar merasa tiba.
Dengan gaya tutur yang lirih dan reflektif, J.S. Khairen membawa pembaca menyelami ruang-ruang sunyi yang kerap tersembunyi, entah di sudut kamar, balik helm perjalanan, hingga kamar mandi yang menjadi saksi air mata. Rumah tidak menawarkan jawaban cepat, melainkan mengajak pembaca berhenti sejenak, merawat luka, lalu melanjutkan perjalanan ketika sudah cukup kuat.
Melalui Rumah, J.S. Khairen kembali menegaskan ciri khasnya sebagai penulis yang meramu kisah sederhana dengan emosi yang kuat, sebuah pengingat bahwa perjalanan paling sulit sering kali bukan tentang sejauh apa seseorang pergi, melainkan keberanian untuk pulang dan berdamai.
J.S Khairen merupakan penulis kelahiran Padang yang dikenal produktif dan konsisten menghadirkan karya-karya populer di kalangan pembaca muda hingga dewasa. Dia telah menerbitkan puluhan judul buku, baik fiksi maupun nonfiksi, dengan tema perjalanan, keluarga, dan pencarian makna hidup.
Namanya semakin dikenal luas melalui novel Melangkah (2020), disusul Kado Terbaik (2022) dan Bungkam Suara (2023). Dalam setiap karyanya, J.S. Khairen kerap mengangkat tokoh-tokoh yang bergerak jauh secara fisik, tetapi menyimpan pergulatan batin yang dalam.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Melalui Rumah, J.S. Khairen mengajak pembaca menelusuri makna pulang yang tidak selalu identik dengan kehangatan, melainkan kerap bersinggungan dengan luka, trauma, dan ingatan masa lalu. Diposisikan sebagai novel reflektif, Rumah berbicara tentang relasi keluarga, pencarian jati diri, serta upaya memaafkan yang tidak sederhana.
Baca juga: Resensi Buku Revolusi, Saat Perubahan Sosial-Politik Indonesia Mengubah Dunia
Sejak diperkenalkan ke publik, novel ini menarik perhatian karena mengangkat tema yang dekat dengan pengalaman banyak orang, yakni pulang ke rumah yang secara fisik ada, tetapi secara emosional terasa hilang. Bahkan sebelum rilis, novel ini sudah dipesan 10.000 eksemplar.
Dalam pengantarnya, Rumah digambarkan sebagai tempat yang mengizinkan seseorang untuk gagal berkali-kali. Rumah menjadi ruang untuk lelah, mengeluh, marah, dan salah. Namun, novel ini juga jujur mengakui bahwa rumah tidak selalu ramah. Ada kalanya rumah justru menjadi tempat paling menyakitkan, meski tetap menjadi tujuan yang dirindukan ketika perjalanan hidup terasa terlalu jauh dan melelahkan.
Cerita novel ini berpusat pada Ria, seorang perempuan berusia 27 tahun yang bekerja sebagai perencana perjalanan mewah. Pekerjaannya menuntut Ria untuk berkeliling dunia, menyusun perjalanan eksklusif bagi klien-kliennya. Kota-kota modern telah dia jelajahi, tempat-tempat terpencil telah didatangi, bahkan pengalaman ekstrem yang terdengar mustahil bagi kebanyakan orang pun telah dia rasakan.
Dunia menjadi ruang geraknya, dan kemewahan bukan lagi sesuatu yang asing. Namun di balik semua itu, Ria menyimpan kekosongan yang tak terisi.
Sejauh apa pun dia berpetualang, dia tak pernah menemukan tempat kembali, rumah. Bagi Ria, pulang bukanlah kebutuhan, melainkan sesuatu yang dihindari. Rumah adalah tempat kebencian terhadap ibu dan ayahnya menetap, tempat luka masa kecil terus bergaung.
Ingatan Ria tentang rumah dipenuhi suara cercaan sang ibu dan kekerasan ayah yang membekas hingga dewasa. Di tumbuh dengan rasa terasing di dalam keluarganya sendiri. Pengalaman masuk pesantren tak serta-merta menyembuhkan luka itu.
Kebencian Ria justru semakin lengkap ketika dia mengetahui ayahnya memiliki anak lain dari perempuan yang berbeda. Sejak saat itu, rumah sepenuhnya kehilangan maknanya sebagai tempat aman.
Melalui perjalanan Ria, Rumah menjadi kisah tentang pencarian dan pemaafan. Ini adalah perjalanan untuk menemukan rumah, baik dalam arti fisik maupun sebagai ikatan keluarga. Novel ini menempatkan Ria sebagai cermin bagi banyak orang yang mungkin hampir setiap hari pulang, tetapi tak pernah benar-benar merasa tiba.
Dengan gaya tutur yang lirih dan reflektif, J.S. Khairen membawa pembaca menyelami ruang-ruang sunyi yang kerap tersembunyi, entah di sudut kamar, balik helm perjalanan, hingga kamar mandi yang menjadi saksi air mata. Rumah tidak menawarkan jawaban cepat, melainkan mengajak pembaca berhenti sejenak, merawat luka, lalu melanjutkan perjalanan ketika sudah cukup kuat.
Melalui Rumah, J.S. Khairen kembali menegaskan ciri khasnya sebagai penulis yang meramu kisah sederhana dengan emosi yang kuat, sebuah pengingat bahwa perjalanan paling sulit sering kali bukan tentang sejauh apa seseorang pergi, melainkan keberanian untuk pulang dan berdamai.
J.S Khairen merupakan penulis kelahiran Padang yang dikenal produktif dan konsisten menghadirkan karya-karya populer di kalangan pembaca muda hingga dewasa. Dia telah menerbitkan puluhan judul buku, baik fiksi maupun nonfiksi, dengan tema perjalanan, keluarga, dan pencarian makna hidup.
Namanya semakin dikenal luas melalui novel Melangkah (2020), disusul Kado Terbaik (2022) dan Bungkam Suara (2023). Dalam setiap karyanya, J.S. Khairen kerap mengangkat tokoh-tokoh yang bergerak jauh secara fisik, tetapi menyimpan pergulatan batin yang dalam.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.