Takjil gorengan. (Sumber foto: JIBI/Hypeabis.id/Eusebio Chrysnamurti)

Sering Makan Gorengan Saat Berbuka? Ini Dampaknya bagi Tubuh

03 March 2026   |   17:01 WIB
Image
Alwi Rahman Kusnandar Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta

Setelah seharian menahan lapar dan haus, godaan terbesar saat berbuka puasa sering kali datang dari meja penuh gorengan. Bakwan yang renyah, risol yang gurih, hingga tahu isi yang masih mengepul seolah menjadi menu wajib di banyak rumah.

Teksturnya yang garing dan rasanya yang asin-gurih memang terasa memanjakan lidah, apalagi setelah hampir 14 jam perut kosong. Namun di balik kenikmatan itu, kebiasaan terlalu sering mengonsumsi gorengan saat berbuka menyimpan risiko kesehatan yang tidak bisa diabaikan.

Baca juga: 5 Sentra Kuliner yang Wajib Dikunjungi untuk War Takjil di Jakarta

Secara medis, makanan yang digoreng cenderung tinggi lemak jenuh dan kalori. Organisasi seperti World Health Organization (WHO) telah lama mengingatkan bahwa asupan lemak jenuh berlebih berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan gangguan metabolik.

Ketika tubuh dalam kondisi kosong, lalu tiba-tiba menerima makanan tinggi lemak, sistem pencernaan harus bekerja lebih keras. Akibatnya, sebagian orang merasakan begah, mual, bahkan nyeri ulu hati setelah berbuka dengan gorengan.

Selain itu, metode menggoreng dalam minyak banyak, terutama jika minyak digunakan berulang kali, dapat menghasilkan senyawa berbahaya seperti lemak trans dan zat hasil oksidasi. Menurut penjelasan dari American Heart Association, konsumsi lemak trans dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan menurunkan kolesterol baik (HDL).

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini berkontribusi pada penyempitan pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.

Dampaknya tidak berhenti di situ, saat berpuasa kadar gula darah cenderung menurun. Banyak orang mengira gorengan bisa cepat “mengisi tenaga”, padahal makanan tinggi lemak justru memperlambat proses pengosongan lambung. Artinya, energi tidak serta-merta tersedia dengan cepat.

Jika gorengan dipadukan dengan minuman manis berlebihan, lonjakan gula darah bisa terjadi secara tiba-tiba, lalu turun kembali dengan cepat, membuat tubuh terasa lemas dan mengantuk setelah salat Magrib.

Peneliti lain juga menekankan pentingnya pola makan seimbang yang kaya serat, protein tanpa lemak, serta lemak sehat. Saat berbuka, tubuh justru membutuhkan asupan yang mudah dicerna dan mampu mengembalikan cairan serta elektrolit, seperti air putih, kurma, buah segar, dan makanan berkuah hangat. Serat dari buah dan sayur membantu sistem pencernaan bekerja lebih optimal setelah “beristirahat” sepanjang hari.

Bukan berarti gorengan harus dihapus sepenuhnya dari meja berbuka. Dalam jumlah kecil dan tidak setiap hari, tubuh masih dapat mentoleransinya. Kuncinya adalah frekuensi dan porsi. Mengganti metode memasak dengan memanggang, menumis ringan, atau menggunakan air fryer bisa menjadi alternatif lebih sehat.

Ramadan seharusnya menjadi momentum memperbaiki pola hidup, termasuk pola makan. Menahan diri bukan hanya soal lapar dan haus, tetapi juga tentang memilih asupan yang memberi manfaat jangka panjang bagi tubuh.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Daftar Pemenang BRIT Awards 2026, Olivia Dean Borong Empat Piala

BERIKUTNYA

Di Tengah Isu Perang Dunia III, Film Ini Jadi Pengingat Kengerian Perang

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga