Ilustrasi tidur (Sumber foto: Freepik)

Bahaya Tidur Setelah Sahur, Risiko Asam Lambung hingga Gangguan Metabolik

26 February 2026   |   07:00 WIB
Image
Alwi Rahman Kusnandar Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta

Bangun dini hari untuk sahur lalu kembali tidur sering terasa sebagai pilihan tepat selama Ramadan. Waktu istirahat yang terpotong membuat banyak orang ingin mencicil sebelum aktivitas pagi dimulai. Namun, penelitian kesehatan menunjukkan kebiasaan tidur setelah makan besar, termasuk sahur, tidak sepenuhnya aman bagi tubuh.

Melansir Sleep Foundation, berbaring tepat setelah makan dapat meningkatkan risiko refluks asam atau gastroesophageal reflux disease (GERD). Dalam posisi horizontal, gravitasi tidak lagi membantu menjaga isi lambung tetap di tempatnya.

Baca juga: Hindari Kantuk Setelah Sahur, Kenali Makanan yang Bikin Lemas Seharian

Akibatnya, asam lambung lebih mudah naik ke kerongkongan dan memicu sensasi terbakar di dada (heartburn), rasa pahit di mulut, hingga gangguan tidur akibat rasa tidak nyaman. Risiko ini semakin besar bila sahur terdiri dari makanan berlemak, pedas, atau dalam porsi besar.

Tak hanya soal lambung, kualitas tidur pun ikut terdampak. Tubuh manusia secara alami menurunkan aktivitas metabolisme saat memasuki fase tidur. Namun ketika sistem pencernaan masih bekerja keras mengolah makanan, tubuh dipaksa menjalankan dua proses besar sekaligus yaitu mencerna dan beristirahat.

Kondisi tersebut dapat membuat tidur menjadi tidak nyenyak, mudah terbangun, serta mengurangi fase tidur dalam (deep sleep) yang penting untuk pemulihan fisik dan kognitif. Dalam jangka panjang, kualitas tidur yang buruk berkaitan dengan penurunan konsentrasi dan daya tahan tubuh.

Dari sisi metabolik, dampaknya juga tidak bisa diabaikan. Penelitian yang dikutip Harvard Medical School menunjukkan bahwa waktu makan memiliki pengaruh terhadap regulasi gula darah dan metabolisme energi. Makan dalam jumlah besar tepat sebelum tidur dapat memperpanjang kadar gula darah tinggi setelah makan, karena tubuh tidak aktif membakar energi saat beristirahat. Jika terjadi terus-menerus, kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko resistensi insulin dan gangguan metabolik.

Sementara itu, penelitian lainnya menyoroti hubungan antara pola makan larut malam dengan kesehatan kardiometabolik. Makan terlalu dekat dengan waktu tidur dikaitkan dengan tekanan darah yang kurang stabil, gangguan metabolisme lemak, serta peningkatan risiko obesitas. Kombinasi faktor-faktor ini dalam jangka panjang dapat berkontribusi terhadap penyakit jantung.

Meski demikian, bukan berarti setiap orang yang tidur setelah sahur akan langsung mengalami gangguan serius. Dampaknya sangat bergantung pada frekuensi, jenis makanan, dan kondisi kesehatan masing-masing individu.

Para ahli umumnya menyarankan memberi jeda setidaknya dua hingga tiga jam antara makan besar dan tidur. Jika waktu terbatas, memilih porsi yang lebih ringan, rendah lemak, dan mudah dicerna dapat menjadi alternatif yang lebih aman.

Ramadan adalah momen menjaga keseimbangan, bukan hanya spiritual tetapi juga fisik. Mengatur pola sahur dengan bijak dapat membantu tubuh tetap bugar sepanjang hari tanpa harus mengorbankan kesehatan jangka panjang.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Scary Movie 6 Tayang Juni 2026, Deretan Pemeran Ikonik Kembali

BERIKUTNYA

Hindia hingga Rumahsakit Siap Guncang Land Fest Batal Bareng di Ciputat

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga