Premier League Kembali Terapkan Ramadan Breaks 2026 di Tengah Pertandingan
18 February 2026 |
15:12 WIB
Premier League bersama English Football League resmi melanjutkan kebijakan jeda buka puasa di tengah pertandingan selama Ramadan 2026 yang dimulai pekan ini. Kebijakan ini memungkinkan pemain dan petugas Muslim berbuka puasa saat waktu magrib tiba tanpa mengganggu jalannya laga.
Sejumlah media olahraga menyebutkan bahwa prosedur tersebut pertama kali diterapkan pada 2021. Sejak saat itu, mekanisme jeda singkat ini menjadi solusi praktis agar pemain tetap dapat menjalankan ibadah puasa di tengah jadwal kompetisi yang padat.
Baca juga: Hasil Sidang Isbat, Awal Ramadan Jatuh 19 Maret 2026
Ramadan tahun ini di Britania Raya berlangsung mulai 17 Februari hingga 18 Maret 2026. Waktu matahari terbenam di Inggris berkisar antara pukul 17.00 hingga 19.00 waktu setempat, sehingga beririsan dengan sejumlah jadwal pertandingan sore dan malam hari.
Dikutip dari berbagai sumber, jeda kemungkinan diterapkan pada laga yang dimulai Sabtu pukul 17.30 dan Minggu pukul 16.30 waktu setempat. Pada jam tersebut pertandingan biasanya masih berlangsung ketika waktu berbuka tiba.
Penghentian pertandingan tidak dilakukan secara tiba-tiba. Beberapa keterangan resmi menyebutkan, momen jeda disepakati lebih dahulu antara wasit, kapten kedua tim, dan ofisial pertandingan.
Jeda diambil pada situasi alami permainan, seperti tendangan gawang, tendangan bebas, atau lemparan ke dalam. Wasit tidak akan menghentikan laga ketika bola masih aktif bergulir dalam situasi menyerang atau bertahan.
Pemain Muslim umumnya diberi waktu sekitar satu hingga tiga menit untuk mengonsumsi makanan ringan, gel energi, atau minuman. Dilansir dari berbagai sumber, durasi singkat ini dinilai cukup untuk memulihkan energi tanpa mengganggu ritme pertandingan.
Sejumlah pemain Muslim papan atas berpotensi memanfaatkan kebijakan ini, di antaranya Mohamed Salah dan Ibrahima Konate (Liverpool), William Saliba (Arsenal), Rayan Ait-Nouri (Nottingham Forest), Amad Diallo dan Noussair Mazraoui (Manchester United).
Kebijakan ini pertama kali menjadi sorotan publik pada 2021 dalam laga Leicester City melawan Crystal Palace. Saat itu, pertandingan dihentikan sejenak ketika terjadi tendangan gawang.
Sejumlah informasi menyebut Wesley Fofana dari Leicester dan Cheikhou Kouyate dari Crystal Palace memanfaatkan momen tersebut untuk berbuka puasa. Peristiwa itu dipandang sebagai langkah simbolis yang mendapat respons positif dari penggemar dan komunitas Muslim.
Selama Ramadan hingga pertengahan Maret 2026, Premier League dijadwalkan memainkan lima putaran pertandingan. Rata-rata setiap klub bertanding sekitar enam hari sekali yang menciptakan tuntutan fisik yang tinggi.
Mengutip berbagai sumber, beberapa tim juga harus menjalani laga tambahan di kompetisi Eropa seperti UEFA Champions League. Kondisi inilah yang membuat dukungan terhadap pemain yang berpuasa menjadi semakin krusial demi menjaga stamina.
Penerapan Ramadan breaks kembali menegaskan komitmen sepak bola Inggris dalam membangun ekosistem yang inklusif. Dari informasi yang beredar, kebijakan ini merupakan bagian dari upaya lebih luas untuk mengakomodasi praktik keagamaan pemain tanpa mengurangi integritas dan profesionalisme kompetisi.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Sejumlah media olahraga menyebutkan bahwa prosedur tersebut pertama kali diterapkan pada 2021. Sejak saat itu, mekanisme jeda singkat ini menjadi solusi praktis agar pemain tetap dapat menjalankan ibadah puasa di tengah jadwal kompetisi yang padat.
Baca juga: Hasil Sidang Isbat, Awal Ramadan Jatuh 19 Maret 2026
Ramadan tahun ini di Britania Raya berlangsung mulai 17 Februari hingga 18 Maret 2026. Waktu matahari terbenam di Inggris berkisar antara pukul 17.00 hingga 19.00 waktu setempat, sehingga beririsan dengan sejumlah jadwal pertandingan sore dan malam hari.
Dikutip dari berbagai sumber, jeda kemungkinan diterapkan pada laga yang dimulai Sabtu pukul 17.30 dan Minggu pukul 16.30 waktu setempat. Pada jam tersebut pertandingan biasanya masih berlangsung ketika waktu berbuka tiba.
Penghentian pertandingan tidak dilakukan secara tiba-tiba. Beberapa keterangan resmi menyebutkan, momen jeda disepakati lebih dahulu antara wasit, kapten kedua tim, dan ofisial pertandingan.
Jeda diambil pada situasi alami permainan, seperti tendangan gawang, tendangan bebas, atau lemparan ke dalam. Wasit tidak akan menghentikan laga ketika bola masih aktif bergulir dalam situasi menyerang atau bertahan.
Pemain Muslim umumnya diberi waktu sekitar satu hingga tiga menit untuk mengonsumsi makanan ringan, gel energi, atau minuman. Dilansir dari berbagai sumber, durasi singkat ini dinilai cukup untuk memulihkan energi tanpa mengganggu ritme pertandingan.
Sejumlah pemain Muslim papan atas berpotensi memanfaatkan kebijakan ini, di antaranya Mohamed Salah dan Ibrahima Konate (Liverpool), William Saliba (Arsenal), Rayan Ait-Nouri (Nottingham Forest), Amad Diallo dan Noussair Mazraoui (Manchester United).
Kebijakan ini pertama kali menjadi sorotan publik pada 2021 dalam laga Leicester City melawan Crystal Palace. Saat itu, pertandingan dihentikan sejenak ketika terjadi tendangan gawang.
Sejumlah informasi menyebut Wesley Fofana dari Leicester dan Cheikhou Kouyate dari Crystal Palace memanfaatkan momen tersebut untuk berbuka puasa. Peristiwa itu dipandang sebagai langkah simbolis yang mendapat respons positif dari penggemar dan komunitas Muslim.
Selama Ramadan hingga pertengahan Maret 2026, Premier League dijadwalkan memainkan lima putaran pertandingan. Rata-rata setiap klub bertanding sekitar enam hari sekali yang menciptakan tuntutan fisik yang tinggi.
Mengutip berbagai sumber, beberapa tim juga harus menjalani laga tambahan di kompetisi Eropa seperti UEFA Champions League. Kondisi inilah yang membuat dukungan terhadap pemain yang berpuasa menjadi semakin krusial demi menjaga stamina.
Penerapan Ramadan breaks kembali menegaskan komitmen sepak bola Inggris dalam membangun ekosistem yang inklusif. Dari informasi yang beredar, kebijakan ini merupakan bagian dari upaya lebih luas untuk mengakomodasi praktik keagamaan pemain tanpa mengurangi integritas dan profesionalisme kompetisi.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.