Wuthering Heights (2026): Tafsir Personal yang Memantik Emosi Dua Abad Kemudian
17 February 2026 |
14:12 WIB
Sejak tayang pada 13 Februari 2026, Wuthering Heights versi terbaru garapan Emerald Fennell langsung memantik respons yang terbelah. Sebagian pembaca setia Emily Brontë dan sinefil menganggap film ini “membantai” intensi novel 1847 tersebut.
Namun sebelum terlalu jauh membicarakan apa saja yang berubah, mungkin ada satu hal sederhana yang perlu diingat: adaptasi memang tidak pernah dimaksudkan sebagai salinan persis.
Dalam wawancara dengan Entertainment Weekly, Fennell mengakui bahwa ia membangun film ini dari memorinya membaca Wuthering Heights saat berusia 14 tahun. Ia menyebut pembacaannya sebagai pengalaman yang “primal”, “horrible”, dan “sexual”. Artinya, yang ia adaptasi bukan semata teks Brontë, melainkan pengalaman personal, bahkan obsesif, seorang remaja yang tenggelam dalam relasi Cathy dan Heathcliff.
Baca juga: Wuthering Heights 2026, Film Adaptasi Novel Klasik yang Dibintangi Margot Robbie dan Jacob Elordi
Pernyataan ini menjadi kunci untuk membaca filmnya. Versi 2026 memang menyimpang cukup jauh dari novel. Beberapa karakter dipangkas, struktur dipadatkan, dan akhir cerita diubah signifikan. Alih-alih mengikuti alur metafisik novel, film ini mengambil jalur yang lebih fisikal dan psikologis.
Dalam film, Catherine (Margot Robbie) tidak benar-benar didatangi Heathcliff (Jacob Elordi) menjelang ajalnya. Ia melihatnya dalam kondisi demam tinggi, sebuah halusinasi yang lahir dari tubuh yang melemah. Catherine juga kehilangan anaknya bersama Edgar Linton (Shazad Latif), lalu meninggal akibat sepsis. Tidak ada visualisasi arwah yang kembali menghantui. Tidak ada kepastian reuni spiritual. Cerita berhenti pada kehilangan yang mentah dan duniawi.
Perbandingan dengan adaptasi 1992 yang dibintangi Ralph Fiennes dan Juliette Binoche memperjelas kontras pendekatan. Dalam versi tersebut, Binoche memerankan Catherine Earnshaw sekaligus putrinya, Cathy Linton. Menjelang akhir film, sosok Catherine muncul kembali kepada Heathcliff yang sekarat. Adegan penutup memperlihatkan keduanya seolah bersatu kembali—meski tetap menyisakan ambiguitas: apakah itu arwah literal, atau halusinasi akibat duka dan obsesi yang tak pernah reda.
Versi 1992 membuka pintu metafisik. Versi 2026 justru menutupnya.
Tekstur warna yang pekat dan pencahayaan minim mempertegas aura gothic yang ingin dibangun Fennell. Namun, dominasi adegan gelap yang bahkan terasa menantang di layar IMAX menjadi catatan tersendiri. Kegelapan itu memperkuat suasana muram dan intim, tetapi dalam beberapa momen juga mengaburkan detail ekspresi yang penting secara emosional.
Secara tematik, film ini memusatkan perhatian pada relasi yang intens, destruktif, dan sadar akan kehancurannya sendiri. Kalimat masa kecil Catherine—“We are doomed”—menjadi benang merah yang terasa semakin literal. Isu kelas yang dalam novel menjadi salah satu fondasi konflik memang tidak sepenuhnya hilang, tetapi tidak lagi menjadi pusat dramatik. Heathcliff tetap outsider, tapi fokusnya bergeser pada hasrat, kecemburuan, dan obsesi yang menggerus kedua tokohnya.
Apakah pendekatan personal ini berhasil? Jawabannya mungkin bergantung pada ekspektasi masing-masing penonton. Bagi mereka yang mencari adaptasi yang setia pada kompleksitas sosial Brontë, film ini bisa terasa menyempitkan cakrawala cerita.
Namun sebagai interpretasi yang sejak awal mengakui dirinya sebagai pembacaan personal, versi 2026 terasa konsisten dengan nadanya sendiri. Film ini tidak berusaha menjadi representasi definitif novel, melainkan satu cara membaca di antara banyak kemungkinan.
Suka atau tidak suka film ini mungkin memang kembali ke cara masing-masing dari kita membaca Wuthering Heights. Novel itu sendiri sudah lama dipahami dengan banyak cara—sebagai cerita tentang kelas sosial, tentang cinta yang obsesif, tentang dua orang yang sama-sama merusak dan dirusak. Versi 2026 tidak menutup kemungkinan tafsir lain. Ia hanya menawarkan satu sudut pandang baru, yang bisa diterima atau ditolak.
Menyukai film ini juga bukan berarti menyepelekan kompleksitas karya Emily Brontë. Perdebatan yang muncul justru memperlihatkan bahwa kisah Cathy dan Heathcliff masih memancing reaksi yang kuat. Mungkin itu pertanda sederhana bahwa ceritanya belum selesai—ia masih cukup hidup untuk diperdebatkan, bahkan ketika bentuknya berubah.
Mungkin, jika Emily Brontë dapat menyaksikan hiruk-pikuk perdebatan ini, ia akan menyadari bahwa kisah yang ia tulis dalam kesunyian itu masih terus memancing kegelisahan hampir dua abad kemudian.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Namun sebelum terlalu jauh membicarakan apa saja yang berubah, mungkin ada satu hal sederhana yang perlu diingat: adaptasi memang tidak pernah dimaksudkan sebagai salinan persis.
Dalam wawancara dengan Entertainment Weekly, Fennell mengakui bahwa ia membangun film ini dari memorinya membaca Wuthering Heights saat berusia 14 tahun. Ia menyebut pembacaannya sebagai pengalaman yang “primal”, “horrible”, dan “sexual”. Artinya, yang ia adaptasi bukan semata teks Brontë, melainkan pengalaman personal, bahkan obsesif, seorang remaja yang tenggelam dalam relasi Cathy dan Heathcliff.
Baca juga: Wuthering Heights 2026, Film Adaptasi Novel Klasik yang Dibintangi Margot Robbie dan Jacob Elordi

Wuthering Heights (2026). (Sumber foto: Warner Bros.)
Dalam film, Catherine (Margot Robbie) tidak benar-benar didatangi Heathcliff (Jacob Elordi) menjelang ajalnya. Ia melihatnya dalam kondisi demam tinggi, sebuah halusinasi yang lahir dari tubuh yang melemah. Catherine juga kehilangan anaknya bersama Edgar Linton (Shazad Latif), lalu meninggal akibat sepsis. Tidak ada visualisasi arwah yang kembali menghantui. Tidak ada kepastian reuni spiritual. Cerita berhenti pada kehilangan yang mentah dan duniawi.
Perbandingan dengan adaptasi 1992 yang dibintangi Ralph Fiennes dan Juliette Binoche memperjelas kontras pendekatan. Dalam versi tersebut, Binoche memerankan Catherine Earnshaw sekaligus putrinya, Cathy Linton. Menjelang akhir film, sosok Catherine muncul kembali kepada Heathcliff yang sekarat. Adegan penutup memperlihatkan keduanya seolah bersatu kembali—meski tetap menyisakan ambiguitas: apakah itu arwah literal, atau halusinasi akibat duka dan obsesi yang tak pernah reda.
Versi 1992 membuka pintu metafisik. Versi 2026 justru menutupnya.


Wuthering Heights (1992) vs Wuthering Heights (2026). (Sumber foto: Paramount Pictures/Warner Bros.)
Dari sisi visual, film ini ditopang oleh sinematografi Linus Sandgren. Sandgren—yang sebelumnya dikenal lewat pendekatan visual ekspresif dan permainan kontras dalam film seperti La La Land, No Time to Die, dan Saltburn—membingkai lanskap Yorkshire sebagai ruang emosional. Angin yang menggerakkan rerumputan liar, hujan yang hampir konstan, serta interior rumah yang temaram menjadi ekstensi psikologis karakter.
Secara tematik, film ini memusatkan perhatian pada relasi yang intens, destruktif, dan sadar akan kehancurannya sendiri. Kalimat masa kecil Catherine—“We are doomed”—menjadi benang merah yang terasa semakin literal. Isu kelas yang dalam novel menjadi salah satu fondasi konflik memang tidak sepenuhnya hilang, tetapi tidak lagi menjadi pusat dramatik. Heathcliff tetap outsider, tapi fokusnya bergeser pada hasrat, kecemburuan, dan obsesi yang menggerus kedua tokohnya.
Apakah pendekatan personal ini berhasil? Jawabannya mungkin bergantung pada ekspektasi masing-masing penonton. Bagi mereka yang mencari adaptasi yang setia pada kompleksitas sosial Brontë, film ini bisa terasa menyempitkan cakrawala cerita.
Namun sebagai interpretasi yang sejak awal mengakui dirinya sebagai pembacaan personal, versi 2026 terasa konsisten dengan nadanya sendiri. Film ini tidak berusaha menjadi representasi definitif novel, melainkan satu cara membaca di antara banyak kemungkinan.

Wuthering Heights (2026). (Sumber foto: Warner Bros.)
Menyukai film ini juga bukan berarti menyepelekan kompleksitas karya Emily Brontë. Perdebatan yang muncul justru memperlihatkan bahwa kisah Cathy dan Heathcliff masih memancing reaksi yang kuat. Mungkin itu pertanda sederhana bahwa ceritanya belum selesai—ia masih cukup hidup untuk diperdebatkan, bahkan ketika bentuknya berubah.
Mungkin, jika Emily Brontë dapat menyaksikan hiruk-pikuk perdebatan ini, ia akan menyadari bahwa kisah yang ia tulis dalam kesunyian itu masih terus memancing kegelisahan hampir dua abad kemudian.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.