Seniman Angki Purbandono Arsipkan 73 Jenis Bunga Kota dalam Pameran Berbunga-bunga
10 February 2026 |
21:00 WIB
Seniman kontemporer Angki Purbandono kembali turun gunung dengan menggelar pameran tunggal bertajuk Berbunga-bunga di SAL Project, Jakarta. Pameran perupa asal Yogyakarta ini berlangsung pada 7 Februari sampai 5 April 2026.
Angki Purbandono merupakan salah satu pionir scanografi di Indonesia. Awalnya Angki memulai praktik kesenian lewat fotografi, akan tetapi dia beralih eksperimen melalui mesin pemindai sejak awal 2000-an dan konsisten menjadikannya sebagai medium berkarya.
Baca juga: Eksplorasi Tubuh & Distorsi dalam Pameran New Paintings ROH Projects
Pada 2008 dia turut mendirikan Ruang MES 56 di Yogyakarta yang kemudian menjadi salah satu simpul penting fotografi kontemporer Indonesia. Lewat berbagai pameran di dalam dan luar negeri, Angki memperkenalkan scanografi sebagai pendekatan yang memperluas batas fotografi konvensional.
Melalui pameran ini, Angki melanjutkan sekaligus memperdalam praktik scanografi yang telah dia kembangkan sejak 2005. Sebelumnya pada 2018, dia juga mengeksplorasi bunga lewat pameran Flower Power di Mizuma Gallery, Singapura.
Namun berbeda dari seri Flower Power yang lebih menekankan energi visual, Berbunga-bunga bergerak ke arah yang lebih reflektif. Kali ini Angki menempatkan bunga sebagai bagian dari upaya membangun arsip kota melalui medium scanner.
Dia menjelaskan, proses scanografi dalam seri ini dilakukan dengan meletakkan bunga di atas kaca mesin pemindai. Objek dipindai dalam jarak sangat dekat sehingga detailnya tampil tajam dan nyaris tanpa jarak dengan mata penonton.
“Pada 2018 itu aku hanya mampu bikin 50 bunga, karena tidak semua bunga skanogenik. Jadi tidak semua bunga cocok ditidurkan di atas scanner,” katanya saat ditemui Hypeabis.id, Selasa (10/2/2026).
Angki juga mengumpulkan bunga dari berbagai sumber, mulai dari sekitar studio, pasar, rumah tetangga, hingga bunga liar di jalan. Baginya, bunga-bunga tersebut menyimpan cerita tentang peristiwa yang berlangsung di ruang sosial.
Pameran ini terdiri dari 108 panel dengan 73 jenis bunga. Disajikan dalam format lightbox, bunga-bunga tersebut tampak seolah bernapas dan hidup, sekaligus menjadi metafora tentang dinamika kehidupan urban.
Melalui rangkaian karyanya, Angki membangun relasi intim antara cahaya dan benda lewat detail yang frontal dan presisi. Hasilnya adalah objek penuh warna yang memantulkan lanskap kota yang sarat sorot lampu dan papan iklan.
“Ini juga menjadi strategi display, bagaimana orang melihat agar tidak membosankan. Bunga itu secara realistis juga bergerak, ditiup angin, berkuncup, lalu besoknya mekar,” imbuhnya.
Kurator Mikke Susanto menilai praktik scanografi Angki sebagai babak penting dalam perjalanan seni rupa Indonesia kontemporer. Sebab, sang seniman menjadikan mesin pemindai atau flatbed scanner sebagai instrumen penciptaan.
Melalui medium ini, papar Mikke, Angki mengembangkan teknik unik dengan memindai kehidupan secara harfiah sekaligus metaforis, termasuk menyalin cahaya, menangkap waktu, dan membingkai kesementaraan dalam bentuk digital.
“Lewat karya-karyanya, dia juga memperluas batas antara fotografi, seni instalasi, dan seni lukis, sekaligus menegaskan posisi scanografi sebagai medium yang berdiri otonom dalam lanskap seni kontemporer,” tulis Mikke.
Baca juga: (Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Angki Purbandono merupakan salah satu pionir scanografi di Indonesia. Awalnya Angki memulai praktik kesenian lewat fotografi, akan tetapi dia beralih eksperimen melalui mesin pemindai sejak awal 2000-an dan konsisten menjadikannya sebagai medium berkarya.
Baca juga: Eksplorasi Tubuh & Distorsi dalam Pameran New Paintings ROH Projects
Pada 2008 dia turut mendirikan Ruang MES 56 di Yogyakarta yang kemudian menjadi salah satu simpul penting fotografi kontemporer Indonesia. Lewat berbagai pameran di dalam dan luar negeri, Angki memperkenalkan scanografi sebagai pendekatan yang memperluas batas fotografi konvensional.
Melalui pameran ini, Angki melanjutkan sekaligus memperdalam praktik scanografi yang telah dia kembangkan sejak 2005. Sebelumnya pada 2018, dia juga mengeksplorasi bunga lewat pameran Flower Power di Mizuma Gallery, Singapura.
Namun berbeda dari seri Flower Power yang lebih menekankan energi visual, Berbunga-bunga bergerak ke arah yang lebih reflektif. Kali ini Angki menempatkan bunga sebagai bagian dari upaya membangun arsip kota melalui medium scanner.

Senarai karya Angki Purbandono dalam pameran Berbunga-bunga di SAL Project. Jakarta, Selasa (10/2/26). Sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
“Pada 2018 itu aku hanya mampu bikin 50 bunga, karena tidak semua bunga skanogenik. Jadi tidak semua bunga cocok ditidurkan di atas scanner,” katanya saat ditemui Hypeabis.id, Selasa (10/2/2026).
Angki juga mengumpulkan bunga dari berbagai sumber, mulai dari sekitar studio, pasar, rumah tetangga, hingga bunga liar di jalan. Baginya, bunga-bunga tersebut menyimpan cerita tentang peristiwa yang berlangsung di ruang sosial.
Pameran ini terdiri dari 108 panel dengan 73 jenis bunga. Disajikan dalam format lightbox, bunga-bunga tersebut tampak seolah bernapas dan hidup, sekaligus menjadi metafora tentang dinamika kehidupan urban.
Melalui rangkaian karyanya, Angki membangun relasi intim antara cahaya dan benda lewat detail yang frontal dan presisi. Hasilnya adalah objek penuh warna yang memantulkan lanskap kota yang sarat sorot lampu dan papan iklan.
“Ini juga menjadi strategi display, bagaimana orang melihat agar tidak membosankan. Bunga itu secara realistis juga bergerak, ditiup angin, berkuncup, lalu besoknya mekar,” imbuhnya.
Kurator Mikke Susanto menilai praktik scanografi Angki sebagai babak penting dalam perjalanan seni rupa Indonesia kontemporer. Sebab, sang seniman menjadikan mesin pemindai atau flatbed scanner sebagai instrumen penciptaan.
Melalui medium ini, papar Mikke, Angki mengembangkan teknik unik dengan memindai kehidupan secara harfiah sekaligus metaforis, termasuk menyalin cahaya, menangkap waktu, dan membingkai kesementaraan dalam bentuk digital.
“Lewat karya-karyanya, dia juga memperluas batas antara fotografi, seni instalasi, dan seni lukis, sekaligus menegaskan posisi scanografi sebagai medium yang berdiri otonom dalam lanskap seni kontemporer,” tulis Mikke.
Baca juga: (Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.