Mengenal Virus Nipah: Penularan, Gejala, hingga Pencegahan
27 January 2026 |
20:30 WIB
Belakangan ini, dunia kembali dibuat waspada oleh Virus Nipah (Niv) menyusul terjadinya beberapa kasus akibat virus ini di India. Bahkan beberapa negara seperti Thailand dan Nepal langsung memperketat pintu kedatangan warga negara asing terutama dari India.
Mengutip pernyataan World Health Organization (WHO), virus ini sebagai salah satu penyakit prioritas global karena berpotensi menimbulkan wabah besar. Tingkat kematian kasus diperkirakan sebesar 40% hingga 75%. Angka ini dapat bervariasi tergantung wabah dan kemampuan lokal dalam surveilans epidemiologi serta penanganan klinis.
Baca juga: Wabah Virus Nipah Melanda India, Indonesia Tingkatkan Kewaspadaan
Menurut WHO, Virus Nipah (NiV) merupakan virus yang berasal dari hewan dan dapat menular ke manusia, baik melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi maupun lewat kontak langsung antar manusia.
Infeksi yang ditimbulkannya bervariasi, mulai dari tanpa gejala hingga gangguan pernapasan berat dan radang otak yang berujung fatal. Selain menyerang manusia, virus ini juga menimbulkan penyakit serius pada hewan ternak seperti babi, sehingga menyebabkan kerugian ekonomi besar bagi para peternak.
Meskipun virus Nipah hanya menyebabkan beberapa wabah yang diketahui di Asia, virus ini menginfeksi berbagai jenis hewan dan menyebabkan penyakit berat serta kematian pada manusia, sehingga menjadi perhatian besar bagi kesehatan masyarakat.
Penularan virus Nipah awalnya terjadi melalui kontak langsung dengan babi yang terinfeksi, baik dari cairan tubuh maupun jaringan hewan, seperti yang terjadi pada wabah di Malaysia dan Singapura. Pada wabah berikutnya di Bangladesh dan India, sumber utama penularan berasal dari konsumsi buah atau minuman, seperti nira kurma mentah, yang terkontaminasi air liur atau urin kelelawar buah.
Selain dari hewan, virus Nipah juga dapat menular antar manusia, terutama melalui kontak dekat dengan cairan tubuh penderita. Kasus penularan di lingkungan rumah sakit pernah terjadi, seperti di Siliguri, India, di mana sebagian besar pasien merupakan tenaga medis dan pengunjung. Di Bangladesh, sekitar setengah kasus yang tercatat disebabkan oleh penularan dari pasien ke perawat atau anggota keluarga.
Infeksi virus Nipah pada manusia dapat berkisar dari tanpa gejala hingga gangguan pernapasan berat dan ensefalitis yang mematikan. Gejala awal meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan sakit tenggorokan, lalu dapat berkembang menjadi gangguan saraf, pneumonia, kejang, hingga koma dalam waktu singkat.Masa inkubasi umumnya 4–14 hari, namun bisa mencapai 45 hari.
Sebagian besar orang yang selamat dari ensefalitis akut pulih sepenuhnya, tetapi kondisi neurologis jangka panjang juga dilaporkan pada para penyintas. Sekitar 20% pasien mengalami sisa gangguan neurologis seperti gangguan kejang dan perubahan kepribadian. Sejumlah kecil orang yang sembuh kemudian mengalami kekambuhan atau mengalami ensefalitis dengan onset tertunda.
Hingga kini, belum tersedia vaksin maupun obat khusus untuk Nipah. Penanganan dilakukan melalui perawatan suportif intensif, terutama bagi pasien dengan gangguan pernapasan dan saraf.
Namun, WHO mengimbau masyarakat untuk menghindari konsumsi buah atau minuman mentah yang berpotensi terkontaminasi kelelawar. Nira kurma harus direbus sebelum diminum, dan buah wajib dicuci serta dikupas. Kontak langsung dengan hewan sakit juga harus dihindari.
Di sektor kesehatan, tenaga medis diminta menerapkan protokol pencegahan ketat, termasuk kewaspadaan kontak, droplet, dan airborne dalam kondisi tertentu.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Mengutip pernyataan World Health Organization (WHO), virus ini sebagai salah satu penyakit prioritas global karena berpotensi menimbulkan wabah besar. Tingkat kematian kasus diperkirakan sebesar 40% hingga 75%. Angka ini dapat bervariasi tergantung wabah dan kemampuan lokal dalam surveilans epidemiologi serta penanganan klinis.
Baca juga: Wabah Virus Nipah Melanda India, Indonesia Tingkatkan Kewaspadaan
Apa itu Virus Nipah?
Menurut WHO, Virus Nipah (NiV) merupakan virus yang berasal dari hewan dan dapat menular ke manusia, baik melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi maupun lewat kontak langsung antar manusia.Infeksi yang ditimbulkannya bervariasi, mulai dari tanpa gejala hingga gangguan pernapasan berat dan radang otak yang berujung fatal. Selain menyerang manusia, virus ini juga menimbulkan penyakit serius pada hewan ternak seperti babi, sehingga menyebabkan kerugian ekonomi besar bagi para peternak.
Meskipun virus Nipah hanya menyebabkan beberapa wabah yang diketahui di Asia, virus ini menginfeksi berbagai jenis hewan dan menyebabkan penyakit berat serta kematian pada manusia, sehingga menjadi perhatian besar bagi kesehatan masyarakat.
Penularan Virus Nipah
Penularan virus Nipah awalnya terjadi melalui kontak langsung dengan babi yang terinfeksi, baik dari cairan tubuh maupun jaringan hewan, seperti yang terjadi pada wabah di Malaysia dan Singapura. Pada wabah berikutnya di Bangladesh dan India, sumber utama penularan berasal dari konsumsi buah atau minuman, seperti nira kurma mentah, yang terkontaminasi air liur atau urin kelelawar buah.Selain dari hewan, virus Nipah juga dapat menular antar manusia, terutama melalui kontak dekat dengan cairan tubuh penderita. Kasus penularan di lingkungan rumah sakit pernah terjadi, seperti di Siliguri, India, di mana sebagian besar pasien merupakan tenaga medis dan pengunjung. Di Bangladesh, sekitar setengah kasus yang tercatat disebabkan oleh penularan dari pasien ke perawat atau anggota keluarga.
Tanda dan Gejala
Infeksi virus Nipah pada manusia dapat berkisar dari tanpa gejala hingga gangguan pernapasan berat dan ensefalitis yang mematikan. Gejala awal meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan sakit tenggorokan, lalu dapat berkembang menjadi gangguan saraf, pneumonia, kejang, hingga koma dalam waktu singkat.Masa inkubasi umumnya 4–14 hari, namun bisa mencapai 45 hari.Sebagian besar orang yang selamat dari ensefalitis akut pulih sepenuhnya, tetapi kondisi neurologis jangka panjang juga dilaporkan pada para penyintas. Sekitar 20% pasien mengalami sisa gangguan neurologis seperti gangguan kejang dan perubahan kepribadian. Sejumlah kecil orang yang sembuh kemudian mengalami kekambuhan atau mengalami ensefalitis dengan onset tertunda.
Pencegahan
Hingga kini, belum tersedia vaksin maupun obat khusus untuk Nipah. Penanganan dilakukan melalui perawatan suportif intensif, terutama bagi pasien dengan gangguan pernapasan dan saraf.Namun, WHO mengimbau masyarakat untuk menghindari konsumsi buah atau minuman mentah yang berpotensi terkontaminasi kelelawar. Nira kurma harus direbus sebelum diminum, dan buah wajib dicuci serta dikupas. Kontak langsung dengan hewan sakit juga harus dihindari.
Di sektor kesehatan, tenaga medis diminta menerapkan protokol pencegahan ketat, termasuk kewaspadaan kontak, droplet, dan airborne dalam kondisi tertentu.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.