Alex Honnold Taklukkan Gedung Taipei 101 Tanpa Tali, Disiarkan Langsung di Netflix
27 January 2026 |
16:01 WIB
Pendaki asal Amerika Serikat, Alex Honnold mengguncang dunia panjat tebing setelah berhasil menaklukkan salah satu gedung tertinggi di Asia, Taipei 101. Yang lebih ekstrem, aksinya ini dilakukan tanpa tali dan pengaman. Aksi ekstremnya ini disiarkan langsung lewat Netflix, Minggu, 24 Januari 2026.
Mengutip The Guardian, aksi tersebut menjadi puncak dari ambisi yang telah disimpan Honnold selama lebih dari satu dekade. Lewat program bertajuk Skyscraper Live, Netflix menyiarkan secara global pendakian setinggi 508 meter itu selama 91 menit tanpa putus, membuat jutaan pasang mata menahan napas.
Baca juga: Profil & Prestasi Kiromal Katibin, Atlet Panjat Tebing Ranking 1 Dunia
Pendakian ini sempat tertunda sehari karena hujan. Kondisi basah dinilai terlalu berisiko, mengingat seluruh permukaan gedung didominasi baja dan kaca. Baru setelah cuaca cerah, Honnold mulai memanjat dengan memanfaatkan balok-balok logam horizontal yang mengelilingi fasad gedung.
Sorak sorai terdengar dari kerumunan penonton di bawah ketika Honnold mulai mendaki. Di salah satu titik, ia bahkan sempat berhenti dan berbalik menghadap penonton, seolah menyapa mereka dari ketinggian puluhan lantai.
“Rasanya seperti, wah, pemandangannya luar biasa, hari yang indah,” kata Honnold setelah mencapai puncak. “Anginnya sangat kencang, jadi saya berpikir, ‘jangan jatuh dari spire’. Saya berusaha menjaga keseimbangan. Tapi benar-benar posisi yang luar biasa, cara yang indah untuk melihat Taipei.”
Nama Honnold memang lekat dengan aksi nekat. Ia dikenal luas lewat film dokumenter Free Solo (2019) yang mengisahkan pendakiannya tanpa tali di El Capitan, Yosemite, dan meraih Oscar. Namun, kali ini tantangannya bukan tebing alam, melainkan hutan baja di tengah kota.
Meski dipuji, aksi ini juga menuai kritik. Sejumlah pendaki dan pengamat menilai siaran langsung tersebut berisiko secara etis, karena memungkinkan jutaan orang menyaksikan jika terjadi kecelakaan fatal. Beberapa pihak bahkan menyebut acara ini tidak bertanggung jawab.
Menanggapi hal itu, Honnold mengatakan bahwa tujuannya justru untuk menginspirasi. “Banyak orang menemukan dorongan untuk mengejar tujuan mereka setelah melihat hal seperti ini. Ini pengingat bahwa waktu kita terbatas dan harus digunakan sebaik mungkin,” katanya.
Aksi Hannold ini mendapat pujian dari Presiden Taiwan, Lai Ching-te yang menyebut aksi ini membawa citra positif bagi negaranya di mata dunia. “Dunia tidak hanya melihat Taipei 101, tetapi juga kehangatan dan semangat rakyat Taiwan,” tulisnya di media sosial.
Taipei 101 sendiri pernah menjadi gedung tertinggi di dunia pada 2004–2010 sebelum dikalahkan Burj Khalifa. Meski pernah dipanjat oleh pendaki Prancis Alain Robert pada 2004, Honnold menjadi orang pertama yang melakukannya tanpa tali.
Bagian tersulit berada di 64 lantai tengah yang dikenal sebagai bamboo boxes, dengan struktur menjorok keluar dan minim pijakan. Dari sinilah ketegangan benar-benar terasa baik bagi Honnold maupun penonton di seluruh dunia.
Mengutip The Guardian, aksi tersebut menjadi puncak dari ambisi yang telah disimpan Honnold selama lebih dari satu dekade. Lewat program bertajuk Skyscraper Live, Netflix menyiarkan secara global pendakian setinggi 508 meter itu selama 91 menit tanpa putus, membuat jutaan pasang mata menahan napas.
Baca juga: Profil & Prestasi Kiromal Katibin, Atlet Panjat Tebing Ranking 1 Dunia
Pendakian ini sempat tertunda sehari karena hujan. Kondisi basah dinilai terlalu berisiko, mengingat seluruh permukaan gedung didominasi baja dan kaca. Baru setelah cuaca cerah, Honnold mulai memanjat dengan memanfaatkan balok-balok logam horizontal yang mengelilingi fasad gedung.
Sorak sorai terdengar dari kerumunan penonton di bawah ketika Honnold mulai mendaki. Di salah satu titik, ia bahkan sempat berhenti dan berbalik menghadap penonton, seolah menyapa mereka dari ketinggian puluhan lantai.
“Rasanya seperti, wah, pemandangannya luar biasa, hari yang indah,” kata Honnold setelah mencapai puncak. “Anginnya sangat kencang, jadi saya berpikir, ‘jangan jatuh dari spire’. Saya berusaha menjaga keseimbangan. Tapi benar-benar posisi yang luar biasa, cara yang indah untuk melihat Taipei.”
ALEX HONNOLD AFTER COMPLETING HIS FREE SOLO OF TAIPEI 101: "Sick."
— Netflix (@netflix) January 25, 2026
The 101 story climb took 1 hour and 35 minutes #SkyscraperLIVE pic.twitter.com/TIzeRqiUcM
Nama Honnold memang lekat dengan aksi nekat. Ia dikenal luas lewat film dokumenter Free Solo (2019) yang mengisahkan pendakiannya tanpa tali di El Capitan, Yosemite, dan meraih Oscar. Namun, kali ini tantangannya bukan tebing alam, melainkan hutan baja di tengah kota.
Meski dipuji, aksi ini juga menuai kritik. Sejumlah pendaki dan pengamat menilai siaran langsung tersebut berisiko secara etis, karena memungkinkan jutaan orang menyaksikan jika terjadi kecelakaan fatal. Beberapa pihak bahkan menyebut acara ini tidak bertanggung jawab.
Menanggapi hal itu, Honnold mengatakan bahwa tujuannya justru untuk menginspirasi. “Banyak orang menemukan dorongan untuk mengejar tujuan mereka setelah melihat hal seperti ini. Ini pengingat bahwa waktu kita terbatas dan harus digunakan sebaik mungkin,” katanya.
Aksi Hannold ini mendapat pujian dari Presiden Taiwan, Lai Ching-te yang menyebut aksi ini membawa citra positif bagi negaranya di mata dunia. “Dunia tidak hanya melihat Taipei 101, tetapi juga kehangatan dan semangat rakyat Taiwan,” tulisnya di media sosial.
Taipei 101 sendiri pernah menjadi gedung tertinggi di dunia pada 2004–2010 sebelum dikalahkan Burj Khalifa. Meski pernah dipanjat oleh pendaki Prancis Alain Robert pada 2004, Honnold menjadi orang pertama yang melakukannya tanpa tali.
Bagian tersulit berada di 64 lantai tengah yang dikenal sebagai bamboo boxes, dengan struktur menjorok keluar dan minim pijakan. Dari sinilah ketegangan benar-benar terasa baik bagi Honnold maupun penonton di seluruh dunia.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.