Bukan Musik, Keheningan Justru Paling Ampuh Bikin Rileks
25 January 2026 |
20:22 WIB
Bagi banyak orang, musik relaksasi menjadi andalan untuk menenangkan diri di tengah kebisingan kota. Suara lembut dianggap mampu meredam stres akibat rutinitas yang padat. Meski demikian, temuan ilmiah terbaru mengungkap bahwa keheningan justru memberi efek relaksasi yang lebih besar dibandingkan alunan musik santai.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam Heart BMJ Journals pada 2006 oleh tim peneliti Universitas Pavia, Italia, menunjukkan bahwa keheningan total selama dua menit lebih efektif menurunkan tekanan darah dan detak jantung dibandingkan mendengarkan musik relaksasi.
Baca juga: 5 Alasan Mandi Air Hangat Berdampak Baik untuk Relaksasi Tubuh
Penelitian ini melibatkan 24 partisipan yang dipaparkan pada berbagai jenis musik, dari musik klasik hingga musik santai, dengan jeda tanpa suara di antaranya. Hasil pengukuran fisiologis memperlihatkan bahwa periode hening memicu respons relaksasi tubuh yang paling signifikan.
Temuan tersebut memperkuat anggapan bahwa tubuh manusia merespons keheningan sebagai sinyal pemulihan. Ketika tidak ada rangsangan suara, sistem kardiovaskular cenderung lebih cepat memasuki kondisi stabil. Dalam konteks ini, keheningan tidak sekadar menjadi latar kosong, tetapi berfungsi aktif membantu tubuh keluar dari mode siaga yang dipicu oleh stres.
Manfaat keheningan juga terlihat pada kesehatan otak. Riset yang diterbitkan dalam jurnal Brain Structure and Function pada 2013 melaporkan bahwa dua jam keheningan per hari dapat merangsang pertumbuhan sel-sel otak baru di hippocampus, area yang berperan penting dalam memori, pembelajaran, dan pengelolaan emosi.
Studi yang dipimpin oleh neuroscientist, Imke Kirste dari Duke University ini memang menggunakan tikus sebagai subjek penelitian, tetapi hasilnya memberikan petunjuk penting tentang bagaimana otak merespons lingkungan tanpa suara.
Menariknya, dalam penelitian tersebut, keheningan terbukti lebih efektif dalam memicu neurogenesis dibandingkan paparan berbagai suara, termasuk musik. Para peneliti menilai bahwa kondisi sunyi memberi ruang bagi otak untuk melakukan pemrosesan internal dan pemulihan, sesuatu yang sulit terjadi ketika otak terus menerima stimulus auditori secara berkelanjutan.
Berbagai publikasi di jurnal Frontiers in Psychology memaparkan bahwa efek menenangkan dari keheningan berkaitan langsung dengan kerja sistem saraf parasimpatik, yaitu bagian dari sistem saraf otonom yang berperan dalam proses istirahat dan pemulihan tubuh.
Ketiadaan rangsangan suara memungkinkan sistem ini bekerja lebih optimal. Berbeda dengan musik yang tetap memerlukan pemrosesan di korteks auditori, keheningan membantu otak benar-benar berhenti dari aktivitas sensorik, sehingga penurunan hormon stres seperti kortisol dapat terjadi lebih efektif.
Relevansi temuan ini semakin kuat ketika dikaitkan dengan realitas perkotaan modern. Sejumlah riset menunjukkan bahwa di kota-kota besar seperti Jakarta, tingkat kebisingan harian rata-rata berada pada kisaran 70 hingga 85 desibel, jauh melampaui ambang aman 55 desibel yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Data WHO pada 2018 mencatat bahwa paparan kebisingan kronis tidak hanya berdampak pada kesehatan pendengaran, tetapi juga meningkatkan risiko hipertensi, gangguan tidur, serta penurunan fungsi kognitif.
Dalam situasi tersebut, menciptakan momen hening secara sengaja menjadi semakin penting. Mengganti kebisingan dengan musik memang terasa menenangkan, tetapi tidak sepenuhnya menghilangkan beban sensorik pada otak. Sebaliknya, keheningan memberikan jeda yang lebih menyeluruh bagi tubuh dan pikiran yang terus-menerus terpapar stimulus.
Praktik memanfaatkan keheningan sebenarnya telah lama dikenal dalam berbagai tradisi, seperti meditasi dan kontemplasi. Bedanya, kini sains memberikan bukti bahwa sunyi bukan sekadar pengalaman spiritual atau subjektif, melainkan memiliki dampak biologis yang dapat diukur.
Sejumlah praktisi kesehatan mental bahkan mulai merekomendasikan retret hening sebagai bagian dari pendekatan terapeutik, khususnya bagi individu yang mengalami kelelahan mental akibat tekanan kerja dan paparan digital yang berlebihan.
Meski keheningan total sulit diwujudkan di tengah kota, langkah-langkah sederhana tetap bisa dilakukan. Mematikan perangkat elektronik beberapa menit sebelum tidur, mencari ruang sunyi untuk jeda singkat di sela aktivitas, atau meluangkan waktu di alam yang minim polusi suara dapat menjadi alternatif realistis.
Kuncinya bukan pada durasi yang panjang, melainkan pada konsistensi memberi ruang bagi tubuh dan otak untuk beristirahat.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Sebuah studi yang diterbitkan dalam Heart BMJ Journals pada 2006 oleh tim peneliti Universitas Pavia, Italia, menunjukkan bahwa keheningan total selama dua menit lebih efektif menurunkan tekanan darah dan detak jantung dibandingkan mendengarkan musik relaksasi.
Baca juga: 5 Alasan Mandi Air Hangat Berdampak Baik untuk Relaksasi Tubuh
Penelitian ini melibatkan 24 partisipan yang dipaparkan pada berbagai jenis musik, dari musik klasik hingga musik santai, dengan jeda tanpa suara di antaranya. Hasil pengukuran fisiologis memperlihatkan bahwa periode hening memicu respons relaksasi tubuh yang paling signifikan.
Temuan tersebut memperkuat anggapan bahwa tubuh manusia merespons keheningan sebagai sinyal pemulihan. Ketika tidak ada rangsangan suara, sistem kardiovaskular cenderung lebih cepat memasuki kondisi stabil. Dalam konteks ini, keheningan tidak sekadar menjadi latar kosong, tetapi berfungsi aktif membantu tubuh keluar dari mode siaga yang dipicu oleh stres.
Manfaat keheningan juga terlihat pada kesehatan otak. Riset yang diterbitkan dalam jurnal Brain Structure and Function pada 2013 melaporkan bahwa dua jam keheningan per hari dapat merangsang pertumbuhan sel-sel otak baru di hippocampus, area yang berperan penting dalam memori, pembelajaran, dan pengelolaan emosi.
Studi yang dipimpin oleh neuroscientist, Imke Kirste dari Duke University ini memang menggunakan tikus sebagai subjek penelitian, tetapi hasilnya memberikan petunjuk penting tentang bagaimana otak merespons lingkungan tanpa suara.
Menariknya, dalam penelitian tersebut, keheningan terbukti lebih efektif dalam memicu neurogenesis dibandingkan paparan berbagai suara, termasuk musik. Para peneliti menilai bahwa kondisi sunyi memberi ruang bagi otak untuk melakukan pemrosesan internal dan pemulihan, sesuatu yang sulit terjadi ketika otak terus menerima stimulus auditori secara berkelanjutan.
Berbagai publikasi di jurnal Frontiers in Psychology memaparkan bahwa efek menenangkan dari keheningan berkaitan langsung dengan kerja sistem saraf parasimpatik, yaitu bagian dari sistem saraf otonom yang berperan dalam proses istirahat dan pemulihan tubuh.
Ketiadaan rangsangan suara memungkinkan sistem ini bekerja lebih optimal. Berbeda dengan musik yang tetap memerlukan pemrosesan di korteks auditori, keheningan membantu otak benar-benar berhenti dari aktivitas sensorik, sehingga penurunan hormon stres seperti kortisol dapat terjadi lebih efektif.
Relevansi temuan ini semakin kuat ketika dikaitkan dengan realitas perkotaan modern. Sejumlah riset menunjukkan bahwa di kota-kota besar seperti Jakarta, tingkat kebisingan harian rata-rata berada pada kisaran 70 hingga 85 desibel, jauh melampaui ambang aman 55 desibel yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Efek Keheningan
Data WHO pada 2018 mencatat bahwa paparan kebisingan kronis tidak hanya berdampak pada kesehatan pendengaran, tetapi juga meningkatkan risiko hipertensi, gangguan tidur, serta penurunan fungsi kognitif.Dalam situasi tersebut, menciptakan momen hening secara sengaja menjadi semakin penting. Mengganti kebisingan dengan musik memang terasa menenangkan, tetapi tidak sepenuhnya menghilangkan beban sensorik pada otak. Sebaliknya, keheningan memberikan jeda yang lebih menyeluruh bagi tubuh dan pikiran yang terus-menerus terpapar stimulus.
Praktik memanfaatkan keheningan sebenarnya telah lama dikenal dalam berbagai tradisi, seperti meditasi dan kontemplasi. Bedanya, kini sains memberikan bukti bahwa sunyi bukan sekadar pengalaman spiritual atau subjektif, melainkan memiliki dampak biologis yang dapat diukur.
Sejumlah praktisi kesehatan mental bahkan mulai merekomendasikan retret hening sebagai bagian dari pendekatan terapeutik, khususnya bagi individu yang mengalami kelelahan mental akibat tekanan kerja dan paparan digital yang berlebihan.
Meski keheningan total sulit diwujudkan di tengah kota, langkah-langkah sederhana tetap bisa dilakukan. Mematikan perangkat elektronik beberapa menit sebelum tidur, mencari ruang sunyi untuk jeda singkat di sela aktivitas, atau meluangkan waktu di alam yang minim polusi suara dapat menjadi alternatif realistis.
Kuncinya bukan pada durasi yang panjang, melainkan pada konsistensi memberi ruang bagi tubuh dan otak untuk beristirahat.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.