ChatGPT Kini Mampu Memprediksi Usia Pengguna, Begini Cara Kerjanya
24 January 2026 |
13:30 WIB
OpenAI resmi memperkenalkan fitur deteksi usia otomatis pada ChatGPT pada 21 Januari 2026. Melalui pengumuman di akun X resminya, perusahaan teknologi berbasis di San Francisco tersebut menyatakan bahwa fitur ini ditujukan untuk mengidentifikasi akun yang kemungkinan digunakan oleh pengguna di bawah usia 18 tahun.
Dengan demikian, ChatGPT dapat menyesuaikan pengalaman penggunaan agar lebih aman dan sesuai bagi kalangan remaja. Fitur prediksi usia ini mulai diterapkan secara global. Namun, OpenAI menyebutkan bahwa peluncurannya di wilayah Uni Eropa masih menunggu penyesuaian regulasi setempat dan direncanakan menyusul dalam beberapa minggu ke depan.
Baca juga: Adu Canggih AI: Google Gemini Pro vs ChatGPT Plus
Mengacu pada keterangan di laman resmi OpenAI, sistem prediksi usia bekerja dengan membaca kombinasi berbagai sinyal perilaku serta data tingkat akun. Sinyal tersebut mencakup lamanya akun terdaftar, pola waktu penggunaan harian, kebiasaan interaksi dalam periode tertentu, hingga usia yang dicantumkan pengguna saat pendaftaran. Model ini dirancang untuk terus belajar dari data awal penerapan, sehingga tingkat ketepatannya dapat ditingkatkan secara bertahap.
Apabila sistem menilai seorang pengguna kemungkinan berusia di bawah 18 tahun, ChatGPT akan secara otomatis mengaktifkan lapisan perlindungan tambahan. Berdasarkan penjelasan di situs dukungan OpenAI, pembatasan diberlakukan pada konten sensitif, termasuk kekerasan grafis, tantangan viral berisiko, roleplay bernuansa seksual atau romantis, konten terkait menyakiti diri sendiri, serta narasi mengenai standar kecantikan yang ekstrem.
Meski demikian, OpenAI menegaskan bahwa pembatasan tersebut tidak dimaksudkan untuk membatasi akses remaja secara menyeluruh. Pengguna usia muda tetap dapat memanfaatkan ChatGPT untuk kegiatan belajar, eksplorasi ide, dan proses kreatif, dengan penanganan yang lebih berhati-hati pada topik-topik tertentu.
Bagi pengguna dewasa yang secara keliru ditempatkan dalam pengalaman remaja, OpenAI menyediakan mekanisme verifikasi usia melalui layanan pihak ketiga bernama Persona. Mengutip laporan beberapa media yang terbit sehari setelah pengumuman resmi, proses verifikasi dapat dilakukan dengan mengunggah foto selfie langsung atau dokumen identitas resmi, seperti paspor atau surat izin mengemudi.
OpenAI menegaskan bahwa perusahaan tidak menerima maupun menyimpan foto selfie atau dokumen identitas pengguna. Dalam proses ini, Persona hanya mengirimkan hasil verifikasi berupa tanggal lahir kepada OpenAI, sementara data biometrik akan dihapus dalam hitungan jam setelah verifikasi selesai dilakukan.
Peluncuran fitur prediksi usia ini berlangsung di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap perlindungan pengguna muda di industri kecerdasan buatan. Sejumlah laporan media, termasuk The Hill, mencatat bahwa OpenAI dan beberapa perusahaan chatbot AI lainnya tengah menghadapi gugatan hukum terkait dugaan dampak negatif layanan mereka terhadap kesehatan mental remaja.
Salah satu kasus yang menjadi sorotan melibatkan keluarga Adam Raine, remaja berusia 16 tahun, yang menggugat OpenAI pada Agustus 2025. Gugatan tersebut menuding bahwa ChatGPT turut berperan dalam mendorong anak mereka untuk mengakhiri hidupnya. Selain OpenAI, platform lain seperti Character.AI dan Google juga menghadapi tuntutan serupa, dan pada awal Januari 2026 dilaporkan telah mencapai kesepakatan prinsip dalam lima perkara.
OpenAI menyatakan bahwa fitur ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan perusahaan dalam memperkuat sistem keamanan bagi remaja. Langkah tersebut sebelumnya telah diawali dengan peluncuran Teen Safety Blueprint pada November 2025, serta pembaruan Model khusus pengguna di bawah 18 tahun pada Desember 2025.
Meski bertujuan memperkuat perlindungan bagi pengguna muda, kebijakan ini tetap memunculkan sejumlah pertanyaan. Alexis Hancock, Direktur Teknik di Electronic Frontier Foundation, dalam pernyataannya di kanal The Register menilai bahwa akurasi sistem prediksi usia masih perlu dipertimbangkan secara serius, terutama karena ChatGPT baru tersedia dalam kurun waktu sekitar 4 tahun. Menurutnya, rentang waktu tersebut relatif singkat untuk membangun model prediksi usia yang benar-benar matang dan konsisten.
Ia juga menyoroti konsekuensi yang muncul ketika sistem melakukan kesalahan klasifikasi. Dalam situasi tersebut, pengguna dewasa yang terdampak harus mengambil langkah tambahan untuk membuktikan usianya dengan menyerahkan data pribadi melalui proses verifikasi. Sementara itu, keputusan awal yang dihasilkan oleh model prediksi tidak menyediakan mekanisme bagi pengguna untuk mempertanyakan, meninjau ulang, atau mengajukan keberatan secara langsung terhadap penilaian sistem.
Dengan demikian, ChatGPT dapat menyesuaikan pengalaman penggunaan agar lebih aman dan sesuai bagi kalangan remaja. Fitur prediksi usia ini mulai diterapkan secara global. Namun, OpenAI menyebutkan bahwa peluncurannya di wilayah Uni Eropa masih menunggu penyesuaian regulasi setempat dan direncanakan menyusul dalam beberapa minggu ke depan.
Baca juga: Adu Canggih AI: Google Gemini Pro vs ChatGPT Plus
Mengacu pada keterangan di laman resmi OpenAI, sistem prediksi usia bekerja dengan membaca kombinasi berbagai sinyal perilaku serta data tingkat akun. Sinyal tersebut mencakup lamanya akun terdaftar, pola waktu penggunaan harian, kebiasaan interaksi dalam periode tertentu, hingga usia yang dicantumkan pengguna saat pendaftaran. Model ini dirancang untuk terus belajar dari data awal penerapan, sehingga tingkat ketepatannya dapat ditingkatkan secara bertahap.
Apabila sistem menilai seorang pengguna kemungkinan berusia di bawah 18 tahun, ChatGPT akan secara otomatis mengaktifkan lapisan perlindungan tambahan. Berdasarkan penjelasan di situs dukungan OpenAI, pembatasan diberlakukan pada konten sensitif, termasuk kekerasan grafis, tantangan viral berisiko, roleplay bernuansa seksual atau romantis, konten terkait menyakiti diri sendiri, serta narasi mengenai standar kecantikan yang ekstrem.
Meski demikian, OpenAI menegaskan bahwa pembatasan tersebut tidak dimaksudkan untuk membatasi akses remaja secara menyeluruh. Pengguna usia muda tetap dapat memanfaatkan ChatGPT untuk kegiatan belajar, eksplorasi ide, dan proses kreatif, dengan penanganan yang lebih berhati-hati pada topik-topik tertentu.
Bagi pengguna dewasa yang secara keliru ditempatkan dalam pengalaman remaja, OpenAI menyediakan mekanisme verifikasi usia melalui layanan pihak ketiga bernama Persona. Mengutip laporan beberapa media yang terbit sehari setelah pengumuman resmi, proses verifikasi dapat dilakukan dengan mengunggah foto selfie langsung atau dokumen identitas resmi, seperti paspor atau surat izin mengemudi.
OpenAI menegaskan bahwa perusahaan tidak menerima maupun menyimpan foto selfie atau dokumen identitas pengguna. Dalam proses ini, Persona hanya mengirimkan hasil verifikasi berupa tanggal lahir kepada OpenAI, sementara data biometrik akan dihapus dalam hitungan jam setelah verifikasi selesai dilakukan.
Peluncuran fitur prediksi usia ini berlangsung di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap perlindungan pengguna muda di industri kecerdasan buatan. Sejumlah laporan media, termasuk The Hill, mencatat bahwa OpenAI dan beberapa perusahaan chatbot AI lainnya tengah menghadapi gugatan hukum terkait dugaan dampak negatif layanan mereka terhadap kesehatan mental remaja.
Salah satu kasus yang menjadi sorotan melibatkan keluarga Adam Raine, remaja berusia 16 tahun, yang menggugat OpenAI pada Agustus 2025. Gugatan tersebut menuding bahwa ChatGPT turut berperan dalam mendorong anak mereka untuk mengakhiri hidupnya. Selain OpenAI, platform lain seperti Character.AI dan Google juga menghadapi tuntutan serupa, dan pada awal Januari 2026 dilaporkan telah mencapai kesepakatan prinsip dalam lima perkara.
OpenAI menyatakan bahwa fitur ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan perusahaan dalam memperkuat sistem keamanan bagi remaja. Langkah tersebut sebelumnya telah diawali dengan peluncuran Teen Safety Blueprint pada November 2025, serta pembaruan Model khusus pengguna di bawah 18 tahun pada Desember 2025.
Meski bertujuan memperkuat perlindungan bagi pengguna muda, kebijakan ini tetap memunculkan sejumlah pertanyaan. Alexis Hancock, Direktur Teknik di Electronic Frontier Foundation, dalam pernyataannya di kanal The Register menilai bahwa akurasi sistem prediksi usia masih perlu dipertimbangkan secara serius, terutama karena ChatGPT baru tersedia dalam kurun waktu sekitar 4 tahun. Menurutnya, rentang waktu tersebut relatif singkat untuk membangun model prediksi usia yang benar-benar matang dan konsisten.
Ia juga menyoroti konsekuensi yang muncul ketika sistem melakukan kesalahan klasifikasi. Dalam situasi tersebut, pengguna dewasa yang terdampak harus mengambil langkah tambahan untuk membuktikan usianya dengan menyerahkan data pribadi melalui proses verifikasi. Sementara itu, keputusan awal yang dihasilkan oleh model prediksi tidak menyediakan mekanisme bagi pengguna untuk mempertanyakan, meninjau ulang, atau mengajukan keberatan secara langsung terhadap penilaian sistem.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.