Ilustrasi beragam elemen musik (Foto: Freepik)

Indonesia Duduki Peringkat 8 Pasar Musik Terbesar Dunia di 2025

17 January 2026   |   11:00 WIB
Image
Muhammad Shohibul Izar Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Industri musik Indonesia mencatatkan pencapaian signifikan di kancah global. Berdasarkan data dari Luminate, perusahaan analitik musik dan entertainment terkemuka, Indonesia kini menempati posisi ke-8 sebagai pasar musik terbesar di dunia dengan total 178,9 miliar streaming sepanjang 2025.

Angka ini menempatkan Indonesia dalam jajaran negara-negara dengan konsumsi musik digital tertinggi, sekaligus menunjukkan pergeseran perilaku mendengarkan musik masyarakat yang kini didominasi oleh platform digital.

Baca juga: Ancaman Artificial Streaming Bayangi Ekosistem Musik Digital Indonesia

Capaian ini tidak lepas dari penetrasi internet dan adopsi platform streaming musik yang terus meningkat di Indonesia. Merujuk pada laporan We Are Social dan Meltwater di awal 2024, pengguna internet Indonesia mencapai 185,3 juta jiwa atau sekitar 66,5 persen dari total populasi.

Mayoritas dari mereka mengakses layanan streaming musik seperti Spotify, YouTube Music, Apple Music, dan platform lokal seperti Joox serta Langit Musik. Kemudahan akses, harga berlangganan yang terjangkau, hingga kehadiran paket bundling dari operator telekomunikasi turut mendorong lonjakan angka streaming.

Secara demografi, generasi muda menjadi kontributor utama dalam konsumsi musik digital. Dikutip dari data Spotify Wrapped dan berbagai riset industri, pendengar berusia 18 hingga 34 tahun mendominasi aktivitas streaming, dengan preferensi genre yang beragam mulai dari pop, hip-hop, EDM, hingga dangdut dan musik indie lokal.

Fenomena viralisasi lagu di media sosial seperti TikTok dan Instagram Reels juga berperan besar dalam mendongkrak angka streaming, di mana sebuah lagu bisa meledak popularitasnya dalam hitungan hari berkat algoritma dan user-generated content.

Laporan International Federation of the Phonographic Industry (IFPI) menunjukkan, pasar musik digital Asia Tenggara tumbuh pesat dengan Indonesia sebagai salah satu penggerak utamanya. Pertumbuhan ini membuka peluang bagi musisi lokal untuk menjangkau audiens lebih luas, baik domestik maupun internasional, sekaligus menarik perhatian label rekaman global untuk berinvestasi di ekosistem musik Tanah Air.

Namun, angka streaming yang tinggi tidak otomatis berbanding lurus dengan kesejahteraan musisi. Sistem royalti dari platform streaming seringkali masih menjadi perdebatan, mengingat pembagian pendapatan per stream yang relatif kecil. 

Merujuk pada diskusi di berbagai forum industri musik, musisi independen kerap mengeluhkan minimnya penghasilan dari streaming, sehingga mereka harus mengandalkan konser, merchandise, dan kolaborasi brand untuk menopang karier. Hal ini menjadi catatan penting bagi ekosistem musik Indonesia agar pertumbuhan industri dapat dinikmati secara merata oleh seluruh pemangku kepentingan dalam ekosistem musik nasional.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News
 

SEBELUMNYA

Inilah Kota-Kota Terbaik di Asia untuk Pecinta Kuliner

BERIKUTNYA

Film Ghost In The Cell Karya Joko Anwar Bakal Tayang di Berlinale 2026

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga