Studi Baru Pertanyakan Manfaat Intermittent Fasting Bagi Kesehatan
08 January 2026 |
08:25 WIB
Dalam beberapa tahun terakhir, intermittent fasting atau puasa berselang sering dipuji sebagai strategi diet efektif untuk menurunkan berat badan, meningkatkan kesehatan metabolik, dan bahkan meningkatkan umur panjang. Namun sebuah studi terbaru memunculkan pertanyaan serius tentang seberapa besar manfaat puasa ini benar-benar berlaku untuk semua orang.
Melansir dari ScienceAlert, para peneliti menemukan bahwa meskipun intermittent fasting dapat menawarkan beberapa efek positif, tidak semua klaim yang selama ini beredar didukung bukti kuat, dan dalam beberapa kasus metode ini bahkan bisa berdampak kurang ideal jika diaplikasikan secara besar besaran tanpa panduan profesional.
Baca juga: Mengenal Diet Karnivora yang Viral dan Kontroversial
Intermittent fasting umumnya melibatkan pembatasan waktu makan saja, misalnya makan hanya selama delapan jam dalam sehari dan berpuasa selama 16 jam sisanya. Variasi lain termasuk puasa hari bergantian atau puasa 24 jam beberapa kali dalam seminggu.
Pendukung pola makan ini sering mengklaim bahwa puasa membantu tubuh memaksimalkan penggunaan lemak sebagai sumber energi, memperbaiki sensitivitas insulin, dan memberi kesempatan bagi sistem tubuh untuk “membersihkan” sel sel lewat proses yang dikenal sebagai autophagy.
Namun temuan baru ini menunjukkan bahwa banyak penelitian yang mendukung manfaat puasa sementara sangat bergantung pada konteks spesifik atau populasi tertentu, dan belum cukup kuat untuk menjadikannya pendekatan tunggal bagi semua orang.
Studi ini juga menunjukkan bahwa ketika dibandingkan dengan pola makan sederhana yang seimbang serta kontrol kalori tanpa puasa ketat, berbagai manfaat yang diasosiasikan dengan intermittent fasting sering kali tidak jauh berbeda. Artinya, bukan puasa itu sendiri yang memberi manfaat besar, melainkan defisit kalori atau kebiasaan makan sehat secara keseluruhan yang bertindak sebagai faktor utama perubahan positif.
Para peneliti juga menyoroti bahaya potensial dari puasa ekstrem terutama bagi kelompok yang lebih rentan seperti remaja, wanita hamil atau menyusui, serta individu dengan riwayat gangguan makan.
Dalam kondisi puasa panjang, tubuh bisa mengalami stres tambahan yang memicu perubahan hormonal, gangguan tidur, atau bahkan penurunan berat badan yang tidak stabil jika tidak disesuaikan dengan gaya hidup dan kebutuhan individu. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan yang terlalu ketat sering kali lebih banyak menimbulkan efek samping daripada manfaat nyata.
Selain itu, studi itu juga menekankan bahwa dampak autophagy dan proses seluler lainnya yang sering disebut sebagai manfaat utama intermittent fasting masih sebagian besar dipahami lewat penelitian pada hewan atau kondisi laboratorium, bukan uji klinis besar pada manusia. Ini menunjukkan bahwa klaim tentang efek anti penuaan atau peningkatan fungsi kognitif melalui puasa masih perlu dibuktikan lebih komprehensif melalui studi jangka panjang pada populasi yang beragam.
Sementara itu, beberapa ahli gizi menyoroti bahwa aspek paling bermanfaat dari puasa mungkin bukan pada lamanya waktu tanpa makan, tetapi pada peningkatan kesadaran terhadap pola makan secara keseluruhan. Intermittent fasting sering kali membuat orang lebih berpikir tentang apa mereka makan dan kapan mereka makan, sehingga bisa mendorong pilihan makanan yang lebih sehat ketika “jendela makan” dibuka.
Namun ini kembali menunjukkan bahwa perubahan kebiasaan makan yang sehat secara keseluruhan lebih penting daripada fokus semata pada lamanya waktu puasa.
Hal menarik lain yang digarisbawahi dalam studi ini adalah respon individu terhadap puasa yang sangat bervariasi. Beberapa orang mungkin merasa lebih energik dan fokus selama jendela puasa, sementara yang lain justru mengalami penurunan mood, gangguan konsentrasi, atau nafsu makan berlebihan setelah periode puasa berakhir. Ini menggarisbawahi pentingnya pendekatan yang dipersonalisasi, bukan rekomendasi “satu ukuran untuk semua” ketika membahas strategi diet.
Melansir dari ScienceAlert, para peneliti menemukan bahwa meskipun intermittent fasting dapat menawarkan beberapa efek positif, tidak semua klaim yang selama ini beredar didukung bukti kuat, dan dalam beberapa kasus metode ini bahkan bisa berdampak kurang ideal jika diaplikasikan secara besar besaran tanpa panduan profesional.
Baca juga: Mengenal Diet Karnivora yang Viral dan Kontroversial
Intermittent fasting umumnya melibatkan pembatasan waktu makan saja, misalnya makan hanya selama delapan jam dalam sehari dan berpuasa selama 16 jam sisanya. Variasi lain termasuk puasa hari bergantian atau puasa 24 jam beberapa kali dalam seminggu.
Pendukung pola makan ini sering mengklaim bahwa puasa membantu tubuh memaksimalkan penggunaan lemak sebagai sumber energi, memperbaiki sensitivitas insulin, dan memberi kesempatan bagi sistem tubuh untuk “membersihkan” sel sel lewat proses yang dikenal sebagai autophagy.
Namun temuan baru ini menunjukkan bahwa banyak penelitian yang mendukung manfaat puasa sementara sangat bergantung pada konteks spesifik atau populasi tertentu, dan belum cukup kuat untuk menjadikannya pendekatan tunggal bagi semua orang.
Studi ini juga menunjukkan bahwa ketika dibandingkan dengan pola makan sederhana yang seimbang serta kontrol kalori tanpa puasa ketat, berbagai manfaat yang diasosiasikan dengan intermittent fasting sering kali tidak jauh berbeda. Artinya, bukan puasa itu sendiri yang memberi manfaat besar, melainkan defisit kalori atau kebiasaan makan sehat secara keseluruhan yang bertindak sebagai faktor utama perubahan positif.
Para peneliti juga menyoroti bahaya potensial dari puasa ekstrem terutama bagi kelompok yang lebih rentan seperti remaja, wanita hamil atau menyusui, serta individu dengan riwayat gangguan makan.
Dalam kondisi puasa panjang, tubuh bisa mengalami stres tambahan yang memicu perubahan hormonal, gangguan tidur, atau bahkan penurunan berat badan yang tidak stabil jika tidak disesuaikan dengan gaya hidup dan kebutuhan individu. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan yang terlalu ketat sering kali lebih banyak menimbulkan efek samping daripada manfaat nyata.
Selain itu, studi itu juga menekankan bahwa dampak autophagy dan proses seluler lainnya yang sering disebut sebagai manfaat utama intermittent fasting masih sebagian besar dipahami lewat penelitian pada hewan atau kondisi laboratorium, bukan uji klinis besar pada manusia. Ini menunjukkan bahwa klaim tentang efek anti penuaan atau peningkatan fungsi kognitif melalui puasa masih perlu dibuktikan lebih komprehensif melalui studi jangka panjang pada populasi yang beragam.
Sementara itu, beberapa ahli gizi menyoroti bahwa aspek paling bermanfaat dari puasa mungkin bukan pada lamanya waktu tanpa makan, tetapi pada peningkatan kesadaran terhadap pola makan secara keseluruhan. Intermittent fasting sering kali membuat orang lebih berpikir tentang apa mereka makan dan kapan mereka makan, sehingga bisa mendorong pilihan makanan yang lebih sehat ketika “jendela makan” dibuka.
Namun ini kembali menunjukkan bahwa perubahan kebiasaan makan yang sehat secara keseluruhan lebih penting daripada fokus semata pada lamanya waktu puasa.
Hal menarik lain yang digarisbawahi dalam studi ini adalah respon individu terhadap puasa yang sangat bervariasi. Beberapa orang mungkin merasa lebih energik dan fokus selama jendela puasa, sementara yang lain justru mengalami penurunan mood, gangguan konsentrasi, atau nafsu makan berlebihan setelah periode puasa berakhir. Ini menggarisbawahi pentingnya pendekatan yang dipersonalisasi, bukan rekomendasi “satu ukuran untuk semua” ketika membahas strategi diet.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.