Mengenal Fibermaxxing, Tren Konsumsi Serat yang Makin Populer
27 November 2025 |
12:00 WIB
Serat tengah naik daun sebagai elemen penting dalam menjaga kesehatan. Selain mendukung sistem pencernaan, serat berperan dalam menjaga kestabilan berat badan. Tren konsumsi serat tinggi ini populer di media sosial dengan istilah fibermaxxing.
Fibermaxxing adalah istilah populer untuk menyebut kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi serat dalam jumlah besar. Biasanya, tren ini dikaitkan dengan diet sehat, detox, atau gaya hidup 'clean eating'.
Dokter spesialis gizi klinis dari Mayapada Hospital Kuningan, Oki Yonatan Oentiono, mengatakan adanya tren atau ajakan peningkatan asupan serat pada dasarnya merupakan langkah baik, terutama karena sebagian besar masyarakat Indonesia justru kekurangan serat.
Baca juga: 5 Kiat Sehat Usus: Konsumsi Makanan Berserat dan Kelola Stres
Berdasarkan data Riskesdas misalnya, Oki menyebut rata-rata konsumsi serat orang Indonesia hanya sekitar 10–12 gram per hari. Padahal, kebutuhan idealnya dua kali lipat. Dari sisi niat, tren ini juga positif karena mendorong orang makan lebih banyak buah, sayur, biji-bijian, dan kacang-kacangan.
"Tren 'fibermaxxing' pada dasarnya positif jika dilakukan dengan bijak. Tapi, serat bukan “obat ajaib”. Keseimbangan tetap kunci," ungkapnya.
Dalam menyikapi tren ini, dokter Oki menjelaskan yang paling penting ialah menyesuaikan kebutuhan serat harian sesuai kebutuhan masing-masing. Mengacu pada Angka Kecukupan Gizi (AKG) 2019 Kementerian Kesehatan, laki-laki dewasa dianjurkan mengonsumsi sekitar 30–38 gram serat per hari, sedangkan perempuan dewasa memerlukan sekitar 25–32 gram per hari.
Dalam praktik sehari-hari, angka tersebut dapat dipenuhi melalui kombinasi beberapa sumber serat. Misalnya, satu porsi buah seperti apel sedang atau pisang besar mengandung sekitar 3–4 gram serat, sementara satu piring sayur tumis atau lalapan menyediakan sekitar 4–5 gram serat.
Lalu, satu mangkuk oatmeal menyumbang sekitar 4 gram serat. Dengan demikian, kebutuhan serat dapat tercapai dengan mengonsumsi setidaknya lima porsi sayur dan buah per hari, ditambah sumber karbohidrat kompleks seperti beras merah, oat, atau umbi. Tip mudahnya ialah dengan menyediakan sayur setidaknya setengah piring setiap kali makan.
Jika kebutuhan serat terpenuhi, kata dokter Oki, secara ilmiah, ini akan membawa manfaat kesehatan yang signifikan. Serat dapat menurunkan risiko penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan kanker usus besar. Selain itu, konsumsi serat membantu mengatur berat badan dengan meningkatkan rasa kenyang serta menstabilkan kadar gula darah, sekaligus menjaga kesehatan mikrobiota usus karena berfungsi sebagai prebiotik.
"Adapun klaim seperti ‘kulit lebih halus’ atau ‘mood lebih stabil’ sebenarnya didukung oleh manfaat tidak langsung. Kesehatan mikrobiota usus yang terjaga berkat asupan serat dapat memengaruhi gut–brain axis, yang berperan dalam regulasi suasana hati dan peradangan tubuh. Hanya saja, dampaknya tidak sebesar dan tidak sedramatis yang kerap digambarkan di media sosial," imbuhnya.
Akan tetapi, dokter Oki mengingatkan agar tren ini tidak membuat konsumsi serat secara berlebihan karena bisa mengakibatkan implikasi sebaliknya. Kelebihan serat bisa menimbulkan keluhan seperti perut kembung, sering buang gas, sakit perut, susah buang air besar, atau bahkan diare, tergantung jenis serat dan seberapa banyak kita minum.
Selain itu, serat yang terlalu tinggi juga bisa mengganggu penyerapan zat gizi penting seperti zat besi, kalsium, dan seng. Bahkan, bisa membuat berat badan turun terlalu banyak karena merasa cepat kenyang dan akhirnya makan terlalu sedikit.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Fibermaxxing adalah istilah populer untuk menyebut kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi serat dalam jumlah besar. Biasanya, tren ini dikaitkan dengan diet sehat, detox, atau gaya hidup 'clean eating'.
Dokter spesialis gizi klinis dari Mayapada Hospital Kuningan, Oki Yonatan Oentiono, mengatakan adanya tren atau ajakan peningkatan asupan serat pada dasarnya merupakan langkah baik, terutama karena sebagian besar masyarakat Indonesia justru kekurangan serat.
Baca juga: 5 Kiat Sehat Usus: Konsumsi Makanan Berserat dan Kelola Stres
Berdasarkan data Riskesdas misalnya, Oki menyebut rata-rata konsumsi serat orang Indonesia hanya sekitar 10–12 gram per hari. Padahal, kebutuhan idealnya dua kali lipat. Dari sisi niat, tren ini juga positif karena mendorong orang makan lebih banyak buah, sayur, biji-bijian, dan kacang-kacangan.
"Tren 'fibermaxxing' pada dasarnya positif jika dilakukan dengan bijak. Tapi, serat bukan “obat ajaib”. Keseimbangan tetap kunci," ungkapnya.
Dalam menyikapi tren ini, dokter Oki menjelaskan yang paling penting ialah menyesuaikan kebutuhan serat harian sesuai kebutuhan masing-masing. Mengacu pada Angka Kecukupan Gizi (AKG) 2019 Kementerian Kesehatan, laki-laki dewasa dianjurkan mengonsumsi sekitar 30–38 gram serat per hari, sedangkan perempuan dewasa memerlukan sekitar 25–32 gram per hari.
Dalam praktik sehari-hari, angka tersebut dapat dipenuhi melalui kombinasi beberapa sumber serat. Misalnya, satu porsi buah seperti apel sedang atau pisang besar mengandung sekitar 3–4 gram serat, sementara satu piring sayur tumis atau lalapan menyediakan sekitar 4–5 gram serat.
Lalu, satu mangkuk oatmeal menyumbang sekitar 4 gram serat. Dengan demikian, kebutuhan serat dapat tercapai dengan mengonsumsi setidaknya lima porsi sayur dan buah per hari, ditambah sumber karbohidrat kompleks seperti beras merah, oat, atau umbi. Tip mudahnya ialah dengan menyediakan sayur setidaknya setengah piring setiap kali makan.
Manfaat Serat
Jika kebutuhan serat terpenuhi, kata dokter Oki, secara ilmiah, ini akan membawa manfaat kesehatan yang signifikan. Serat dapat menurunkan risiko penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan kanker usus besar. Selain itu, konsumsi serat membantu mengatur berat badan dengan meningkatkan rasa kenyang serta menstabilkan kadar gula darah, sekaligus menjaga kesehatan mikrobiota usus karena berfungsi sebagai prebiotik."Adapun klaim seperti ‘kulit lebih halus’ atau ‘mood lebih stabil’ sebenarnya didukung oleh manfaat tidak langsung. Kesehatan mikrobiota usus yang terjaga berkat asupan serat dapat memengaruhi gut–brain axis, yang berperan dalam regulasi suasana hati dan peradangan tubuh. Hanya saja, dampaknya tidak sebesar dan tidak sedramatis yang kerap digambarkan di media sosial," imbuhnya.
Akan tetapi, dokter Oki mengingatkan agar tren ini tidak membuat konsumsi serat secara berlebihan karena bisa mengakibatkan implikasi sebaliknya. Kelebihan serat bisa menimbulkan keluhan seperti perut kembung, sering buang gas, sakit perut, susah buang air besar, atau bahkan diare, tergantung jenis serat dan seberapa banyak kita minum.
Selain itu, serat yang terlalu tinggi juga bisa mengganggu penyerapan zat gizi penting seperti zat besi, kalsium, dan seng. Bahkan, bisa membuat berat badan turun terlalu banyak karena merasa cepat kenyang dan akhirnya makan terlalu sedikit.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.