Profil Eddy Susanto, Seniman yang Membaca Timur–Barat Lewat Aksara
29 December 2025 |
14:43 WIB
Lukisan di atas kulit sapi itu menarik perhatian banyak orang. Pada bagian tepinya, bidang berbentuk lingkaran dipasangi lampu tembus cahaya yang menampilkan sosok perempuan memegang bejana sambil menoleh ke samping. Nuansa kehijauan yang menyelimutinya memberi daya pikat tersendiri.
Namun ketika diamati lebih dekat, lekuk garis dan sosok imaji tersebut ternyata tersusun dari rangkaian aksara Jawa yang ditorehkan dengan pena. Coretan-coretan itulah yang merangkai citra visual melalui teknik yang rinci, dengan ketelitian dan kecermatan tinggi.
Baca juga: Perupa Eddy Susanto Raih Penghargaan UOB Painting of the Year Indonesia 2025
Berjudul Kuasa dalam Setara, karya Eddy Susanto ini memenangkan ajang UOB Painting of the Year 2025, Indonesia. Terinspirasi dari ukiran Vanitas, karya Willem Isaacsz van Swanenburg (1580-1612), Eddy memadukan alegori visual Eropa dengan kosmologi Jawa.
Dibubuhi teks Rajah Kalacakra dan filsafat Jawa Serat Sastra Jendra Hayuningrat, lewat karya ini Eddy seolah ingin menyajikan lapisan sejarah, mitologi, dan spiritualitas, serta bagaimana kuasa membentuk pemahaman tentang peran manusia dalam setiap peradaban.
"Karya ini hadir di atas kulit lembu, yang merujuk pada figur Lembu Andini dalam kisah Sastra Jendra. Ini juga menjadi metafora tentang tubuh, pengorbanan, dan wahana pengetahuan," katanya.
Lewat karya tersebut, Eddy tidak sekadar meniru bentuk atau mengutip teks kuno. Lebih dari itu, tindakan menulis aksara ke dalam karya seni adalah bentuk penghormatan terhadap pengetahuan yang nyaris punah, termasuk mengaktualisasikannya dengan semangat zaman.
Sebagai seniman yang menggandrungi sejarah, Eddy memang kerap menciptakan karya dengan metode berlapis, berdasarkan penelitian mendalam, bahkan hampir ilmiah, dalam ruang budaya antara Timur dan Barat. Namun riset tersebut tidak menenggelamkan metode artistiknya.
Baginya, seni adalah ruang perjumpaan di mana orientalisme, atau cara pandang Barat terhadap Timur, dan oksidentalisme, cara Timur memandang Barat, dapat berdialog secara setara. Melalui karya-karyanya, Eddy mengajak penonton menafsir ulang hubungan keduanya tanpa rasa superioritas.
“Dalam sejarah Barat, konsep kuasa sering dihubungkan dengan akal dan logika. Tapi dalam kosmologi Jawa, kuasa itu berlapis, ada tubuh, jiwa, dan semesta,” katanya. Dari sinilah dia mencoba menjembatani dua pengertian yang tampak berlawanan, tetapi sejatinya saling berkelindan.
Bagi Eddy, riset bukan sekadar pengumpulan data, melainkan cara memahami struktur berpikir suatu zaman. Dia kerap bekerja sama dengan akademisi sejarah dan filologi dari berbagai universitas. Lewat cara inilah Eddy membangun paralelisme antara Timur dan Barat.
Kendati berbasis riset, karya seninya bukan tentang menemukan kebenaran, melainkan membuka ruang tafsir. Berbeda dengan sains yang bekerja dengan kepastian, menurut Eddy, seni justru merayakan kemungkinan. Dalam ruang kemungkinan itulah seseorang bisa membebaskan cara pandang terhadap sejarah dan manusia.
“Saya tidak ingin berhenti di visualisasi. Saya ingin tahu konteks, akar, dan semangat zaman dari teks-teks itu,” ujarnya.
Eddy merupakan perupa jebolan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, jurusan Desain Komunikasi Visual, pada 1996. Latar belakang inilah yang menjadi fondasi bagi cara berpikir visualnya, memahami bagaimana teks, huruf, dan font dapat menjadi imaji yang kuat.
Memulai karier sebagai desainer grafis dan perancang sampul buku, Eddy terbiasa dengan keteraturan bentuk, keseimbangan komposisi, dan struktur yang sistematis. Ketika beralih ke seni rupa, logika itu tidak ditinggalkan, melainkan dibawa sebagai disiplin penciptaan.
Namun berbeda dengan dunia desain yang serba cepat dan efisien, di seni rupa dia justru menemukan ruang untuk melambat. Proses menulis aksara di atas kanvas disebut sebagai laku ketekunan yang mendekati meditasi. “Saya tidak bisa menekan Ctrl+Z seperti di komputer,” ujarnya sambil tersenyum.
Proses ini bisa memakan waktu berbulan-bulan. Dia menulis huruf demi huruf dengan tinta khusus, memastikan setiap goresan dapat dibaca dan tetap membentuk citra visual. Bagi Eddy, yang terpenting bukan hanya hasil akhirnya, tetapi perjalanan batin selama proses itu berlangsung.
Dia mengungkapkan, karya-karyanya juga bukan sekadar lukisan, melainkan arsip pengetahuan. Eddy menamainya knowledge art, seni yang berakar pada riset sejarah dan filsafat. Setiap proyek baru selalu dimulai dari riset panjang, melibatkan naskah kuno, teks Jawa, hingga manuskrip Eropa.
Salah satu contoh riset tersebut tampak dalam seri Java Dürer. Di sini, Eddy mengaitkan karya seniman Renaisans Jerman Albrecht Dürer dengan lukisan bertajuk Rhinoceros. Kala itu, Dürer melukis hewan ini berdasarkan deskripsi tertulis seekor badak yang dikirim Raja Manuel I dari Portugal untuk Paus Leo X.
“Bayangkan, Dürer membuat gambar badak tanpa pernah melihat aslinya. Tapi gambar itu menjadi ikon di Eropa selama berabad-abad. Bagi saya, itu semacam pertemuan energi antara Barat dan Timur,” jelasnya. Dari titik ini, Eddy mulai merumuskan gagasan Oksidentalisme, yakni cara Timur memandang Barat.
Konsep itu menjadi fondasi bagi banyak karya berikutnya. Jika selama ini Barat selalu menjadi subjek yang memandang, maka Eddy berusaha membalik posisi itu. Dia menjadikan Barat sebagai objek refleksi, lalu melihat bagaimana Timur bisa berdialog tanpa rasa inferior.
Melalui pendekatan ini, karya-karyanya menjadi semacam cermin. Penonton tak hanya diajak mengagumi bentuk visualnya, tetapi juga merenungkan bagaimana narasi sejarah dibentuk dan siapa yang menulisnya. Eddy ingin menunjukkan bahwa setiap peradaban memiliki cara sendiri dalam membangun pengetahuan.
Setiap karya yang dibuat juga menjadi percakapan lintas waktu. Di balik setiap aksara yang dia tulis, tersimpan niat untuk menghidupkan kembali pengetahuan yang pernah ada. Dia menyebutnya sebagai cara menulis waktu dari masa lalu agar bisa berbicara pada masa depan.
Kini, setelah lebih dari satu dekade berkarya, Eddy dikenal sebagai salah satu seniman konseptual paling serius di Indonesia. Karyanya telah dipamerkan di berbagai negara, namun dia tetap tidak gila panggung. Bahkan saat memenangkan ajang UOB, dia menolak untuk ikut residensi ke Singapura.
“Sejak awal saya memang menolak konsep residensi. Sekarang ini banyak yang menjadikannya semacam study tour saja, pergi ke berbagai tempat tanpa jelas apa yang dipelajari. Padahal seharusnya residensi itu ruang studi dan refleksi, bukan sekadar perjalanan,” katanya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Namun ketika diamati lebih dekat, lekuk garis dan sosok imaji tersebut ternyata tersusun dari rangkaian aksara Jawa yang ditorehkan dengan pena. Coretan-coretan itulah yang merangkai citra visual melalui teknik yang rinci, dengan ketelitian dan kecermatan tinggi.
Baca juga: Perupa Eddy Susanto Raih Penghargaan UOB Painting of the Year Indonesia 2025
Berjudul Kuasa dalam Setara, karya Eddy Susanto ini memenangkan ajang UOB Painting of the Year 2025, Indonesia. Terinspirasi dari ukiran Vanitas, karya Willem Isaacsz van Swanenburg (1580-1612), Eddy memadukan alegori visual Eropa dengan kosmologi Jawa.
Dibubuhi teks Rajah Kalacakra dan filsafat Jawa Serat Sastra Jendra Hayuningrat, lewat karya ini Eddy seolah ingin menyajikan lapisan sejarah, mitologi, dan spiritualitas, serta bagaimana kuasa membentuk pemahaman tentang peran manusia dalam setiap peradaban.
"Karya ini hadir di atas kulit lembu, yang merujuk pada figur Lembu Andini dalam kisah Sastra Jendra. Ini juga menjadi metafora tentang tubuh, pengorbanan, dan wahana pengetahuan," katanya.
Lewat karya tersebut, Eddy tidak sekadar meniru bentuk atau mengutip teks kuno. Lebih dari itu, tindakan menulis aksara ke dalam karya seni adalah bentuk penghormatan terhadap pengetahuan yang nyaris punah, termasuk mengaktualisasikannya dengan semangat zaman.
Sebagai seniman yang menggandrungi sejarah, Eddy memang kerap menciptakan karya dengan metode berlapis, berdasarkan penelitian mendalam, bahkan hampir ilmiah, dalam ruang budaya antara Timur dan Barat. Namun riset tersebut tidak menenggelamkan metode artistiknya.
Baginya, seni adalah ruang perjumpaan di mana orientalisme, atau cara pandang Barat terhadap Timur, dan oksidentalisme, cara Timur memandang Barat, dapat berdialog secara setara. Melalui karya-karyanya, Eddy mengajak penonton menafsir ulang hubungan keduanya tanpa rasa superioritas.
“Dalam sejarah Barat, konsep kuasa sering dihubungkan dengan akal dan logika. Tapi dalam kosmologi Jawa, kuasa itu berlapis, ada tubuh, jiwa, dan semesta,” katanya. Dari sinilah dia mencoba menjembatani dua pengertian yang tampak berlawanan, tetapi sejatinya saling berkelindan.
Bagi Eddy, riset bukan sekadar pengumpulan data, melainkan cara memahami struktur berpikir suatu zaman. Dia kerap bekerja sama dengan akademisi sejarah dan filologi dari berbagai universitas. Lewat cara inilah Eddy membangun paralelisme antara Timur dan Barat.
Kendati berbasis riset, karya seninya bukan tentang menemukan kebenaran, melainkan membuka ruang tafsir. Berbeda dengan sains yang bekerja dengan kepastian, menurut Eddy, seni justru merayakan kemungkinan. Dalam ruang kemungkinan itulah seseorang bisa membebaskan cara pandang terhadap sejarah dan manusia.
“Saya tidak ingin berhenti di visualisasi. Saya ingin tahu konteks, akar, dan semangat zaman dari teks-teks itu,” ujarnya.
Berangkat dari Grafis
Eddy merupakan perupa jebolan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, jurusan Desain Komunikasi Visual, pada 1996. Latar belakang inilah yang menjadi fondasi bagi cara berpikir visualnya, memahami bagaimana teks, huruf, dan font dapat menjadi imaji yang kuat.Memulai karier sebagai desainer grafis dan perancang sampul buku, Eddy terbiasa dengan keteraturan bentuk, keseimbangan komposisi, dan struktur yang sistematis. Ketika beralih ke seni rupa, logika itu tidak ditinggalkan, melainkan dibawa sebagai disiplin penciptaan.
Namun berbeda dengan dunia desain yang serba cepat dan efisien, di seni rupa dia justru menemukan ruang untuk melambat. Proses menulis aksara di atas kanvas disebut sebagai laku ketekunan yang mendekati meditasi. “Saya tidak bisa menekan Ctrl+Z seperti di komputer,” ujarnya sambil tersenyum.
Proses ini bisa memakan waktu berbulan-bulan. Dia menulis huruf demi huruf dengan tinta khusus, memastikan setiap goresan dapat dibaca dan tetap membentuk citra visual. Bagi Eddy, yang terpenting bukan hanya hasil akhirnya, tetapi perjalanan batin selama proses itu berlangsung.
Dia mengungkapkan, karya-karyanya juga bukan sekadar lukisan, melainkan arsip pengetahuan. Eddy menamainya knowledge art, seni yang berakar pada riset sejarah dan filsafat. Setiap proyek baru selalu dimulai dari riset panjang, melibatkan naskah kuno, teks Jawa, hingga manuskrip Eropa.
Salah satu contoh riset tersebut tampak dalam seri Java Dürer. Di sini, Eddy mengaitkan karya seniman Renaisans Jerman Albrecht Dürer dengan lukisan bertajuk Rhinoceros. Kala itu, Dürer melukis hewan ini berdasarkan deskripsi tertulis seekor badak yang dikirim Raja Manuel I dari Portugal untuk Paus Leo X.
“Bayangkan, Dürer membuat gambar badak tanpa pernah melihat aslinya. Tapi gambar itu menjadi ikon di Eropa selama berabad-abad. Bagi saya, itu semacam pertemuan energi antara Barat dan Timur,” jelasnya. Dari titik ini, Eddy mulai merumuskan gagasan Oksidentalisme, yakni cara Timur memandang Barat.
Konsep itu menjadi fondasi bagi banyak karya berikutnya. Jika selama ini Barat selalu menjadi subjek yang memandang, maka Eddy berusaha membalik posisi itu. Dia menjadikan Barat sebagai objek refleksi, lalu melihat bagaimana Timur bisa berdialog tanpa rasa inferior.
Melalui pendekatan ini, karya-karyanya menjadi semacam cermin. Penonton tak hanya diajak mengagumi bentuk visualnya, tetapi juga merenungkan bagaimana narasi sejarah dibentuk dan siapa yang menulisnya. Eddy ingin menunjukkan bahwa setiap peradaban memiliki cara sendiri dalam membangun pengetahuan.
Setiap karya yang dibuat juga menjadi percakapan lintas waktu. Di balik setiap aksara yang dia tulis, tersimpan niat untuk menghidupkan kembali pengetahuan yang pernah ada. Dia menyebutnya sebagai cara menulis waktu dari masa lalu agar bisa berbicara pada masa depan.
Kini, setelah lebih dari satu dekade berkarya, Eddy dikenal sebagai salah satu seniman konseptual paling serius di Indonesia. Karyanya telah dipamerkan di berbagai negara, namun dia tetap tidak gila panggung. Bahkan saat memenangkan ajang UOB, dia menolak untuk ikut residensi ke Singapura.
“Sejak awal saya memang menolak konsep residensi. Sekarang ini banyak yang menjadikannya semacam study tour saja, pergi ke berbagai tempat tanpa jelas apa yang dipelajari. Padahal seharusnya residensi itu ruang studi dan refleksi, bukan sekadar perjalanan,” katanya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.