Desa Wisata Nagari Adat Sijunjung. (Sumber gambar: wonderfulimages.kemenparekraf.go.id)

Pariwisata Nasional Geser Arah ke Quality Tourism, Industri Ikut Berbenah

27 December 2025   |   17:38 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Pariwisata Indonesia memasuki babak baru. Setelah bertahun-tahun berfokus pada angka kedatangan wisatawan, Indonesia mulai menggeser arah menuju quality tourism, pariwisata yang menempatkan kualitas, keberlanjutan, dan kesejahteraan masyarakat sebagai pusat perhatian.

Asisten Deputi Manajemen Strategis Kementerian Papriwisata, I Gusti Ayu Dewi Hendriyani, mengatakan pembangunan pariwisata ke depan perlu diarahkan pada pendekatan yang lebih berkualitas, berkelanjutan, dan inklusif agar mampu menjawab tantangan lingkungan, sosial budaya, serta memberikan manfaat ekonomi yang lebih merata bagi masyarakat.

Baca juga: Planetarium Jakarta Kembali Dibuka, Cek Harga dan Cara Beli Tiketnya

Tidak dimaknai sebagai pariwisata kelas atas atau mahal. "Pendekatan ini menekankan kualitas pengalaman wisatawan, kualitas destinasi dan tata kelolanya, kualitas sumber daya manusia dan layanan, serta kualitas dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan yang dihasilkan," jelasnya, beberapa waktu lalu.

Bagi industri, perubahan arah ini bukan hal baru. Asosiasi Agen Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) menjadi salah satu yang paling cepat menyesuaikan diri dengan paradigma tersebut. 

Ketua Umum Asita, Rusmiati, menyebut bahwa asosiasi kini tak lagi berbicara tentang kuantitas turis, melainkan kualitas perjalanan. Bagi mereka, pariwisata yang baik adalah yang memberi rasa aman, legalitas yang jelas, standar pelayanan tinggi, dan nilai tambah bagi wisatawan maupun masyarakat lokal.

"Kami sepakat bahawa pariwisata ke depan tidak lagi hanya berbicara soal kunjungan, tetapi kualitas pengalaman, wisatawan, dampak ekonomi, serta keberlanjutan lingkungan dan budaya," tuturnya kepada Hypeabis.id, beberapa waktu lalu.

Banyak anggota ASITA yang kini mulai merancang perjalanan tematik, wisata berbasis budaya, edukasi, hingga wellness tourism dan kunjungan ke desa wisata. Mereka bukan sekadar menjual tiket atau akomodasi, melainkan pengalaman yang meninggalkan kesan mendalam.

Perubahan ini juga tampak dalam program-program yang mereka jalankan. ASITA Travel Mart misalnya, kini tidak lagi fokus pada destinasi yang ramai dikunjungi, tetapi pada daerah yang menawarkan keaslian dan ketenangan. 

Dalam setiap kampanye, narasi tentang wisata aman dan bertanggung jawab selalu hadir, menandai komitmen asosiasi terhadap keberlanjutan dan etika perjalanan. Di berbagai pelatihan digital yang digelar, agen-agen perjalanan didorong untuk menjadi pemandu yang tak hanya pandai memasarkan, tetapi juga memahami nilai-nilai keberlanjutan dan pelayanan premium. 

Sementara di media sosial, unggahan tentang etika wisata, konservasi alam, hingga kisah-kisah desa wisata mulai menggantikan promosi destinasi populer. Di lapangan, perubahan arah ini mulai terlihat. 

Bali kini memantapkan diri sebagai destinasi wellness tourism, tempat orang datang untuk menyembuhkan tubuh dan jiwa, bukan sekadar berlibur. Lombok bertransformasi menjadi laboratorium eco-tourism dengan desa wisata yang menghidupi masyarakat setempat. 

Labuan Bajo memberlakukan pembatasan jumlah pengunjung untuk melindungi habitat komodo dan ekosistem lautnya. Yogyakarta, dengan semangat kreatifnya, terus menumbuhkan wisata berbasis edukasi dan budaya, sementara Danau Toba, Belitung, Raja Ampat, dan Tana Toraja menjadi contoh bagaimana wisata alam dapat berjalan berdampingan dengan pelestarian lingkungan.

Di balik semua itu, Asita daerah ikut aktif menjaga arah baru ini agar pariwisata tidak kembali jatuh pada jebakan wisata massal yang merusak. “Kami tidak ingin ramai tapi rapuh. Lebih baik sedikit, tapi memberi nilai yang dalam,” tutur Rusmiati

Paradigma baru ini ternyata tidak mengurangi potensi ekonomi, justru memperkuatnya. Wisatawan yang mencari kualitas umumnya tinggal lebih lama, berbelanja lebih banyak, dan menghargai budaya lokal. Mereka bukan hanya turis, tapi penjelajah yang ingin memahami tempat yang mereka datangi.

Efeknya pun berantai, margin usaha meningkat, UMKM lokal terlibat dalam rantai nilai, dan lapangan kerja baru tercipta tanpa harus mengorbankan lingkungan. Di sisi lain, kesadaran para pelaku usaha terhadap standar layanan dan etika bisnis semakin tinggi.

“Quality tourism itu win-win. Lingkungan terjaga, ekonomi tumbuh, wisatawan pun pulang dengan pengalaman yang bermakna,” sebut Rusmiati.

Meski arah baru ini sudah jelas, tantangan di lapangan masih besar. Dia menyebut biaya transportasi antarwilayah masih tinggi, infrastruktur belum merata, dan kapasitas sumber daya manusia di sektor wisata masih perlu ditingkatkan. 

Asita juga menyoroti pentingnya regulasi yang melindungi pelaku usaha resmi dari praktik ilegal yang mencederai citra pariwisata nasional. Selain itu, promosi destinasi juga perlu diarahkan dengan lebih cermat, bukan lagi menonjolkan keramaian, tetapi pengalaman, keaslian, dan kenyamanan. 

"Dengan dukungan pemerintah dan kerja sama antar indistri, quality tourism tidak hanya menjadi slogan, tetapi menjadi wajah baru pariwisata," sebut Rusmiati.

Di sisi permintaan, tren wisatawan global juga menunjukkan perubahan arah yang serupa. Rusmiati mengampaikan kini, banyak pelancong yang lebih memilih perjalanan tenang dan privat ketimbang tur massal. 

Mereka ingin tinggal lebih lama, belajar lebih banyak, dan memberi dampak lebih besar bagi tempat yang mereka kunjungi. "Tantangan kita adalah mengedukasi wisatawan bahwa wisata berkualitas memberikan pengalaman yang jauh lebih baik dan memberikan manfaat lebih besar bagi daerah," tuturnya.

Baca juga:  Kolaborasi Kreatif UMKM Dorong Ekonomi Desa Wisata

SEBELUMNYA

Gen Z Harus Melek Ekonomi, Cek Gambaran Makro 2026 Menurut Riset Terbaru

BERIKUTNYA

6 Destinasi Wisata Arab Saudi di Musim Dingin, Pesona Riyadh sampai Laut Merah

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga